Penulis: Galih Prasaja
JurnalPost.com - Pada tahun 1960an, buku dengan judul "The Revolution of Hope: Toward a Humanized Technology" terbit di New York, Amerika Serikat. Penulisnya adalah seorang sosio-psikolog asal Jerman yakni Erich Fromm. Buku tersebut kemudian disalin dan diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan judul "Revolusi Harapan". Empat dasawarsa sebelum abad ke-21 dimulai, Revolusi Harapan menggambarkan dengan sekilas bagaimana yang akan terjadi pada milenium ketiga. Saya baru sempat membaca buku ini pada semester akhir perkuliahan, dimana proses perkuliahan yang saya alami banyak sekali terbantu akan teknologi yang semakin berkembang dan terus berkembang hingga detik ketika tulisan ini dibuat.
Akhir-akhir ini, dalam kehidupan saya teknologi bukan lagi sekedar alat bantu, melainkan semacam infrastruktur maya yang menopang hampir seluruh proses berpikir. Jurnal dapat diakses dalam hitungan menit, tanpa perlu diktat fisik, diskusi berlangsung di ruang digital, pena tak lagi menjadi primer dalam proses menulis, semuanya diketik, diperiksa, bahkan dipresentasikan dengan bantuan sistem yang berbasis kecerdasan buatan, saya menyebutnya akal imitasi, AI. Apa yang disabdakan Erich Fromm dengan istilah "humanized technology" terasa seperti cita-cita yang ambigu: di satu sisi memudahkan, di sisi lain membentuk ulang cara kita menjadi manusia ideal.
Dalam The Revolution of Hope, Fromm menulis di tengah euforia industrialisme dan kemajuan teknik Amerika Serikat pada 1960-an. Ia melihat dengan detail gejala yang menurutnya berbahaya: manusia modern terjebak dalam mesin besar yang rasional, efisien dan produktif, tetapi kehilangan kedalaman eksistensialnya. Teknologi, menurut Fromm, seharusnya melayani perkembangan peradaban manusia. Tetapi manusia tidak waspada, ia justru akan menyesuaikan diri pada sistem teknologinya sendiri.
Paradoks Modernisme Empat dasawarsa sebelum abad ke-21, ihwal akal imitasi bahkan internet, Fromm memanglah belum mengenalnya. Namun pembaca Revolusi Harapan hari ini bisa merasakan relevansinya. Dunia perkuliahan yang saya sendiri alami pada akhir-akhir perkuliahan terasa percis seperti apa yang diramalkan Fromm, laboratorium dari milenium ketiga yang ia bayangkan: pembelajaran hybrid, diskusi tanpa tatap muka, algoritma yang semakin rumit, hingga akal imitasi yang menjamur menjadi mesin produktifitas yang sarat kuantitas namun lemah akan kualitas. Ada paradoks disini. Produktifitas meningkat. Waktu pencarian data menyusut drastis. Proses yang dulu memakan hari kini hanya hitungan jam. Tetapi pertanyaan yang radikal bagi saya bukan lagi perihal "seberapa cepat diri manusia ini bekerja?", melainkan "apakah kita masih mengalami proses berpikir itu sendiri?", karena sejatinya manusia diciptakan dengan sempurna berkat suatu nilai yang bernama akal budi itu sendiri.
Fromm menyebut ancaman modernitas sebagai krisis "to have" menggantikan "to be". Manusia lebih sibuk memiliki data, informasi, dan capaian, daripada menjadi sadar, reflektif, dan utuh. Dalam konteks teknologi hari ini, kita mungkin bisa menambahkan: lebih sibuk menghasilkan output daripada mengalami proses intelektual. Dalam pengalaman pribadi sebagai seorang yang terbiasa menulis, saya sendiri merasakan bahwa tulisan yang memiliki roh adalah tulisan yang tersampaikan beserta rasanya, rasa ini yang tak saya temukan ketika hasil pikiran yang saya utarakan melalui prompt atau perintah kepada AI kemudian menikmati hasil yang sudah konkrit. Secara pendek akal, bantuan teknologi memang terasa menyelamatkan, bagai sebuah stimulan ketika kita demam berpikir. Namun, saya juga menyadari betapa mudahnya tergoda untuk menyerahkan proses berpikir pada sistem tersebut. Pada titik inilah kegelisahan Fromm menjerang pikiran saya yang terasa hidup kembali.
Lebih lanjut, ia menuliskan tentang bahaya "cybernatic man", manusia yang diatur oleh sistem umpan balik teknologis. Hari ini, sistem itu bernama algoritma. Ia menentukan apa yang kita baca, apa yang kita tonton, bahkan wacana yang kita anggap penting. Tanpa disadari, kita hidup dan bergerak dalam koridor yang dipetakan mesin. Kebebasan yang kita rasakan sering kali hanyalah pilihan di antara opsi yang sudah disediakan, pendek kata, kebebasan semu.
Titik Balik Pesimisme Namun, Fromm bukanlah seorang pesimis teknologi. Ia berbicara tentang sebuah harapan yang tertuang dalam magnum opusnya: Revolusi Harapan. Baginya, solusi bukanlah menolak perkembangan, melainkan mengembalikannya pada orientasi akal dan kemanusiaan. Teknologi harus tunduk pada nilai-nilai humanistik: cinta, kreativitas, tanggung jawab, dan kesadaran diri. Tanpa itu semua, ia hanya akan mempercepat keterasingan. Maka, teknologi membuka dua kemungkinan. Pertama, teknologi menjadi ekstensi kognisi, alat untuk memperluas kemampuan berpikir, sekali lagi 'alat', juga sebagai sarana memperkaya eksplorasi intelektual. Kedua, teknologi menjadi subtitusi kesadaran, alat yang menggantikan proses refleksi mendalam.
Di sinilah relevansi Fromm bagi generasi milenium ketiga. Revolusi yang ia maksudkan bukanlah revolusi mesin, melainkan kesadaran. Boleh saja, kita hidup di era kecerdasan buatan, tetapi acuan pertanyaan mendasar tetap pada tatanan klasik yang humanistik, "apakah kita masih berpikir, atau hanya sekedar memproses?". Fromm mengingatkan bahwa harapan hanya mungkin jika berani bertanggung jawab atas ciptaannya. Jika tidak, ia akan diperbudak oleh sistem yang ia bangun sendiri. Di titik ini, membaca Revolusi Harapan bukan sekedar nostalgia intelektual, melainkan refleksi mendesak atas kehidupan akademik dan sosial kita hari ini.
Maka, di hadapan masyarakat maya hari ini, pertanyaan "dekadensi atau optimisme peradaban?" sesungguhnya bukanlah pertanyaan yang mengacu pada teknologi itu sendiri, melainkan tentang orientasi manusia sebagai subjek pengendalinya. Akal imitasi tak memiliki kehendak; ia hanya memantulkan kehendak penciptanya. Jika kita menjadikannya tuan, maka dekadensi bukanlah kemungkinan, melainkan keniscayaan. Namun, jika kita tetap menempatkannya sebagai sebuah alat; sebagai eksistensi dari akal budi, bukan penggantinya; maka optimisme peradaban masih terbuka lebar.
Penulis: Galih Prasaja Mahasiswa dan penulis aktif dengan isu lingkungan hidup
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda