Oleh: DECCY TRESKHOPA, Mahasiswa Magister Pedagogi, Universitas Lancang Kuning
JurnalPost.com - Bayangkan seorang siswa kelas sepuluh yang mengerjakan tugas esai bukan dengan berpikir keras, melainkan dengan mengetikkan pertanyaan ke sebuah aplikasi kecerdasan buatan, lalu menyalin jawabannya begitu saja. Ini bukan skenario fiksi ilmiah. Ini adalah kenyataan yang kini berlangsung di ruang-ruang belajar kita, tanpa banyak disadari para guru dan orang tua.
Kehadiran kecerdasan buatan (AI) generatif — seperti ChatGPT, Gemini, dan sejenisnya — telah mengubah lanskap pendidikan secara fundamental. Teknologi ini mampu menulis esai, menyelesaikan soal matematika, membuat kode program, bahkan menyusun laporan penelitian dalam hitungan detik. Di satu sisi, ini adalah lompatan peradaban yang luar biasa. Di sisi lain, ini menghadirkan krisis pedagogis yang serius: jika mesin dapat melakukan hampir semua yang selama ini kita minta dari peserta didik, lalu apa sebenarnya tujuan pendidikan kita? "Pendidikan sejati bukan sekadar transfer informasi, melainkan pembentukan manusia yang mampu berpikir, merasakan, dan bertindak secara bermakna — sesuatu yang hingga kini belum bisa digantikan oleh mesin mana pun."
Para teoretisi pendidikan sejatinya telah lama mengingatkan bahwa tujuan pendidikan melampaui penguasaan konten. John Dewey, filsuf pendidikan abad ke-20, menekankan bahwa pendidikan adalah proses pertumbuhan yang berkelanjutan melalui pengalaman nyata — bukan penghafalan jawaban. Paulo Freire, dalam kritiknya terhadap "pendidikan gaya bank," menolak praktik di mana peserta didik hanya menjadi wadah pasif yang menerima informasi dari guru. Sedangkan Benjamin Bloom, lewat taksonominya, mengingatkan bahwa kemampuan berpikir kritis, analitis, dan kreatif berada di puncak hierarki kognitif — justru kemampuan yang paling sulit ditiru mesin.
Ironisnya, sistem pendidikan kita selama ini justru lebih banyak beroperasi di level bawah taksonomi itu: menghafal, memahami, dan mengaplikasikan rumus atau prosedur yang sudah baku. Inilah yang paling mudah digantikan AI. Jika seorang peserta didik hanya dilatih untuk mereproduksi informasi, maka ia sedang berkompetisi di medan yang salah — melawan mesin yang tidak pernah lelah dan tidak pernah lupa.
Lalu di mana posisi guru? Apakah profesi ini terancam punah? Pertanyaan ini sering diajukan dengan nada cemas. Namun jawabannya bergantung pada cara kita memahami fungsi guru. Jika guru sekadar "penyampai materi," memang ada sebagian fungsinya yang bisa diambil alih teknologi. Namun jika guru dipahami sebagai pembimbing perkembangan manusia — yang membantu peserta didik menemukan makna, membangun karakter, dan belajar hidup bersama orang lain — maka tidak ada mesin yang dapat menggantikannya.
Dalam perspektif pedagogis, guru adalah pelaku relasi manusiawi yang paling mendasar dalam pendidikan. Martin Buber, filsuf Jerman-Austria, menyebut relasi pendidikan yang sejati sebagai relasi "Aku-Engkau" — bukan transaksi impersonal, melainkan perjumpaan dua subjek yang saling mempengaruhi. Peserta didik belajar bukan hanya dari apa yang dikatakan guru, tetapi dari bagaimana guru hadir: cara ia mendengarkan, cara ia merespons kesalahan, cara ia menunjukkan bahwa belajar adalah proses yang penuh kemanusiaan. Hal ini tidak bisa disimulasikan oleh AI, tidak peduli seberapa canggih algoritmanya. Empati, nilai moral, dan keteladanan hidup adalah domain manusia — dan domain itulah yang harus menjadi inti kompetensi guru di era ini.
Tantangan nyata yang dihadapi sekolah dan madrasah kita saat ini bukan soal melarang atau memblokir AI — itu bukan solusi jangka panjang yang realistis. Tantangannya adalah bagaimana meredesain praktik pembelajaran agar kemampuan yang dilatih benar-benar bersifat manusiawi dan tidak mudah diotomasi.
Artinya, tugas-tugas pembelajaran perlu bergeser dari yang bersifat reproduktif menuju yang bersifat reflektif dan kontekstual. Bukan "tulislah esai tentang dampak perubahan iklim," tetapi "bagaimana perubahan iklim berdampak pada kampung halamanmu sendiri, dan apa yang ingin kamu lakukan?" Bukan "selesaikan soal cerita ini," tetapi "rancang solusi untuk masalah nyata yang ada di sekitarmu." Pendekatan seperti ini menempatkan AI sebagai alat bantu — bukan pengganti pikiran — karena jawaban akhirnya harus lahir dari pengalaman dan nilai pribadi peserta didik.
Di sinilah kurikulum berbasis kompetensi dan pembelajaran berbasis proyek menjadi sangat relevan. Bukan sebagai jargon kebijakan, tetapi sebagai respons pedagogis yang sungguh-sungguh terhadap tantangan zaman. Era kecerdasan buatan tidak membutuhkan manusia yang bisa berpikir seperti mesin. Era ini justru membutuhkan manusia yang bisa melakukan hal-hal yang mesin tidak bisa: merasakan keindahan, memilih nilai, menanggung tanggung jawab, dan membangun hubungan yang bermakna.
Pendidikan kita perlu segera merefleksikan kembali tujuan dasarnya. Bukan mencetak penjawab soal yang cepat, melainkan menumbuhkan manusia yang bijak, kritis, dan berempati. Guru, dengan seluruh keterbatasan dan kemanusiaannya, tetap menjadi aktor utama yang tak tergantikan dalam misi mulia ini. Yang dibutuhkan bukan persaingan dengan mesin, melainkan keberanian untuk kembali ke jantung pedagogis: mendidik manusia menjadi manusia.
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda