Oleh: Nuraini
Prodi Akuntansi Sektor Publik
Politeknik Keuangan Negara STAN
JurnalPost.com - Bayangkan seorang anak datang ke sekolah dengan perut kosong. Ia tetap berusaha mengikuti pelajaran, tetapi rasa lapar membuatnya sulit berkonsentrasi. Kondisinya tentu berbeda dengan anak yang sudah mendapatkan asupan makanan yang cukup sehingga dapat mengikuti pembelajaran dengan lebih nyaman.
Dari gambaran sederhana tersebut terlihat bahwa gizi dan pendidikan memiliki hubungan yang erat. Selain memperoleh pendidikan yang layak, anak membutuhkan makanan bergizi untuk menunjang pertumbuhan, kesehatan, serta aktivitas belajarnya.
Pemenuhan kebutuhan gizi menjadi salah satu bagian penting dalam membangun kualitas sumber daya manusia (SDM) Indonesia. Pendidikan yang berkualitas perlu berjalan beriringan dengan kondisi kesehatan dan asupan gizi yang baik.
Hal ini semakin penting karena stunting masih menjadi salah satu persoalan yang dihadapi Indonesia. Walaupun prevalensi stunting telah turun dari 21,5 persen pada 2023 menjadi 19,8 persen, penurunan tersebut masih perlu terus dilanjutkan. Artinya, pemenuhan gizi masyarakat tetap membutuhkan perhatian dan upaya yang konsisten.
Berangkat dari kebutuhan tersebut, pemerintah meluncurkan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang mulai dilaksanakan pada awal 2025. Program ini tidak hanya diarahkan untuk menyediakan makanan bagi penerima manfaat, tetapi juga menjadi bagian dari upaya meningkatkan kualitas manusia Indonesia.
MBG sebagai Investasi Sumber Daya Manusia
Pembangunan sebuah negara tidak cukup hanya dengan membangun infrastruktur atau menyediakan anggaran dalam jumlah besar. Kualitas sumber daya manusia juga menjadi faktor penting dalam menentukan keberhasilan pembangunan.
Anak yang memperoleh makanan bergizi memiliki dukungan yang lebih baik untuk tumbuh, berkembang, dan mengikuti kegiatan belajar di sekolah. Karena itu, kebutuhan gizi anak sejak usia sekolah perlu menjadi perhatian dalam mempersiapkan generasi Indonesia pada masa mendatang.
Dari sudut pandang tersebut, MBG dapat dilihat sebagai bentuk investasi sumber daya manusia yang manfaatnya diharapkan berlangsung dalam jangka panjang.
Makanan yang diterima anak bukan hanya ditujukan untuk memenuhi kebutuhan makan sehari-hari, tetapi juga diharapkan dapat membantu menjaga kesehatan serta mendukung proses belajar. Apabila pelaksanaannya berjalan baik dan konsisten, program ini berpotensi membantu menciptakan generasi yang lebih sehat.
Hal tersebut sejalan dengan perhatian terhadap pemenuhan gizi sebagai bagian dari pembangunan manusia. Dengan demikian, MBG bukan sekadar program menyediakan makanan, tetapi juga berkaitan dengan upaya mempersiapkan kualitas generasi Indonesia di masa mendatang.
MBG sebagai Bentuk Pemerataan dan Keadilan Sosial
Pembangunan sumber daya manusia juga perlu diikuti dengan pemerataan akses bagi masyarakat. Kemampuan setiap keluarga dalam menyediakan makanan bergizi untuk anak tentu tidak sama.
Melalui MBG, siswa dari berbagai latar belakang ekonomi memperoleh kesempatan untuk mendapatkan makanan bergizi di sekolah. Program ini dapat membantu memperkecil perbedaan akses terhadap makanan sehat yang sebelumnya dapat dipengaruhi oleh kemampuan ekonomi keluarga.
Di sisi lain, keberadaan makanan yang disediakan melalui MBG juga dapat membantu mengurangi sebagian pengeluaran keluarga untuk kebutuhan makan anak.
Asupan yang cukup diharapkan dapat membantu menjaga kesehatan sekaligus mendukung aktivitas belajar siswa. Karena itu, manfaat MBG tidak hanya berkaitan dengan makanan yang diterima anak, tetapi juga dapat membantu meringankan beban keluarga serta memberikan kesempatan yang lebih merata bagi anak-anak untuk tumbuh dan belajar.
Dari Piring ke Perekonomian Masyarakat
Selain berdampak pada aspek sosial, kehadiran MBG juga membuka peluang bagi penguatan ekonomi masyarakat.
Kebutuhan bahan pangan dalam pelaksanaan program ini menciptakan peluang bagi petani, peternak, nelayan, pedagang, hingga pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
Ketika kebutuhan pangan dipasok dari pelaku usaha lokal, belanja pemerintah dapat menjadi salah satu penggerak permintaan terhadap produk masyarakat. Penghasilan yang diterima para pelaku usaha tersebut kemudian dapat kembali berputar untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga ataupun mengembangkan usaha mereka.
Kondisi tersebut menunjukkan adanya multiplier effect atau efek berganda, ketika pengeluaran melalui suatu program dapat memberikan dampak ekonomi yang lebih luas kepada berbagai pihak yang terlibat.
Dengan demikian, manfaat satu porsi makanan dalam program MBG tidak hanya berkaitan dengan pemenuhan gizi penerimanya. Di baliknya terdapat peluang untuk mendorong aktivitas ekonomi masyarakat, terutama bagi pelaku usaha dan pemasok bahan pangan di berbagai daerah.
Memastikan MBG Tepat Sasaran dan Berkelanjutan
Pada akhirnya, Program Makan Bergizi Gratis tidak hanya berbicara mengenai makanan yang diberikan kepada anak-anak.
Di balik satu piring makanan terdapat persoalan yang lebih besar, yaitu bagaimana negara membangun kualitas manusia, mengurangi kesenjangan, menggerakkan perekonomian masyarakat, sekaligus menggunakan APBN untuk memenuhi kebutuhan dasar warga.
MBG memang masih menghadapi berbagai tantangan dalam pelaksanaannya. Dampaknya terhadap indikator tertentu, termasuk stunting, juga masih membutuhkan evaluasi berbasis data yang kuat.
Hal tersebut justru menunjukkan bahwa keberlanjutan program perlu disertai perbaikan tata kelola, pengawasan, transparansi, dan evaluasi secara terus-menerus. Program dengan cakupan besar membutuhkan pelaksanaan yang tepat agar manfaat yang diharapkan benar-benar sampai kepada penerima.
Satu piring makanan bergizi mungkin terlihat sederhana. Namun, bagi seorang anak yang sedang tumbuh dan belajar, makanan tersebut dapat menjadi bagian penting dalam proses membangun masa depan.
Ketika kebutuhan gizi terpenuhi, anak memiliki dukungan yang lebih baik untuk menjalani aktivitas sehari-hari dan mengikuti proses pembelajaran. Karena itu, apabila dilaksanakan secara tepat sasaran, transparan, serta terus disempurnakan berdasarkan bukti, MBG dapat menjadi salah satu bentuk investasi publik dalam mempersiapkan generasi Indonesia di masa depan.
Sebab, membangun generasi emas tidak hanya dimulai dari ruang kelas. Upaya tersebut juga berawal dari hal yang paling mendasar: memastikan setiap anak memiliki kesempatan untuk tumbuh sehat, belajar dengan baik, dan berkembang secara optimal.
Satu piring hari ini dapat menjadi bagian dari perjalanan panjang menuju generasi emas esok hari.
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda