Lewati ke konten utama
Home About Us Redaksi Kirim Berita Media Kit
Pedoman
Kebijakan Cookie Pedoman Media Siber Publikasi Media Online Jasa Backlink Jasa Guest Post Penulisan Artikel Pembuatan Website Pedoman AI
ID | EN

Masuk / Gabung

Jelajahi

Beranda Internasional Nasional Daerah Featured Opini Pendidikan
More
Profil Advertorial Bisnis Press Release Essay English Version Ekonomi
Informasi
About Us Redaksi Kirim Berita Media Kit
Pedoman
Kebijakan Cookie Pedoman Media Siber Pedoman AI
Masuk / Gabung
Ikuti kami
EN ARTIKEL
Beranda Internasional Nasional Daerah Featured Opini Pendidikan
More
Profil Advertorial Bisnis Press Release Essay English Version Ekonomi

  1. Beranda
  2. Kolom Opini
  3. Erich Fromm dan Masyarakat Maya Hari Ini: Dekadensi atau Optimisme Peradaban?

Erich Fromm dan Masyarakat Maya Hari Ini: Dekadensi atau Optimisme Peradaban?

Foto profil Hasbi
Editor: Hasbi
03 April 2026, 20.09 WITA Editor: Tim Editor JurnalPost
6 menit baca
Erich Fromm

Penulis: Galih Prasaja

JurnalPost.com - Pada tahun 1960an, buku dengan judul "The Revolution of Hope: Toward a Humanized Technology" terbit di New York, Amerika Serikat. Penulisnya adalah seorang sosio-psikolog asal Jerman yakni Erich Fromm. Buku tersebut kemudian disalin dan diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan judul "Revolusi Harapan". Empat dasawarsa sebelum abad ke-21 dimulai, Revolusi Harapan menggambarkan dengan sekilas bagaimana yang akan terjadi pada milenium ketiga. Saya baru sempat membaca buku ini pada semester akhir perkuliahan, dimana proses perkuliahan yang saya alami banyak sekali terbantu akan teknologi yang semakin berkembang dan terus berkembang hingga detik ketika tulisan ini dibuat.

IKLAN

Akhir-akhir ini, dalam kehidupan saya teknologi bukan lagi sekedar alat bantu, melainkan semacam infrastruktur maya yang menopang hampir seluruh proses berpikir. Jurnal dapat diakses dalam hitungan menit, tanpa perlu diktat fisik, diskusi berlangsung di ruang digital, pena tak lagi menjadi primer dalam proses menulis, semuanya diketik, diperiksa, bahkan dipresentasikan dengan bantuan sistem yang berbasis kecerdasan buatan, saya menyebutnya akal imitasi, AI. Apa yang disabdakan Erich Fromm dengan istilah "humanized technology" terasa seperti cita-cita yang ambigu: di satu sisi memudahkan, di sisi lain membentuk ulang cara kita menjadi manusia ideal.

72084c82 26e9 413c bdbf 96fbb072ded4
Baca Juga

Fenomena Main Hakim Sendiri sebagai Ancaman terhadap Due Process of Law di Indonesia

Dalam The Revolution of Hope, Fromm menulis di tengah euforia industrialisme dan kemajuan teknik Amerika Serikat pada 1960-an. Ia melihat dengan detail gejala yang menurutnya berbahaya: manusia modern terjebak dalam mesin besar yang rasional, efisien dan produktif, tetapi kehilangan kedalaman eksistensialnya. Teknologi, menurut Fromm, seharusnya melayani perkembangan peradaban manusia. Tetapi manusia tidak waspada, ia justru akan menyesuaikan diri pada sistem teknologinya sendiri.

Paradoks Modernisme Empat dasawarsa sebelum abad ke-21, ihwal akal imitasi bahkan internet, Fromm memanglah belum mengenalnya. Namun pembaca Revolusi Harapan hari ini bisa merasakan relevansinya. Dunia perkuliahan yang saya sendiri alami pada akhir-akhir perkuliahan terasa percis seperti apa yang diramalkan Fromm, laboratorium dari milenium ketiga yang ia bayangkan: pembelajaran hybrid, diskusi tanpa tatap muka, algoritma yang semakin rumit, hingga akal imitasi yang menjamur menjadi mesin produktifitas yang sarat kuantitas namun lemah akan kualitas. Ada paradoks disini. Produktifitas meningkat. Waktu pencarian data menyusut drastis. Proses yang dulu memakan hari kini hanya hitungan jam. Tetapi pertanyaan yang radikal bagi saya bukan lagi perihal "seberapa cepat diri manusia ini bekerja?", melainkan "apakah kita masih mengalami proses berpikir itu sendiri?", karena sejatinya manusia diciptakan dengan sempurna berkat suatu nilai yang bernama akal budi itu sendiri.

IKLAN

Fromm menyebut ancaman modernitas sebagai krisis "to have" menggantikan "to be". Manusia lebih sibuk memiliki data, informasi, dan capaian, daripada menjadi sadar, reflektif, dan utuh. Dalam konteks teknologi hari ini, kita mungkin bisa menambahkan: lebih sibuk menghasilkan output daripada mengalami proses intelektual. Dalam pengalaman pribadi sebagai seorang yang terbiasa menulis, saya sendiri merasakan bahwa tulisan yang memiliki roh adalah tulisan yang tersampaikan beserta rasanya, rasa ini yang tak saya temukan ketika hasil pikiran yang saya utarakan melalui prompt atau perintah kepada AI kemudian menikmati hasil yang sudah konkrit. Secara pendek akal, bantuan teknologi memang terasa menyelamatkan, bagai sebuah stimulan ketika kita demam berpikir. Namun, saya juga menyadari betapa mudahnya tergoda untuk menyerahkan proses berpikir pada sistem tersebut. Pada titik inilah kegelisahan Fromm menjerang pikiran saya yang terasa hidup kembali.

Lebih lanjut, ia menuliskan tentang bahaya "cybernatic man", manusia yang diatur oleh sistem umpan balik teknologis. Hari ini, sistem itu bernama algoritma. Ia menentukan apa yang kita baca, apa yang kita tonton, bahkan wacana yang kita anggap penting. Tanpa disadari, kita hidup dan bergerak dalam koridor yang dipetakan mesin. Kebebasan yang kita rasakan sering kali hanyalah pilihan di antara opsi yang sudah disediakan, pendek kata, kebebasan semu.

kebakaran hutan di Kalimantan
Baca Juga

Hutan Kalimantan Terbakar: Bencana Alam atau Ada Campur Tangan Manusia?

Titik Balik Pesimisme Namun, Fromm bukanlah seorang pesimis teknologi. Ia berbicara tentang sebuah harapan yang tertuang dalam magnum opusnya: Revolusi Harapan. Baginya, solusi bukanlah menolak perkembangan, melainkan mengembalikannya pada orientasi akal dan kemanusiaan. Teknologi harus tunduk pada nilai-nilai humanistik: cinta, kreativitas, tanggung jawab, dan kesadaran diri. Tanpa itu semua, ia hanya akan mempercepat keterasingan. Maka, teknologi membuka dua kemungkinan. Pertama, teknologi menjadi ekstensi kognisi, alat untuk memperluas kemampuan berpikir, sekali lagi 'alat', juga sebagai sarana memperkaya eksplorasi intelektual. Kedua, teknologi menjadi subtitusi kesadaran, alat yang menggantikan proses refleksi mendalam.

Di sinilah relevansi Fromm bagi generasi milenium ketiga. Revolusi yang ia maksudkan bukanlah revolusi mesin, melainkan kesadaran. Boleh saja, kita hidup di era kecerdasan buatan, tetapi acuan pertanyaan mendasar tetap pada tatanan klasik yang humanistik, "apakah kita masih berpikir, atau hanya sekedar memproses?". Fromm mengingatkan bahwa harapan hanya mungkin jika berani bertanggung jawab atas ciptaannya. Jika tidak, ia akan diperbudak oleh sistem yang ia bangun sendiri. Di titik ini, membaca Revolusi Harapan bukan sekedar nostalgia intelektual, melainkan refleksi mendesak atas kehidupan akademik dan sosial kita hari ini.

Maka, di hadapan masyarakat maya hari ini, pertanyaan "dekadensi atau optimisme peradaban?" sesungguhnya bukanlah pertanyaan yang mengacu pada teknologi itu sendiri, melainkan tentang orientasi manusia sebagai subjek pengendalinya. Akal imitasi tak memiliki kehendak; ia hanya memantulkan kehendak penciptanya. Jika kita menjadikannya tuan, maka dekadensi bukanlah kemungkinan, melainkan keniscayaan. Namun, jika kita tetap menempatkannya sebagai sebuah alat; sebagai eksistensi dari akal budi, bukan penggantinya; maka optimisme peradaban masih terbuka lebar.

Penulis: Galih Prasaja Mahasiswa dan penulis aktif dengan isu lingkungan hidup

Berani Berkata tidak
Baca Juga

Berani Berkata "Tidak": Mengapa Asertivitas Penting bagi Remaja Masa Kini

Sumber artikel: https://jurnalpost.kolomopini.com/erich-fromm-dan-masyarakat-maya-hari-ini-dekadensi-atau-optimisme-peradaban/91877/

Dicetak dari JurnalPost.com pada 04 November 2026, 00.44 WITA

  • #Opini Mahasiswa

Bagikan artikel

Bagikan Mengirim Tweet
JURNALPOST SOCIAL PUBLISHER

Posting ke Instagram

Menyiapkan 5 slide Reel 9:16…

Rangkaian slide vertikal sedang disusun dari artikel ini.

Konten belum dapat disiapkan.

Silakan coba kembali.

Pratinjau slide Instagram JurnalPost 1/5
REEL 9:16 · 5 SLIDE

Konten JurnalPost

Lima slide vertikal sudah disusun dalam area aman Reels. Tambahkan musik pilihan Anda setelah masuk ke Instagram.

Menyiapkan lima file gambar 9:16…

Di menu Instagram, pilih Reel, pertahankan urutan 1–5, lalu tambahkan musik yang tersedia di Instagram.

JURNALPOST SOCIAL PUBLISHER

Posting ke TikTok

Menyiapkan 5 slide TikTok 9:16…

Desain Social Publisher sedang disusun dari artikel ini.

Konten TikTok belum dapat disiapkan.

Silakan coba kembali.

Pratinjau slide TikTok JurnalPost 1/5
TIKTOK 9:16 · 5 SLIDE

Konten JurnalPost

Lima slide vertikal sudah disusun: sampul, inti berita, fakta utama, perkembangan, dan baca lengkap.

Menyiapkan lima file gambar 9:16…

Di menu berbagi, pilih TikTok, pertahankan urutan 1–5, lalu tambahkan musik atau suara di aplikasi. Jika TikTok tidak muncul, gunakan unduh manual.

Komentar 0

Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda

Komentar akan tampil setelah disetujui redaksi.

  1. Belum ada komentar. Jadilah yang pertama menyampaikan tanggapan.

Artikel Terkait

Pernah Mencari “Sakit Kepala Sebelah” di Google, Lalu Takut Umur Tinggal Setahun?

Kepemimpinan Bukan Sekadar Janji Besar, Rakyat Menunggu Hasil Nyata dari Pemerintah

Ketika Negara Gagal Menjaga Napas Warganya

Dari Instruksi ke Implementasi: Menguji Respons Kepemimpinan Presiden Prabowo dalam Penanganan Karhutla 2026

REKOMENDASI JURNALPOST

Pilihan Untukmu

Jangan Terus Menyalahkan Guru atas Rusaknya Karakter Anak, Ada Paradoks Mutu Pendidikan yang Sering Diabaikan

Mahasiswa UPN Veteran Jatim Ikuti Rapat DPRD Tuban, Pelajari Perdebatan Anggaran dan Prioritas R-APBD 2027

DP3AKB Sidoarjo Gelar FGD Evaluasi Peta Jalan Pembangunan Kependudukan 2025–2029, Perkuat Koordinasi Antar-OPD

Kepemimpinan yang Menanam Masa Depan: Ketika Pendidikan Menjadi Kunci Ketahanan Pangan Jawa Timur

Pilihan Editor

  1. 1 Resmi Dilantik, BPC GMKI Singaraja Periode 2026–2027 Fokus Kuatkan Kaderisasi dan Kolaborasi
  2. 2

    Ketika Utang Menjadi Alat Tekanan: Saat Perjanjian Lahir dari Ketakutan dan Ketidakberdayaan

  3. 3

    Kejujuran Perlu Ekosistem: Membangun Budaya Integritas dari Lingkungan Kampus

  4. 4

    Main Ponsel Saat Lampu Merah, Apakah Termasuk Pelanggaran Lalu Lintas? Ini Tinjauan Hukumnya

  5. 5

    Beli Mainan Anak di Bojonegoro Kini Bisa Bayar Pakai QRIS BRI

IKLAN
JurnalPost

Media Publikasi Indonesia yang menyediakan informasi terkini. Situs ini didirikan pada tahun 2015 dan telah menjadi salah satu sumber berita yang populer di Indonesia.

Jelajahi

Advertorial Artikel Berita Bisnis Citizen Reporter Daerah Ekonomi English Version Essay Featured
Hukum Internasional Kolom Opini Nasional Olahraga Pendidikan Politik Profil Teknologi Wisata

Kanal

About Us Jurnalisme Warga Kebijakan Cookie Kebijakan Data Kirim Opini Kirim Tulisan Media Kit Pedoman Redaksi

Ikuti kami di

Facebook X/Twitter Instagram Threads TikTok Pinterest LinkedIn YouTube
© 2026 - PT Jurnal Post Indonesia. All Rights Reserved.