Oleh: Imelda Naysilla Putri Leksono
Mahasiswa S1 Kesehatan Masyarakat Universitas Airlangga
Hoaks yang Semakin Sulit Dikenali
Kita hidup di masa ketika informasi dapat menyebar hanya dalam hitungan detik. Sebuah video di TikTok, pesan berantai di WhatsApp, atau unggahan di Instagram dapat dilihat dan dibagikan ribuan orang bahkan sebelum kebenarannya sempat diperiksa.
Persoalannya, hoaks saat ini tidak selalu hadir dalam bentuk berita dengan judul mencurigakan atau informasi yang mudah dikenali sebagai kebohongan. Perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) membuat informasi palsu dapat dikemas dalam bentuk gambar, suara, bahkan video yang tampak begitu meyakinkan.
Digital News Report 2026 dari Reuters Institute mencatat bahwa 64 persen masyarakat Indonesia yang disurvei memperoleh berita melalui media sosial. Angka tersebut menunjukkan besarnya peran platform digital dalam membentuk cara masyarakat mendapatkan informasi.
Namun, karakter media sosial yang mengutamakan kecepatan juga membawa tantangan tersendiri. Informasi yang menarik perhatian sering kali menyebar lebih cepat dibandingkan informasi yang telah melewati proses verifikasi.
Karena itu, masyarakat tidak cukup hanya diingatkan untuk “jangan percaya hoaks”. Hal yang jauh lebih penting adalah membangun kebiasaan memeriksa informasi sebelum mempercayai, terlebih membagikannya kepada orang lain.
Ketika AI Membuat Hoaks Terlihat Nyata
Salah satu perubahan terbesar dalam lanskap penyebaran hoaks adalah berkembangnya teknologi AI generatif.
Masyarakat Antifitnah Indonesia (Mafindo), dalam pemetaan periode 21 Oktober 2024 hingga 19 Oktober 2025, mengidentifikasi sebanyak 1.593 hoaks. Mafindo juga mencatat meningkatnya penggunaan teknologi AI, termasuk deepfake, dalam produksi konten disinformasi.
Teknologi tersebut membuat tantangan dalam mengenali informasi palsu menjadi semakin kompleks.
Selama ini, banyak orang cenderung menilai kebenaran berdasarkan sesuatu yang dapat dilihat atau didengar secara langsung. Ketika sebuah video memperlihatkan seseorang berbicara, misalnya, kita cenderung beranggapan bahwa orang tersebut benar-benar mengatakan apa yang terdengar dalam video.
Kini, asumsi semacam itu perlu dipertimbangkan kembali.
Teknologi generatif dapat digunakan untuk memanipulasi wajah, suara, gerakan, bahkan konteks suatu peristiwa. Video yang tampak autentik belum tentu merekam kejadian sebagaimana sebenarnya.
Artinya, kalimat “saya melihat videonya sendiri” tidak lagi otomatis berarti “saya melihat fakta yang sebenarnya”.
Hoaks Bukan Sekadar Informasi yang Salah
Dampak hoaks tidak berhenti pada kesalahan memahami sebuah berita. Dalam kondisi tertentu, informasi palsu dapat memengaruhi keputusan kesehatan, menimbulkan kerugian finansial, memicu kepanikan, hingga memperburuk konflik sosial.
Risikonya menjadi semakin serius ketika hoaks berkaitan dengan kesehatan.
Pada September 2026, Kementerian Komunikasi dan Digital mengklarifikasi sebuah video yang mengklaim bahwa virus Hanta tidak menular antarmanusia dan vaksinnya telah dipatenkan sejak 2022.
Klaim tersebut dinyatakan tidak benar. Berdasarkan pemeriksaan, paten yang disebut dalam konten tersebut berkaitan dengan protein antigen untuk pengembangan vaksin, bukan paten vaksin virus Hanta sebagaimana diklaim dalam unggahan yang beredar.
Kasus seperti ini memperlihatkan satu karakter penting dari hoaks modern: informasi palsu tidak selalu dibangun sepenuhnya dari sesuatu yang fiktif.
Sebagian hoaks justru menggunakan potongan fakta yang benar, kemudian mengubah konteks, menghilangkan informasi penting, atau menambahkan klaim yang keliru. Campuran antara fakta dan informasi salah inilah yang membuat hoaks semakin sulit dikenali.
Jangan Hanya Menjadi Pengguna, Jadilah Pemeriksa Informasi
Menghadapi hoaks bukan berarti masyarakat harus mencurigai seluruh informasi yang beredar di internet.
Tidak semua informasi yang berbeda dengan pendapat kita merupakan hoaks. Sebaliknya, informasi yang sesuai dengan keyakinan kita juga tidak otomatis menjadi benar.
Di sinilah kemampuan berpikir kritis dibutuhkan.
Langkah paling sederhana adalah berhenti sejenak sebelum menekan tombol bagikan. Periksa siapa sumber pertama informasi tersebut, kapan informasi dibuat, apakah konteksnya masih sesuai, serta apakah media kredibel lainnya memberitakan hal yang sama.
Gambar dan video juga perlu diperiksa. Sebuah foto bisa saja benar-benar asli, tetapi berasal dari peristiwa yang terjadi beberapa tahun sebelumnya atau bahkan dari negara yang berbeda.
Hal serupa berlaku pada potongan video. Rekaman asli dapat dipotong sedemikian rupa sehingga konteks pembicaraan berubah ketika ditampilkan kepada publik.
Kehati-hatian perlu ditingkatkan apabila informasi berkaitan dengan kesehatan, hukum, kebijakan publik, bencana, atau kondisi darurat. Untuk isu-isu tersebut, masyarakat sebaiknya memeriksa sumber resmi dan tidak hanya mengandalkan pesan berantai atau unggahan media sosial.
Tanggung Jawab Bersama di Ruang Digital
Mengatasi hoaks juga tidak dapat dibebankan hanya kepada masyarakat.
Pemerintah, platform digital, media, pembuat konten, dan pengguna memiliki tanggung jawab masing-masing dalam menciptakan ekosistem informasi yang lebih sehat.
Platform digital perlu terus meningkatkan mekanisme pendeteksian dan pelabelan terhadap konten yang dimanipulasi menggunakan AI. Pemerintah perlu memberikan klarifikasi secara cepat, terbuka, dan mudah dipahami ketika informasi palsu mulai beredar.
Media memiliki tanggung jawab menjalankan proses verifikasi secara profesional sebelum menyampaikan informasi kepada publik. Sementara masyarakat perlu meningkatkan literasi digital agar mampu menilai informasi secara lebih kritis.
Dengan demikian, upaya melawan hoaks tidak seharusnya hanya berfokus pada menghapus informasi palsu setelah menjadi viral.
Yang jauh lebih penting adalah membangun masyarakat yang tidak mudah mempercayai dan menyebarkan sebuah informasi sebelum melakukan pemeriksaan.
Berhenti Sejenak Sebelum Membagikan
Pada akhirnya, menghadapi hoaks bukan perlombaan untuk menjadi orang pertama yang mengetahui atau membagikan sebuah informasi.
Justru di tengah derasnya arus informasi, kemampuan untuk berhenti sejenak menjadi semakin penting.
Kita tidak harus langsung mempercayai sebuah informasi, tetapi juga tidak perlu terburu-buru menolaknya. Sikap yang dibutuhkan adalah sikap kritis: mencari sumber, memeriksa konteks, membandingkan informasi, dan mempertimbangkan bukti yang tersedia.
Kebiasaan sederhana tersebut menjadi semakin penting ketika teknologi dapat membuat sesuatu yang palsu terlihat dan terdengar nyata.
Pada era digital seperti sekarang, kemampuan membedakan fakta dan manipulasi bukan lagi sekadar keterampilan tambahan. Kemampuan tersebut telah menjadi bagian dari tanggung jawab kita sebagai masyarakat digital.
Sumber:
Reuters Institute, Digital News Report 2026 – Indonesia.
Masyarakat Antifitnah Indonesia (Mafindo), Deepfake dan Scam Mewarnai Tahun Pertama Prabowo–Gibran, 2025.
Kementerian Komunikasi dan Digital RI, klarifikasi Hoaks Virus Hanta Tidak Menular Antarmanusia dan Vaksinnya Telah Dipatenkan Sejak 2022, 16 September 2026.
Kementerian Komunikasi dan Digital RI, Jaga Integritas Informasi, Platform Digital Ikut Bertanggung Jawab, 3 September 2026.
TIMES Indonesia, Deepfake dan Digital Scam Dominasi Lanskap Hoaks Nasional 2025, 2025.
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda