Lewati ke konten utama
Home About Us Redaksi Kirim Berita Media Kit
Pedoman
Kebijakan Cookie Pedoman Media Siber Publikasi Media Online Jasa Backlink Jasa Guest Post Penulisan Artikel Pembuatan Website Pedoman AI
ID | EN

Masuk / Gabung

Jelajahi

Beranda Internasional Nasional Daerah Featured Opini Pendidikan
More
Profil Advertorial Bisnis Press Release Essay English Version Ekonomi
Informasi
About Us Redaksi Kirim Berita Media Kit
Pedoman
Kebijakan Cookie Pedoman Media Siber Pedoman AI
Masuk / Gabung
Ikuti kami
EN ARTIKEL
Beranda Internasional Nasional Daerah Featured Opini Pendidikan
More
Profil Advertorial Bisnis Press Release Essay English Version Ekonomi

Terbaru

  1. UI Dorong Limbah Plastik Jadi Produk Bernilai Ekonomi di Desa Tembok Bali

  2. Aset Publik Bukan Milik Pribadi: Memahami Aturan Hukum Pengelolaan Barang Milik Negara dan Daerah

  3. Ketika Negara Gagal Menjaga Napas Warganya

  4. Mendukung Sustainable Development Goals, Dosen UM Ungkap Faktor Risiko Kehamilan yang Perlu Diwaspadai

  5. Edukasi Video HIMA-CARE Tingkatkan Perilaku Higiene Menstruasi Mahasiswi Baru di Kota Malang

  1. Beranda
  2. Kolom Opini
  3. Satu Piring Hari Ini, Generasi Emas Esok Hari: Mengapa MBG Penting bagi Indonesia?

Satu Piring Hari Ini, Generasi Emas Esok Hari: Mengapa MBG Penting bagi Indonesia?

Foto profil Annisa
Editor: Annisa
19 September 2026, 21.24 WITA Editor: Tim Editor JurnalPost
6 menit baca
Satu Piring Hari Ini

Oleh: Nuraini
Prodi Akuntansi Sektor Publik
Politeknik Keuangan Negara STAN

JurnalPost.com - Bayangkan seorang anak datang ke sekolah dengan perut kosong. Ia tetap berusaha mengikuti pelajaran, tetapi rasa lapar membuatnya sulit berkonsentrasi. Kondisinya tentu berbeda dengan anak yang sudah mendapatkan asupan makanan yang cukup sehingga dapat mengikuti pembelajaran dengan lebih nyaman.

IKLAN

Dari gambaran sederhana tersebut terlihat bahwa gizi dan pendidikan memiliki hubungan yang erat. Selain memperoleh pendidikan yang layak, anak membutuhkan makanan bergizi untuk menunjang pertumbuhan, kesehatan, serta aktivitas belajarnya.

Pemenuhan kebutuhan gizi menjadi salah satu bagian penting dalam membangun kualitas sumber daya manusia (SDM) Indonesia. Pendidikan yang berkualitas perlu berjalan beriringan dengan kondisi kesehatan dan asupan gizi yang baik.

Hal ini semakin penting karena stunting masih menjadi salah satu persoalan yang dihadapi Indonesia. Walaupun prevalensi stunting telah turun dari 21,5 persen pada 2023 menjadi 19,8 persen, penurunan tersebut masih perlu terus dilanjutkan. Artinya, pemenuhan gizi masyarakat tetap membutuhkan perhatian dan upaya yang konsisten.

Berangkat dari kebutuhan tersebut, pemerintah meluncurkan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang mulai dilaksanakan pada awal 2025. Program ini tidak hanya diarahkan untuk menyediakan makanan bagi penerima manfaat, tetapi juga menjadi bagian dari upaya meningkatkan kualitas manusia Indonesia.

MBG sebagai Investasi Sumber Daya Manusia

Pembangunan sebuah negara tidak cukup hanya dengan membangun infrastruktur atau menyediakan anggaran dalam jumlah besar. Kualitas sumber daya manusia juga menjadi faktor penting dalam menentukan keberhasilan pembangunan.

Anak yang memperoleh makanan bergizi memiliki dukungan yang lebih baik untuk tumbuh, berkembang, dan mengikuti kegiatan belajar di sekolah. Karena itu, kebutuhan gizi anak sejak usia sekolah perlu menjadi perhatian dalam mempersiapkan generasi Indonesia pada masa mendatang.

Dari sudut pandang tersebut, MBG dapat dilihat sebagai bentuk investasi sumber daya manusia yang manfaatnya diharapkan berlangsung dalam jangka panjang.

Makanan yang diterima anak bukan hanya ditujukan untuk memenuhi kebutuhan makan sehari-hari, tetapi juga diharapkan dapat membantu menjaga kesehatan serta mendukung proses belajar. Apabila pelaksanaannya berjalan baik dan konsisten, program ini berpotensi membantu menciptakan generasi yang lebih sehat.

Hal tersebut sejalan dengan perhatian terhadap pemenuhan gizi sebagai bagian dari pembangunan manusia. Dengan demikian, MBG bukan sekadar program menyediakan makanan, tetapi juga berkaitan dengan upaya mempersiapkan kualitas generasi Indonesia di masa mendatang.

MBG sebagai Bentuk Pemerataan dan Keadilan Sosial

Pembangunan sumber daya manusia juga perlu diikuti dengan pemerataan akses bagi masyarakat. Kemampuan setiap keluarga dalam menyediakan makanan bergizi untuk anak tentu tidak sama.

Melalui MBG, siswa dari berbagai latar belakang ekonomi memperoleh kesempatan untuk mendapatkan makanan bergizi di sekolah. Program ini dapat membantu memperkecil perbedaan akses terhadap makanan sehat yang sebelumnya dapat dipengaruhi oleh kemampuan ekonomi keluarga.

Di sisi lain, keberadaan makanan yang disediakan melalui MBG juga dapat membantu mengurangi sebagian pengeluaran keluarga untuk kebutuhan makan anak.

IKLAN

Asupan yang cukup diharapkan dapat membantu menjaga kesehatan sekaligus mendukung aktivitas belajar siswa. Karena itu, manfaat MBG tidak hanya berkaitan dengan makanan yang diterima anak, tetapi juga dapat membantu meringankan beban keluarga serta memberikan kesempatan yang lebih merata bagi anak-anak untuk tumbuh dan belajar.

Dari Piring ke Perekonomian Masyarakat

Selain berdampak pada aspek sosial, kehadiran MBG juga membuka peluang bagi penguatan ekonomi masyarakat.

Kebutuhan bahan pangan dalam pelaksanaan program ini menciptakan peluang bagi petani, peternak, nelayan, pedagang, hingga pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

Ketika kebutuhan pangan dipasok dari pelaku usaha lokal, belanja pemerintah dapat menjadi salah satu penggerak permintaan terhadap produk masyarakat. Penghasilan yang diterima para pelaku usaha tersebut kemudian dapat kembali berputar untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga ataupun mengembangkan usaha mereka.

Kondisi tersebut menunjukkan adanya multiplier effect atau efek berganda, ketika pengeluaran melalui suatu program dapat memberikan dampak ekonomi yang lebih luas kepada berbagai pihak yang terlibat.

Dengan demikian, manfaat satu porsi makanan dalam program MBG tidak hanya berkaitan dengan pemenuhan gizi penerimanya. Di baliknya terdapat peluang untuk mendorong aktivitas ekonomi masyarakat, terutama bagi pelaku usaha dan pemasok bahan pangan di berbagai daerah.

Memastikan MBG Tepat Sasaran dan Berkelanjutan

Pada akhirnya, Program Makan Bergizi Gratis tidak hanya berbicara mengenai makanan yang diberikan kepada anak-anak.

Di balik satu piring makanan terdapat persoalan yang lebih besar, yaitu bagaimana negara membangun kualitas manusia, mengurangi kesenjangan, menggerakkan perekonomian masyarakat, sekaligus menggunakan APBN untuk memenuhi kebutuhan dasar warga.

MBG memang masih menghadapi berbagai tantangan dalam pelaksanaannya. Dampaknya terhadap indikator tertentu, termasuk stunting, juga masih membutuhkan evaluasi berbasis data yang kuat.

Hal tersebut justru menunjukkan bahwa keberlanjutan program perlu disertai perbaikan tata kelola, pengawasan, transparansi, dan evaluasi secara terus-menerus. Program dengan cakupan besar membutuhkan pelaksanaan yang tepat agar manfaat yang diharapkan benar-benar sampai kepada penerima.

Satu piring makanan bergizi mungkin terlihat sederhana. Namun, bagi seorang anak yang sedang tumbuh dan belajar, makanan tersebut dapat menjadi bagian penting dalam proses membangun masa depan.

Ketika kebutuhan gizi terpenuhi, anak memiliki dukungan yang lebih baik untuk menjalani aktivitas sehari-hari dan mengikuti proses pembelajaran. Karena itu, apabila dilaksanakan secara tepat sasaran, transparan, serta terus disempurnakan berdasarkan bukti, MBG dapat menjadi salah satu bentuk investasi publik dalam mempersiapkan generasi Indonesia di masa depan.

Sebab, membangun generasi emas tidak hanya dimulai dari ruang kelas. Upaya tersebut juga berawal dari hal yang paling mendasar: memastikan setiap anak memiliki kesempatan untuk tumbuh sehat, belajar dengan baik, dan berkembang secara optimal.

Satu piring hari ini dapat menjadi bagian dari perjalanan panjang menuju generasi emas esok hari.

Sumber artikel: https://jurnalpost.kolomopini.com/satu-piring-hari-ini-generasi-emas-esok-hari-mengapa-mbg-penting-bagi-indonesia/97768/

Dicetak dari JurnalPost.com pada 03 November 2026, 22.59 WITA

  • #Ekonomi Kerakyatan
  • #Generasi Emas
  • #Gizi Anak
  • #Investasi SDM
  • #MBG
  • #Pendidikan Indonesia
  • #Program Makan Bergizi Gratis
  • #stunting

Bagikan artikel

Bagikan Mengirim Tweet
JURNALPOST SOCIAL PUBLISHER

Posting ke Instagram

Menyiapkan 5 slide Reel 9:16…

Rangkaian slide vertikal sedang disusun dari artikel ini.

Konten belum dapat disiapkan.

Silakan coba kembali.

Pratinjau slide Instagram JurnalPost 1/5
REEL 9:16 · 5 SLIDE

Konten JurnalPost

Lima slide vertikal sudah disusun dalam area aman Reels. Tambahkan musik pilihan Anda setelah masuk ke Instagram.

Menyiapkan lima file gambar 9:16…

Di menu Instagram, pilih Reel, pertahankan urutan 1–5, lalu tambahkan musik yang tersedia di Instagram.

JURNALPOST SOCIAL PUBLISHER

Posting ke TikTok

Menyiapkan 5 slide TikTok 9:16…

Desain Social Publisher sedang disusun dari artikel ini.

Konten TikTok belum dapat disiapkan.

Silakan coba kembali.

Pratinjau slide TikTok JurnalPost 1/5
TIKTOK 9:16 · 5 SLIDE

Konten JurnalPost

Lima slide vertikal sudah disusun: sampul, inti berita, fakta utama, perkembangan, dan baca lengkap.

Menyiapkan lima file gambar 9:16…

Di menu berbagi, pilih TikTok, pertahankan urutan 1–5, lalu tambahkan musik atau suara di aplikasi. Jika TikTok tidak muncul, gunakan unduh manual.

Komentar 0

Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda

Komentar akan tampil setelah disetujui redaksi.

  1. Belum ada komentar. Jadilah yang pertama menyampaikan tanggapan.

Artikel Terkait

Ketika Negara Gagal Menjaga Napas Warganya

Dari Instruksi ke Implementasi: Menguji Respons Kepemimpinan Presiden Prabowo dalam Penanganan Karhutla 2026

Ketika Utang Menjadi Alat Tekanan: Saat Perjanjian Lahir dari Ketakutan dan Ketidakberdayaan

Jangan Terus Menyalahkan Guru atas Rusaknya Karakter Anak, Ada Paradoks Mutu Pendidikan yang Sering Diabaikan

REKOMENDASI JURNALPOST

Pilihan Untukmu

Guru yang Terus Mengajar, Siapa yang Menjaga Semangatnya? Menelaah Motivasi Kerja di Institusi Pendidikan

HUT ke-58 Semen Tonasa, Transformasi Bisnis dan Efisiensi Jadi Fokus

Putusan MA 19 P/HUM/2026, Sekjen MDP-WATCH Desak Menkes Evaluasi dan Rombak Keanggotaan MDP

Sudah 15 Tahun Jadi Nasabah BRI, Keluarga Leni Setia di Bojonegoro Miliki 10 Rekening untuk Berbagai Kebutuhan

Pilihan Editor

  1. 1 Dukung SDG 4 dan SDG 12, Laboratorium FTS UPN Veteran Jawa Timur Kini Terapkan SOP Pengelolaan Limbah B3
  2. 2

    Inovasi Kemasan Aktif dan Cerdas Berbasis Biopolimer Umbi-Umbian untuk Memperpanjang Umur Simpan dan Mengurangi Kerugian Pangan Pascapanen

  3. 3

    Penelitian di Cilacap Ungkap 93,94 Persen Pasien Gangguan Jiwa Patuh Minum Obat, Dukungan Keluarga Jadi Perhatian

  4. 4

    Benturan Kertas dan Layar: Saat Protokol Notaris Terjebak di Pusaran Legal Deadlock Digital

  5. 5

    PMK 37 Tahun 2025 Bukan Pajak Baru, Ini yang Perlu Dipahami Pedagang Online

IKLAN
JurnalPost

Media Publikasi Indonesia yang menyediakan informasi terkini. Situs ini didirikan pada tahun 2015 dan telah menjadi salah satu sumber berita yang populer di Indonesia.

Jelajahi

Advertorial Artikel Berita Bisnis Citizen Reporter Daerah Ekonomi English Version Essay Featured
Hukum Internasional Kolom Opini Nasional Olahraga Pendidikan Politik Profil Teknologi Wisata

Kanal

About Us Jurnalisme Warga Kebijakan Cookie Kebijakan Data Kirim Opini Kirim Tulisan Media Kit Pedoman Redaksi

Ikuti kami di

Facebook X/Twitter Instagram Threads TikTok Pinterest LinkedIn YouTube
© 2026 - PT Jurnal Post Indonesia. All Rights Reserved.