Penulis : Tri Pujiati Guru PAUD BKQ Payakumbuh
JurnalPost.com - Guru merupakan pilar penting dalam sistem pendidikan yang berfungsi sebagai penyampai ilmu pengetahuan, pembentuk karakter, dan inspirator bagi generasi. Guru bukan hanya sebatas pekerjaan, tapi pemegang otoritas ilmu. Ketika wibawa guru runtuh, maka ilmu juga ikut jatuh.
Seorang guru diharapkan menjadi teladan yang baik, tidak hanya dalam hal akademis, tetapi juga dalam perilaku dan akhlak. Namun, realitas di lapangan menunjukkan bahwa masih banyak guru yang tidak menjaga otoritas ilmu itu dengan baik.
Ironisnya, guru yang seharusnya menjadi sumber inspirasi bagi murid-muridnya, malah terkesan jauh dari ilmu. Guru itu harus terus belajar, karena ilmu itu berkembang. Saat ini tidak ada alasan sulitnya mencari ilmu. Ilmu itu dekat, bisa langsung menghadiri majelis ilmu maupun lewat online. Membaca buku atau mengikuti berbagai pelatihan yang sesuai dengan keilmuan yang kita dalami. Karena, kualitas pendidikan akan tergantung dengan kualitas guru.
Lagi dan lagi, ilmu sebagai modal penting seorang guru karena yang dibangun bukanlah sebuah gedung tapi sedang membangun manusia yang kedepannya juga bisa menjadi seorang pengubah.
Rasulullah SAW pun pernah bersabda, "Menuntut ilmu adalah kewajiban bagi setiap muslim" (HR. Ibnu Majah). Ini menunjukkan betapa pentingnya menuntut ilmu bagi setiap individu, termasuk guru. Akan tetapi, menuntut ilmu merupakan kewajiban yang sering kita lupakan hari ini.
Mari kita lihat teladan sepanjang masa, yang juga merupakan seorang guru bagi semua ummat yaitu Rasulullah. Bukankah pertama kali hijrah ke Madinah yang pertama kali Rasulullah benahi adalah Masjid dan majelis ilmu di didalamnya ? Bukankah ketika diilakukan nya perang, Rasulullah tetap mengutus sahabat yang harus menetap untuk menuntut ilmu?
Rasulullah juga menjadikan Masjid Nabawi sebagai pusat pembelajaran dan penyebaran ilmu. Di masjid tersebut, Rasulullah sering mengadakan majelis ilmu yang dihadiri oleh para sahabat. Ketika ada sahabat yang tidak bisa menghadiri majelis tersebut, mereka akan bertanya kepada sahabat lain yang telah menghadirinya untuk mendapatkan informasi tentang apa yang telah dibahas atau diajarkan oleh Rasulullah SAW.
Hal ini menunjukkan bahwa proses belajar tidak hanya terbatas pada waktu dan tempat tertentu, tetapi dapat dilakukan secara terus-menerus dan berkelanjutan. Dari sini juga perlu dipahami untuk membangun suatu peradaban tentu yang harus diperbaiki adalah Sumber Daya Manusianya melalui majelis-majelis ilmu. Kalau berkaca pada zaman Rasulullah yang begitu menghargai ilmu, bagaimana dengan kondisi kita hari ini terkhusus para guru?
Saat ini, kita sering mengatakan anak degradasi moral, tidak beradab dan tidak menghargai guru. Padahal, apakah kita sudah melihat dari dua sisi? Apakah kita sudah intropeksi diri? Apakah kita sudah layak menjadi guru yang dihargai? Apakah kita sudah memberikan contoh terbaik? Atau kita juga termasuk guru yang degradasi moral?
Kita sering lupa, bahwa guru itu sebagai teladan yang setiap tingkah laku yang kita tunjukkan baik di sekolah maupun di luar lingkungan sekolah secara tidak langsung ditiru oleh murid. Menjadi guru bukan hanya menggugurkan kewajiban, karena guru bukan sekadar profesi tapi tugas mulia untuk membentuk generasi agar bisa membangun peradaban.
Bukankah kata Umar bin Abdul Aziz " Sesungguhnya semua ini tidak akan aku mulai selain dari diriku sendiri". Semoga Aku, Kamu, Kita dan seluruh guru bisa menjadi pendidik yang haus akan ilmu dan bisa menjadi teladan bagi generasi.
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda