SIDOARJO, JurnalPost.com – Perkembangan teknologi digital membawa perubahan besar dalam penyebaran informasi kebencanaan. Media sosial memungkinkan masyarakat memperoleh informasi secara cepat, tetapi di sisi lain juga menghadirkan tantangan terkait akurasi, kejelasan pesan, dan potensi penyebaran informasi yang keliru.
Dalam situasi kebencanaan, informasi yang tidak tepat dapat menimbulkan kesalahpahaman hingga memengaruhi respons masyarakat. Sebaliknya, informasi yang akurat dan mudah dipahami dapat membantu masyarakat mengenali risiko, meningkatkan kewaspadaan, serta mengambil langkah keselamatan yang diperlukan.
Pemahaman mengenai pentingnya komunikasi kebencanaan tersebut menjadi salah satu pengalaman berharga bagi Yohanes Putra Valentino, mahasiswa Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Surabaya, selama menjalani kegiatan magang di Divisi Hubungan Masyarakat (Humas) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Jawa Timur.
Melalui kegiatan magang tersebut, Yohanes mendapatkan kesempatan untuk terlibat langsung dalam berbagai aktivitas dokumentasi, pengelolaan konten, dan publikasi informasi yang berkaitan dengan pelayanan publik serta penanggulangan bencana.
Belajar dari Dokumentasi Penyaluran Bantuan Bencana
Salah satu pengalaman yang memberikan kesan mendalam adalah keterlibatan Yohanes dalam mendokumentasikan pemberangkatan bantuan logistik bagi korban gempa bumi di Nusa Tenggara Timur (NTT) pada 20 Agustus 2026.
Dalam kegiatan tersebut, ia memperoleh pemahaman bahwa dokumentasi memiliki fungsi yang lebih luas daripada sekadar mengambil gambar atau merekam video.
Dokumentasi menjadi bagian penting dalam penyampaian informasi kepada masyarakat, khususnya mengenai langkah-langkah yang dilakukan instansi pemerintah dalam merespons situasi bencana.
Melalui foto, video, dan publikasi yang disusun secara tepat, masyarakat dapat mengetahui proses pemberangkatan bantuan, upaya penanganan bencana, serta bentuk dukungan yang diberikan kepada masyarakat terdampak.
Pengalaman tersebut sekaligus memperlihatkan bahwa pekerjaan di bidang kehumasan membutuhkan kepekaan dalam memilih informasi yang memiliki nilai penting bagi publik.
Pentingnya Edukasi Kebencanaan bagi Generasi Muda
Selain mengikuti kegiatan dokumentasi penyaluran bantuan, Yohanes juga berkesempatan mendokumentasikan seminar pencegahan bencana yang diselenggarakan di BPBD Jawa Timur pada 27 Agustus 2026.
Ia turut terlibat dalam dokumentasi kegiatan kunjungan pelajar yang bertujuan memperkenalkan pengetahuan mengenai kebencanaan kepada generasi muda.
Dari berbagai kegiatan tersebut, Yohanes memahami bahwa edukasi kebencanaan sebaiknya dilakukan secara berkelanjutan dan menjangkau seluruh kelompok usia, termasuk anak-anak dan pelajar.
Penyampaian informasi dengan bahasa sederhana, ilustrasi yang menarik, serta pendekatan yang sesuai dengan karakteristik audiens dinilai dapat membantu masyarakat memahami pentingnya kesiapsiagaan menghadapi bencana.
Bagi generasi muda, edukasi tersebut juga dapat menjadi langkah awal untuk membangun kesadaran mengenai potensi bencana di lingkungan sekitar.
Media Sosial sebagai Sarana Komunikasi Kebencanaan
Selama menjalani magang, Yohanes tidak hanya mengikuti kegiatan dokumentasi lapangan, tetapi juga memperoleh pengalaman dalam menyunting desain publikasi media sosial dan membuat video rekap kegiatan pegawai BPBD Jawa Timur.
Aktivitas tersebut memberinya kesempatan untuk memahami proses produksi konten digital, mulai dari pemilihan materi visual hingga penyusunan pesan yang akan disampaikan kepada masyarakat.
Ia menyadari bahwa publikasi yang baik tidak hanya ditentukan oleh tampilan visual yang menarik. Informasi yang disampaikan juga harus memiliki tujuan yang jelas, relevan dengan kebutuhan masyarakat, serta tidak menimbulkan penafsiran yang keliru.
Menurut pandangannya, media sosial memiliki potensi besar untuk dimanfaatkan sebagai sarana edukasi kebencanaan. Berbagai format konten, seperti infografik, video edukasi singkat, dan panduan keselamatan, dapat digunakan untuk menyampaikan informasi secara lebih efektif.
Konten mengenai langkah menghadapi gempa bumi, upaya mengurangi risiko banjir, hingga persiapan menghadapi kondisi darurat merupakan contoh informasi yang dapat dikembangkan melalui platform digital.
Namun, pemanfaatan media sosial tetap harus disertai proses pemeriksaan informasi sebelum dipublikasikan.
Kecepatan penyampaian pesan tidak boleh mengesampingkan ketepatan data, terutama ketika informasi berkaitan dengan keselamatan masyarakat.
Akurasi Informasi Menjadi Tanggung Jawab Humas
Pengalaman magang di BPBD Jawa Timur juga memberikan pemahaman baru kepada Yohanes mengenai tanggung jawab seorang praktisi hubungan masyarakat.
Dalam komunikasi kebencanaan, Humas tidak hanya bertugas mendokumentasikan dan mempublikasikan kegiatan instansi, tetapi juga berperan memastikan masyarakat memperoleh informasi yang dapat dipercaya.
Setiap informasi yang akan disampaikan perlu melalui proses pemeriksaan dan koordinasi dengan pihak terkait agar sesuai dengan kondisi sebenarnya.
Hal tersebut menjadi semakin penting ketika terjadi bencana, mengingat masyarakat membutuhkan informasi yang cepat sekaligus dapat dijadikan dasar dalam mengambil keputusan.
Kesalahan informasi dalam kondisi darurat berpotensi menimbulkan kebingungan. Oleh sebab itu, ketelitian dalam menyusun pesan komunikasi publik menjadi salah satu aspek penting yang perlu diperhatikan.
Pengalaman Magang sebagai Bekal Memasuki Dunia Kerja
Bagi Yohanes, kegiatan magang di Divisi Humas BPBD Jawa Timur bukan sekadar kesempatan untuk mengenal lingkungan kerja profesional, tetapi juga menjadi sarana menerapkan ilmu komunikasi yang diperoleh selama perkuliahan.
Berbagai tugas yang dijalani memberikan pengalaman mengenai pentingnya ketelitian, kreativitas, kemampuan menyampaikan pesan, serta tanggung jawab dalam mengelola informasi publik.
Ia juga memperoleh gambaran tentang bagaimana teori komunikasi dapat diterapkan dalam kegiatan nyata yang memberikan manfaat langsung bagi masyarakat.
Pengalaman tersebut semakin memperkuat pandangannya bahwa komunikasi memiliki peran strategis dalam mendukung upaya pengurangan risiko bencana.
Di tengah perkembangan teknologi dan meningkatnya penggunaan media sosial, instansi yang bergerak dalam penanggulangan bencana dituntut mampu menghadirkan komunikasi publik yang informatif, mudah diakses, dan dapat dipertanggungjawabkan.
Pada akhirnya, keberhasilan komunikasi kebencanaan bukan hanya diukur dari jumlah konten yang dipublikasikan atau besarnya jangkauan media sosial, melainkan dari sejauh mana informasi tersebut dapat dipahami dan dimanfaatkan oleh masyarakat.
Melalui pengalaman magang di BPBD Jawa Timur, Yohanes menyadari bahwa setiap dokumentasi dan publikasi membawa tanggung jawab untuk menghadirkan informasi yang akurat, bermakna, dan bermanfaat dalam membangun masyarakat yang lebih sadar serta siap menghadapi risiko bencana.
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda