Lewati ke konten utama
Home About Us Redaksi Kirim Berita Media Kit
Pedoman
Kebijakan Cookie Pedoman Media Siber Publikasi Media Online Jasa Backlink Jasa Guest Post Penulisan Artikel Pembuatan Website Pedoman AI
ID | EN

Masuk / Gabung

Jelajahi

Beranda Internasional Nasional Daerah Featured Opini Pendidikan
More
Profil Advertorial Bisnis Press Release Essay English Version Ekonomi
Informasi
About Us Redaksi Kirim Berita Media Kit
Pedoman
Kebijakan Cookie Pedoman Media Siber Pedoman AI
Masuk / Gabung
Ikuti kami
EN ARTIKEL
Beranda Internasional Nasional Daerah Featured Opini Pendidikan
More
Profil Advertorial Bisnis Press Release Essay English Version Ekonomi

  1. Beranda
  2. Kolom Opini
  3. Jebakan Demografi 2045: Saat Dana Gizi Bocor ke yang Mampu

Jebakan Demografi 2045: Saat Dana Gizi Bocor ke yang Mampu

Foto profil Fatimah
Editor: Fatimah
11 Oktober 2025, 10.17 WITA Editor: Tim Editor JurnalPost
4 menit baca
MBG

Oleh: Faojah Universitas Pamulang PSDKU Serang

JurnalPost.com - Indonesia sedang berlari menuju usia seabad kemerdekaannya. Tahun 2045 sering digembar-gemborkan sebagai “Indonesia Emas”, masa ketika negara ini diharapkan berdiri sejajar dengan kekuatan ekonomi dunia. Tapi sebelum sampai ke sana, ada satu soal mendasar yang sering dilupakan di tengah hingar-bingar visi besar itu. Yakni tentang manusia yang lapar tak bisa berpikir jernih, apalagi produktif.

IKLAN

Bonus demografi memang memberi peluang langka sekitar 70 persen penduduk Indonesia kini berada di usia produktif. Namun, bonus itu tidak otomatis menjadi kekuatan ekonomi. Ia bisa berubah menjadi beban bila kualitas sumber daya manusianya buruk. Di sinilah hubungan antara gizi, pendidikan, dan pertumbuhan ekonomi harus dipahami sebagai satu ekosistem, bukan proyek terpisah.

72084c82 26e9 413c bdbf 96fbb072ded4
Baca Juga

Fenomena Main Hakim Sendiri sebagai Ancaman terhadap Due Process of Law di Indonesia

Program Makan Bergizi Gratis (MBG) adalah investasi yang rentan gagal. Dalam praktiknya, semangat mulia itu tercederai masalah klasik. Mulai dari kebocoran anggaran karena penerima tidak tepat sasaran dan pengawasan kualitas makanan yang lemah.

Kasus-kasus seperti itu menunjukkan bahwa harapan menciptakan SDM unggul belum benar-benar tercermin dalam pelaksanaan program. Pemerintah perlu melakukan evaluasi serius dan menyeluruh, terutama dalam hal ketelitian seleksi penerima manfaat serta pengawasan kualitas makanan. Program sosial yang baik harus berdiri di atas akurasi data dan tanggung jawab moral, bukan sekadar kecepatan penyaluran atau besarnya anggaran.

Selain itu, perlu disadari bahwa tidak semua anak atau keluarga membutuhkan makan bergizi gratis. Dari sisi ekonomi, ada kelompok masyarakat yang sudah cukup mampu memenuhi kebutuhan gizinya. Bila program ini diterapkan secara seragam tanpa seleksi ketat, maka dana negara hanya akan bocor ke kelompok yang tidak membutuhkan. Padahal, dana sebesar itu bisa dialihkan untuk memperkuat gizi anak-anak di wilayah miskin, daerah tertinggal, atau kelompok berisiko tinggi terhadap stunting. Dengan begitu, anggaran publik tidak terbuang sia-sia, dan program benar-benar menjangkau mereka yang paling membutuhkan.

IKLAN

Kita tidak sedang bicara soal nasi bungkus atau lauk pauk sederhana, tapi tentang masa depan produktivitas nasional. Anak yang tumbuh dengan gizi buruk hari ini akan menjadi pekerja dengan kapasitas rendah dua dekade mendatang. Dan ketika itu terjadi, bonus demografi yang semestinya jadi anugerah justru berubah menjadi jebakan ekonomi.

Satu Piring Hari Ini
Baca Juga

Satu Piring Hari Ini, Generasi Emas Esok Hari: Mengapa MBG Penting bagi Indonesia?

Lihatlah bagaimana Korea Selatan dan China memanfaatkan momentum serupa. Mereka tidak hanya memperluas industri, tapi lebih dulu menyiapkan manusia yang sehat, terdidik, dan terlatih. Program sosial mereka terhubung langsung dengan kebijakan pendidikan dan lapangan kerja. Setiap kebijakan memiliki arah yang sama: menciptakan manusia produktif.

Di Indonesia, pola pikir semacam itu belum sepenuhnya tertanam. Pemerintah sering memisahkan urusan gizi dari urusan ekonomi, seolah keduanya tak berkaitan. Padahal, tanpa perut yang kenyang dan otak yang berkembang optimal, tidak akan ada inovasi, efisiensi, atau daya saing. Gizi adalah fondasi dari segala bentuk pembangunan manusia.

Dari banyaknya dinamika, Langkah optimalisasi program MBG harus melalui pendekatan berbasis data by name by address (BNBA) yang terintegrasi dengan data kesehatan dan kondisi ekonomi lokal. Pendekatan ini bukan hanya membuat anggaran lebih efisien, tetapi juga membuka peluang kerja bagi relawan di tingkat desa mereka yang paling tahu siapa warga yang benar-benar membutuhkan.

Kita terlalu sering berbicara tentang “generasi emas” tanpa memastikan apakah mereka mendapat asupan bergizi, sekolah yang layak, dan kesempatan kerja yang nyata. Visi 2045 akan tetap jadi slogan kosong jika tubuh generasi mudanya rapuh oleh stunting, pikirannya tumpul karena gizi buruk, dan nasibnya terjebak dalam pengangguran struktural.

Program MBG
Baca Juga

Bantuan Pemerintah Program MBG: Bebas Pajak?

Indonesia tak butuh lebih banyak janji, tapi sinkronisasi antara visi besar dan kebijakan kecil. Revolusi gizi yang tepat sasaran harus menjadi prioritas sebelum bicara soal industri canggih atau satelit antariksa. Sebab, emas yang dijanjikan di tahun 2045 tak akan pernah bersinar jika fondasi manusianya rapuh dan dana untuk memperbaikinya justru terbuang sia-sia hari ini.

Sumber artikel: https://jurnalpost.kolomopini.com/jebakan-demografi-2045-saat-dana-gizi-bocor-ke-yang-mampu/86709/

Dicetak dari JurnalPost.com pada 03 November 2026, 23.37 WITA

  • #Opini Mahasiswa
  • #Program Makan Bergizi Gratis
  • #Stunting Indonesia

Bagikan artikel

Bagikan Mengirim Tweet
JURNALPOST SOCIAL PUBLISHER

Posting ke Instagram

Menyiapkan 5 slide Reel 9:16…

Rangkaian slide vertikal sedang disusun dari artikel ini.

Konten belum dapat disiapkan.

Silakan coba kembali.

Pratinjau slide Instagram JurnalPost 1/5
REEL 9:16 · 5 SLIDE

Konten JurnalPost

Lima slide vertikal sudah disusun dalam area aman Reels. Tambahkan musik pilihan Anda setelah masuk ke Instagram.

Menyiapkan lima file gambar 9:16…

Di menu Instagram, pilih Reel, pertahankan urutan 1–5, lalu tambahkan musik yang tersedia di Instagram.

JURNALPOST SOCIAL PUBLISHER

Posting ke TikTok

Menyiapkan 5 slide TikTok 9:16…

Desain Social Publisher sedang disusun dari artikel ini.

Konten TikTok belum dapat disiapkan.

Silakan coba kembali.

Pratinjau slide TikTok JurnalPost 1/5
TIKTOK 9:16 · 5 SLIDE

Konten JurnalPost

Lima slide vertikal sudah disusun: sampul, inti berita, fakta utama, perkembangan, dan baca lengkap.

Menyiapkan lima file gambar 9:16…

Di menu berbagi, pilih TikTok, pertahankan urutan 1–5, lalu tambahkan musik atau suara di aplikasi. Jika TikTok tidak muncul, gunakan unduh manual.

Komentar 0

Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda

Komentar akan tampil setelah disetujui redaksi.

  1. Belum ada komentar. Jadilah yang pertama menyampaikan tanggapan.

Artikel Terkait

Pernah Mencari “Sakit Kepala Sebelah” di Google, Lalu Takut Umur Tinggal Setahun?

Kepemimpinan Bukan Sekadar Janji Besar, Rakyat Menunggu Hasil Nyata dari Pemerintah

Ketika Negara Gagal Menjaga Napas Warganya

Dari Instruksi ke Implementasi: Menguji Respons Kepemimpinan Presiden Prabowo dalam Penanganan Karhutla 2026

REKOMENDASI JURNALPOST

Pilihan Untukmu

Membuka Kesempatan Kerja di Tengah Tantangan Ekonomi, Menatap Masa Depan Ketenagakerjaan Indonesia

Qatar Hubungi Turki, Yordania, Mesir dan Lebanon, Perkuat Diplomasi untuk Redam Ketegangan Timur Tengah

Main Ponsel Saat Lampu Merah, Apakah Termasuk Pelanggaran Lalu Lintas? Ini Tinjauan Hukumnya

Pentingnya Menjaga Keamanan Data Pribadi di Era Digital, Kenali Risiko dan Cara Melindunginya

Pilihan Editor

  1. 1 UI Dorong Limbah Plastik Jadi Produk Bernilai Ekonomi di Desa Tembok Bali
  2. 2

    Kemandirian Pesantren: Dari Pusat Pendidikan Agama Menjadi Penggerak Ekonomi Desa

  3. 3

    Main Ponsel Saat Lampu Merah, Apakah Termasuk Pelanggaran Lalu Lintas? Ini Tinjauan Hukumnya

  4. 4

    Laba Naik, Arus Kas Turun: Ada Apa dengan Kinerja Keuangan Public Bank Berhad dan Maybank?

  5. 5

    Warga Sampetan Belajar Kelola Lampu Jalan Tenaga Surya Berbasis IoT Bersama Dosen Polines

IKLAN
JurnalPost

Media Publikasi Indonesia yang menyediakan informasi terkini. Situs ini didirikan pada tahun 2015 dan telah menjadi salah satu sumber berita yang populer di Indonesia.

Jelajahi

Advertorial Artikel Berita Bisnis Citizen Reporter Daerah Ekonomi English Version Essay Featured
Hukum Internasional Kolom Opini Nasional Olahraga Pendidikan Politik Profil Teknologi Wisata

Kanal

About Us Jurnalisme Warga Kebijakan Cookie Kebijakan Data Kirim Opini Kirim Tulisan Media Kit Pedoman Redaksi

Ikuti kami di

Facebook X/Twitter Instagram Threads TikTok Pinterest LinkedIn YouTube
© 2026 - PT Jurnal Post Indonesia. All Rights Reserved.