Oleh: Faojah Universitas Pamulang PSDKU Serang
JurnalPost.com - Indonesia sedang berlari menuju usia seabad kemerdekaannya. Tahun 2045 sering digembar-gemborkan sebagai “Indonesia Emas”, masa ketika negara ini diharapkan berdiri sejajar dengan kekuatan ekonomi dunia. Tapi sebelum sampai ke sana, ada satu soal mendasar yang sering dilupakan di tengah hingar-bingar visi besar itu. Yakni tentang manusia yang lapar tak bisa berpikir jernih, apalagi produktif.
Bonus demografi memang memberi peluang langka sekitar 70 persen penduduk Indonesia kini berada di usia produktif. Namun, bonus itu tidak otomatis menjadi kekuatan ekonomi. Ia bisa berubah menjadi beban bila kualitas sumber daya manusianya buruk. Di sinilah hubungan antara gizi, pendidikan, dan pertumbuhan ekonomi harus dipahami sebagai satu ekosistem, bukan proyek terpisah.
Program Makan Bergizi Gratis (MBG) adalah investasi yang rentan gagal. Dalam praktiknya, semangat mulia itu tercederai masalah klasik. Mulai dari kebocoran anggaran karena penerima tidak tepat sasaran dan pengawasan kualitas makanan yang lemah.
Kasus-kasus seperti itu menunjukkan bahwa harapan menciptakan SDM unggul belum benar-benar tercermin dalam pelaksanaan program. Pemerintah perlu melakukan evaluasi serius dan menyeluruh, terutama dalam hal ketelitian seleksi penerima manfaat serta pengawasan kualitas makanan. Program sosial yang baik harus berdiri di atas akurasi data dan tanggung jawab moral, bukan sekadar kecepatan penyaluran atau besarnya anggaran.
Selain itu, perlu disadari bahwa tidak semua anak atau keluarga membutuhkan makan bergizi gratis. Dari sisi ekonomi, ada kelompok masyarakat yang sudah cukup mampu memenuhi kebutuhan gizinya. Bila program ini diterapkan secara seragam tanpa seleksi ketat, maka dana negara hanya akan bocor ke kelompok yang tidak membutuhkan. Padahal, dana sebesar itu bisa dialihkan untuk memperkuat gizi anak-anak di wilayah miskin, daerah tertinggal, atau kelompok berisiko tinggi terhadap stunting. Dengan begitu, anggaran publik tidak terbuang sia-sia, dan program benar-benar menjangkau mereka yang paling membutuhkan.
Kita tidak sedang bicara soal nasi bungkus atau lauk pauk sederhana, tapi tentang masa depan produktivitas nasional. Anak yang tumbuh dengan gizi buruk hari ini akan menjadi pekerja dengan kapasitas rendah dua dekade mendatang. Dan ketika itu terjadi, bonus demografi yang semestinya jadi anugerah justru berubah menjadi jebakan ekonomi.
Lihatlah bagaimana Korea Selatan dan China memanfaatkan momentum serupa. Mereka tidak hanya memperluas industri, tapi lebih dulu menyiapkan manusia yang sehat, terdidik, dan terlatih. Program sosial mereka terhubung langsung dengan kebijakan pendidikan dan lapangan kerja. Setiap kebijakan memiliki arah yang sama: menciptakan manusia produktif.
Di Indonesia, pola pikir semacam itu belum sepenuhnya tertanam. Pemerintah sering memisahkan urusan gizi dari urusan ekonomi, seolah keduanya tak berkaitan. Padahal, tanpa perut yang kenyang dan otak yang berkembang optimal, tidak akan ada inovasi, efisiensi, atau daya saing. Gizi adalah fondasi dari segala bentuk pembangunan manusia.
Dari banyaknya dinamika, Langkah optimalisasi program MBG harus melalui pendekatan berbasis data by name by address (BNBA) yang terintegrasi dengan data kesehatan dan kondisi ekonomi lokal. Pendekatan ini bukan hanya membuat anggaran lebih efisien, tetapi juga membuka peluang kerja bagi relawan di tingkat desa mereka yang paling tahu siapa warga yang benar-benar membutuhkan.
Kita terlalu sering berbicara tentang “generasi emas” tanpa memastikan apakah mereka mendapat asupan bergizi, sekolah yang layak, dan kesempatan kerja yang nyata. Visi 2045 akan tetap jadi slogan kosong jika tubuh generasi mudanya rapuh oleh stunting, pikirannya tumpul karena gizi buruk, dan nasibnya terjebak dalam pengangguran struktural.
Indonesia tak butuh lebih banyak janji, tapi sinkronisasi antara visi besar dan kebijakan kecil. Revolusi gizi yang tepat sasaran harus menjadi prioritas sebelum bicara soal industri canggih atau satelit antariksa. Sebab, emas yang dijanjikan di tahun 2045 tak akan pernah bersinar jika fondasi manusianya rapuh dan dana untuk memperbaikinya justru terbuang sia-sia hari ini.
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda