Lewati ke konten utama
Home About Us Redaksi Kirim Berita Media Kit
Pedoman
Kebijakan Cookie Pedoman Media Siber Publikasi Media Online Jasa Backlink Jasa Guest Post Penulisan Artikel Pembuatan Website Pedoman AI
ID | EN

Masuk / Gabung

Jelajahi

Beranda Internasional Nasional Daerah Featured Opini Pendidikan
More
Profil Advertorial Bisnis Press Release Essay English Version Ekonomi
Informasi
About Us Redaksi Kirim Berita Media Kit
Pedoman
Kebijakan Cookie Pedoman Media Siber Pedoman AI
Masuk / Gabung
Ikuti kami
EN ARTIKEL
Beranda Internasional Nasional Daerah Featured Opini Pendidikan
More
Profil Advertorial Bisnis Press Release Essay English Version Ekonomi

Terbaru

  1. Pernah Mencari “Sakit Kepala Sebelah” di Google, Lalu Takut Umur Tinggal Setahun?

  2. Kepemimpinan Bukan Sekadar Janji Besar, Rakyat Menunggu Hasil Nyata dari Pemerintah

  3. UI Dorong Limbah Plastik Jadi Produk Bernilai Ekonomi di Desa Tembok Bali

  4. Aset Publik Bukan Milik Pribadi: Memahami Aturan Hukum Pengelolaan Barang Milik Negara dan Daerah

  5. Ketika Negara Gagal Menjaga Napas Warganya

  1. Beranda
  2. Artikel
  3. Di Balik Jas Putih: Kesehatan Mental Mahasiswa Kesehatan yang Sering Terabaikan

Di Balik Jas Putih: Kesehatan Mental Mahasiswa Kesehatan yang Sering Terabaikan

A
Penulis: Annisa Nur Maharani | Mahasiswa Program Studi S1 Keperawatan, Universitas Airlangga
16 Oktober 2026, 09.57 WITA Editor: Danang Purnama
6 menit baca
Tired Nursing Student Studying at Desk
lustrasi mahasiswa keperawatan mengalami kelelahan dan tekanan akademik saat belajar. Kesehatan mental menjadi aspek penting yang perlu diperhatikan selama menjalani pendidikan di bidang kesehatan. Sumber: Ilustrasi AI/JurnalPost.com.

JurnalPost.com - Menjadi mahasiswa di bidang kesehatan bukanlah perkara mudah. Di balik jas putih, seragam praktikum, dan cita-cita untuk membantu orang lain, terdapat tanggung jawab akademik yang besar serta tuntutan untuk terus belajar dan berkembang.

Mahasiswa kesehatan, termasuk mahasiswa keperawatan, tidak hanya dituntut memahami teori, tetapi juga harus menguasai keterampilan praktis, menjaga sikap profesional, dan mempersiapkan diri untuk menghadapi berbagai kondisi pasien. Namun, di tengah tuntutan tersebut, muncul satu pertanyaan penting: siapa yang memperhatikan kesehatan mental mereka?

IKLAN

Kesehatan mental merupakan bagian penting dari kesejahteraan seseorang yang memengaruhi cara berpikir, mengelola emosi, dan menghadapi tekanan. Sayangnya, persoalan ini masih sering dianggap sebagai sesuatu yang dapat diselesaikan hanya dengan memperkuat niat atau meningkatkan kedisiplinan.

Late Night Health Search Anxiety
Baca Juga

Pernah Mencari “Sakit Kepala Sebelah” di Google, Lalu Takut Umur Tinggal Setahun?

Padahal, tekanan yang dihadapi mahasiswa kesehatan tidak selalu sederhana. Jika berlangsung terus-menerus tanpa dukungan yang memadai, kondisi tersebut dapat memengaruhi kehidupan akademik, hubungan sosial, hingga keseharian mereka.

Tuntutan Akademik yang Tidak Ringan

Mahasiswa kesehatan menghadapi berbagai tantangan, mulai dari jadwal perkuliahan yang padat, materi pembelajaran yang kompleks, tugas kelompok, ujian, hingga praktikum laboratorium.

Bagi mahasiswa keperawatan, tantangan tersebut dapat bertambah ketika memasuki praktik klinik. Mereka harus belajar memberikan pelayanan yang aman, memahami kebutuhan pasien, serta membangun komunikasi yang tepat dengan pasien dan keluarganya.

Dalam proses tersebut, mahasiswa mungkin merasa takut melakukan kesalahan, khawatir memperoleh hasil yang tidak sesuai harapan, atau bahkan mulai meragukan kemampuan dirinya sendiri. Tekanan juga dapat muncul ketika mereka membandingkan pencapaian akademik dengan teman sebaya.

dok penulis
Baca Juga

Penelitian di Cilacap Ungkap 93,94 Persen Pasien Gangguan Jiwa Patuh Minum Obat, Dukungan Keluarga Jadi Perhatian

Akibatnya, sebagian mahasiswa merasa harus selalu mampu, produktif, dan berhasil dalam setiap keadaan. Kegagalan kecil pun terkadang dianggap sebagai sesuatu yang memalukan, padahal kesalahan dan proses belajar merupakan bagian dari perjalanan pendidikan.

Menurut saya, persoalan ini perlu mendapat perhatian karena keberhasilan akademik tidak seharusnya dicapai dengan mengabaikan kesejahteraan mental mahasiswa.

Pendidikan kesehatan memang membutuhkan kedisiplinan dan tanggung jawab yang tinggi. Namun, tuntutan tersebut perlu diimbangi dengan lingkungan belajar yang mendukung, bukan justru menormalisasi tekanan berlebihan sebagai sesuatu yang harus diterima begitu saja.

Ironi Mahasiswa yang Belajar Merawat Orang Lain

Ada sebuah ironi dalam pendidikan kesehatan. Mahasiswa mempelajari cara menjaga kesehatan, mencegah penyakit, dan memberikan perawatan kepada orang lain. Mereka juga diajarkan bahwa pasien perlu diperlakukan secara menyeluruh, termasuk dengan memperhatikan kondisi psikologisnya.

hustle culture pandangan sartre byung chul han
Baca Juga

Capek Kok Dibanggakan? Membaca Hustle Culture dalam Kacamata Sartre dan Han

Akan tetapi, ketika menghadapi masalah pribadi, sebagian mahasiswa justru kesulitan memberikan perhatian yang sama kepada dirinya sendiri.

Sebagian merasa harus selalu terlihat kuat dan enggan menceritakan kesulitannya karena takut dianggap tidak mampu. Ada pula yang memilih memendam masalah dengan alasan bahwa orang lain juga menghadapi tekanan serupa.

Padahal, mengalami stres, kecemasan, atau kelelahan emosional bukan berarti seseorang tidak layak menjadi tenaga kesehatan. Kondisi tersebut justru menunjukkan bahwa mahasiswa kesehatan juga manusia yang memiliki keterbatasan dan membutuhkan dukungan.

Organisasi Kesehatan Dunia atau World Health Organization (WHO), melalui laporan World Mental Health Report (2022), menekankan pentingnya upaya bersama untuk melindungi dan meningkatkan kesehatan mental.

Pesan ini mengingatkan kita bahwa menjaga kesehatan mental bukan semata-mata tanggung jawab individu, melainkan juga membutuhkan dukungan lingkungan sosial, institusi pendidikan, dan sistem yang lebih luas.

Produktif Bukan Berarti Harus Selalu Sibuk

Selain tuntutan akademik, mahasiswa juga menghadapi dorongan untuk aktif dalam organisasi, mengikuti kompetisi, serta mengembangkan berbagai keterampilan di luar perkuliahan.

Kegiatan tersebut tentu dapat memberikan pengalaman berharga. Namun, persoalan muncul ketika kesibukan dianggap sebagai ukuran utama keberhasilan seseorang.

IKLAN

Tidak jarang mahasiswa merasa bersalah ketika beristirahat karena menganggap waktu luang seharusnya digunakan untuk melakukan sesuatu yang produktif. Akibatnya, istirahat yang sebenarnya dibutuhkan justru dipandang sebagai bentuk kemalasan.

Media sosial juga dapat memperkuat kebiasaan membandingkan diri dengan orang lain. Ketika melihat teman memperoleh prestasi, mengikuti banyak kegiatan, atau mencapai berbagai pencapaian akademik, seseorang mungkin merasa tertinggal meskipun sebenarnya telah berusaha semaksimal mungkin.

Menurut saya, produktivitas seharusnya tidak hanya diukur dari seberapa banyak kegiatan yang dilakukan, tetapi juga dari kemampuan seseorang menjalankan tanggung jawab secara seimbang.

Istirahat bukanlah bentuk kemalasan, sebagaimana meminta bantuan bukanlah tanda kelemahan. Mahasiswa perlu memahami bahwa menjaga kesehatan mental merupakan bagian dari proses belajar dan pengembangan diri, bukan penghalang untuk meraih prestasi.

Kampus dan Mahasiswa Harus Saling Mendukung

Upaya menjaga kesehatan mental mahasiswa tidak cukup hanya dengan mengajak mereka berpikir positif atau mengatur waktu dengan lebih baik.

Perguruan tinggi juga memiliki tanggung jawab untuk menciptakan lingkungan belajar yang sehat, aman, dan mendukung kesejahteraan mahasiswa.

Salah satu langkah yang dapat dilakukan adalah menyediakan layanan konseling yang mudah diakses, menjaga kerahasiaan mahasiswa, serta memastikan bahwa mereka tidak mendapatkan stigma ketika mencari bantuan psikologis.

Dosen dan tenaga pendidik juga perlu membangun komunikasi yang terbuka serta memberikan pendampingan secara manusiawi. Tuntutan akademik tetap penting untuk menjaga kualitas pendidikan, tetapi mahasiswa juga perlu memperoleh ruang untuk menyampaikan kesulitan yang mereka alami.

Sementara itu, organisasi kemahasiswaan dapat berkontribusi melalui kegiatan edukasi kesehatan mental, diskusi terbuka, serta membangun budaya saling mendukung di lingkungan kampus.

Di sisi lain, mahasiswa juga perlu berperan aktif dalam menjaga kesejahteraan dirinya. Langkah sederhana seperti mengenali batas kemampuan, mengatur waktu, menjaga pola tidur, dan menyediakan waktu untuk beristirahat dapat menjadi bagian dari upaya menjaga kesehatan mental.

Ketika tekanan mulai mengganggu aktivitas sehari-hari, mahasiswa tidak perlu ragu mencari bantuan dari orang yang dipercaya, layanan konseling kampus, atau tenaga profesional.

Dukungan yang tepat dapat membantu mahasiswa menghadapi kesulitan tanpa harus merasa bahwa mereka sedang berjuang sendirian.

Merawat Diri Sebelum Merawat Orang Lain

Pada akhirnya, mahasiswa kesehatan sedang mempersiapkan diri untuk menjalankan profesi yang menuntut pengetahuan, keterampilan, empati, dan tanggung jawab besar.

Namun, proses menjadi tenaga kesehatan yang kompeten tidak seharusnya mengharuskan seseorang mengabaikan kebutuhan dirinya sendiri.

Bagi mahasiswa keperawatan, kemampuan memahami kondisi pasien perlu berjalan beriringan dengan kesadaran untuk menjaga kesehatan diri, baik secara fisik maupun mental.

Hal ini bukan berarti seseorang harus selalu berada dalam kondisi sempurna sebelum mampu merawat orang lain. Sebaliknya, mahasiswa perlu belajar memahami batas kemampuannya, mengenali ketika dirinya membutuhkan dukungan, dan berani mencari bantuan tanpa merasa malu.

Kesehatan mental mahasiswa kesehatan sudah seharusnya menjadi perhatian bersama. Kita tidak hanya membutuhkan calon tenaga kesehatan yang cerdas, terampil, dan mampu menjalankan tugas secara profesional, tetapi juga lingkungan pendidikan yang membantu mereka berkembang secara menyeluruh.

Sebab, sebelum belajar merawat orang lain, mahasiswa kesehatan juga perlu memahami satu hal yang sering terlupakan: dirinya sendiri layak mendapatkan perhatian, dukungan, dan perawatan.

ENGLISH VERSION Artikel tersedia dalam Bahasa Inggris
Read in English →

Sumber artikel: https://jurnalpost.kolomopini.com/di-balik-jas-putih-kesehatan-mental-mahasiswa-kesehatan-yang-sering-terabaikan/98214/

Dicetak dari JurnalPost.com pada 04 November 2026, 00.23 WITA

  • #Kesehatan Mental
  • #kampus sehat
  • #kesejahteraan mental
  • #mahasiswa keperawatan
  • #mahasiswa kesehatan
  • #psikologi mahasiswa
  • #stres akademik

Bagikan artikel

Bagikan Mengirim Tweet
JURNALPOST SOCIAL PUBLISHER

Posting ke Instagram

Menyiapkan 5 slide Reel 9:16…

Rangkaian slide vertikal sedang disusun dari artikel ini.

Konten belum dapat disiapkan.

Silakan coba kembali.

Pratinjau slide Instagram JurnalPost 1/5
REEL 9:16 · 5 SLIDE

Konten JurnalPost

Lima slide vertikal sudah disusun dalam area aman Reels. Tambahkan musik pilihan Anda setelah masuk ke Instagram.

Menyiapkan lima file gambar 9:16…

Di menu Instagram, pilih Reel, pertahankan urutan 1–5, lalu tambahkan musik yang tersedia di Instagram.

JURNALPOST SOCIAL PUBLISHER

Posting ke TikTok

Menyiapkan 5 slide TikTok 9:16…

Desain Social Publisher sedang disusun dari artikel ini.

Konten TikTok belum dapat disiapkan.

Silakan coba kembali.

Pratinjau slide TikTok JurnalPost 1/5
TIKTOK 9:16 · 5 SLIDE

Konten JurnalPost

Lima slide vertikal sudah disusun: sampul, inti berita, fakta utama, perkembangan, dan baca lengkap.

Menyiapkan lima file gambar 9:16…

Di menu berbagi, pilih TikTok, pertahankan urutan 1–5, lalu tambahkan musik atau suara di aplikasi. Jika TikTok tidak muncul, gunakan unduh manual.

Komentar 0

Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda

Komentar akan tampil setelah disetujui redaksi.

  1. Belum ada komentar. Jadilah yang pertama menyampaikan tanggapan.

Artikel Terkait

Aset Publik Bukan Milik Pribadi: Memahami Aturan Hukum Pengelolaan Barang Milik Negara dan Daerah

Pembangunan Ekonomi dan Ancaman Kerusakan Lingkungan, Sejauh Mana Hukum Indonesia Melindungi Alam?

Main Ponsel Saat Lampu Merah, Apakah Termasuk Pelanggaran Lalu Lintas? Ini Tinjauan Hukumnya

Kemandirian Pesantren: Dari Pusat Pendidikan Agama Menjadi Penggerak Ekonomi Desa

REKOMENDASI JURNALPOST

Pilihan Untukmu

Qatar Hubungi Turki, Yordania, Mesir dan Lebanon, Perkuat Diplomasi untuk Redam Ketegangan Timur Tengah

Mendukung Sustainable Development Goals, Dosen UM Ungkap Faktor Risiko Kehamilan yang Perlu Diwaspadai

Mengenal Potensi Desa Menang dalam Mendukung Program Kabupaten/Kota Sehat di Jawa Timur

HUT ke-58 Semen Tonasa, Transformasi Bisnis dan Efisiensi Jadi Fokus

Pilihan Editor

  1. 1 Qatar Hubungi Turki, Yordania, Mesir dan Lebanon, Perkuat Diplomasi untuk Redam Ketegangan Timur Tengah
  2. 2

    Mengenal Potensi Desa Menang dalam Mendukung Program Kabupaten/Kota Sehat di Jawa Timur

  3. 3

    Tinggalkan Buku Kas Manual, Pelaku UMKM Manggarsari Kini Kelola Keuangan Lewat Ponsel

  4. 4

    Berawal dari Jualan Mango Sago, Rini Astuti Kembangkan Usaha Kuliner Berkat Dukungan KUR BRI Bojonegoro

  5. 5

    Mahasiswa UPN Veteran Jatim Ikuti Rapat DPRD Tuban, Pelajari Perdebatan Anggaran dan Prioritas R-APBD 2027

IKLAN
JurnalPost

Media Publikasi Indonesia yang menyediakan informasi terkini. Situs ini didirikan pada tahun 2015 dan telah menjadi salah satu sumber berita yang populer di Indonesia.

Jelajahi

Advertorial Artikel Berita Bisnis Citizen Reporter Daerah Ekonomi English Version Essay Featured
Hukum Internasional Kolom Opini Nasional Olahraga Pendidikan Politik Profil Teknologi Wisata

Kanal

About Us Jurnalisme Warga Kebijakan Cookie Kebijakan Data Kirim Opini Kirim Tulisan Media Kit Pedoman Redaksi

Ikuti kami di

Facebook X/Twitter Instagram Threads TikTok Pinterest LinkedIn YouTube
© 2026 - PT Jurnal Post Indonesia. All Rights Reserved.