BATU, JurnalPost.com – Mahasiswa Program Studi Akuntansi Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya yang tergabung dalam Kelompok 9 melaksanakan Kuliah Kerja Lapangan (KKL) di Desa Oro-Oro Ombo, Kota Batu, Jawa Timur, Selasa (6/10/2026).
Kegiatan ini menjadi kesempatan bagi mahasiswa untuk mempelajari secara langsung tata kelola keuangan desa, pengembangan Badan Usaha Milik Desa (BUM Desa), serta pemanfaatan potensi wisata dalam mendukung perekonomian masyarakat.
Di bawah bimbingan dosen Abdullah Kafabih, M.SE., mahasiswa tidak hanya mendapatkan pemaparan materi, tetapi juga mengunjungi sejumlah unit usaha untuk melihat bagaimana konsep akuntansi dan pengelolaan bisnis diterapkan dalam aktivitas ekonomi desa.
Rangkaian kegiatan dimulai dengan keberangkatan rombongan pada pukul 06.30 WIB. Mahasiswa tiba di Desa Oro-Oro Ombo sekitar pukul 09.30 WIB dan mengikuti acara pembukaan yang dihadiri perwakilan program studi serta pemerintah desa.
Acara tersebut juga dirangkaikan dengan penandatanganan nota kesepahaman atau Memorandum of Understanding (MoU) antara Program Studi Akuntansi UIN Sunan Ampel Surabaya dan Pemerintah Desa Oro-Oro Ombo.
Mengenal Perkembangan Ekonomi Desa Oro-Oro Ombo
Kepala Desa Oro-Oro Ombo, Wiweko, menjadi pemateri pertama dengan menjelaskan perjalanan pembangunan desa hingga mampu mengembangkan berbagai potensi ekonomi berbasis pariwisata.
Dalam pemaparannya, Wiweko menyampaikan bahwa Oro-Oro Ombo mengalami perkembangan cukup signifikan. Desa yang pada 2008 masih berstatus tertinggal tersebut berhasil mencapai status desa mandiri pada 2021.
Bahkan, pada 2022, Oro-Oro Ombo disebut berhasil menempati peringkat pertama nasional dalam Indeks Desa Membangun (IDM).
Dengan luas wilayah sekitar 13,9 kilometer persegi dan jumlah penduduk 12.026 jiwa, Oro-Oro Ombo memiliki potensi ekonomi yang berkaitan erat dengan perkembangan sektor pariwisata Kota Batu.
Pengembangan tersebut didukung kemitraan dengan sejumlah perusahaan, antara lain PT Mutiara Indah Sejahtera yang mengelola Batu Night Spectacular (BNS), PT Siner Internasional melalui Batu Love Garden (Baloga), serta PT Jaya Giri Panderman yang berkaitan dengan pengembangan Jatim Park.
Selain menjalin kemitraan dengan pelaku usaha, pemerintah desa juga mengembangkan program Oro-Oro Ombo 1000 Homestay sebagai upaya memperluas keterlibatan masyarakat dalam sektor pariwisata.
Wiweko turut menjelaskan pentingnya transparansi dan akuntabilitas dalam pengambilan keputusan, termasuk melalui musyawarah desa bersama Badan Permusyawaratan Desa (BPD).
Dari sisi anggaran, Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa (APBDes) Oro-Oro Ombo tercatat meningkat dari Rp7,22 miliar pada 2020 menjadi Rp12,385 miliar pada 2025. Perkembangan tersebut juga disertai peningkatan Pendapatan Asli Desa (PADes).
BUM Desa Panderman Kembangkan Berbagai Unit Usaha
Pembahasan dilanjutkan oleh Bendahara Umum Desa Oro-Oro Ombo, As'ad Nur Salim Ma'as Hamzah, yang memaparkan perkembangan BUM Desa Panderman sebagai salah satu penggerak ekonomi lokal.
BUM Desa Panderman mulai dirintis pada 2014 dengan kegiatan usaha awal berupa jasa fotokopi. Seiring perkembangan kebutuhan masyarakat dan potensi desa, unit usahanya kemudian diperluas ke sektor perdagangan, kuliner, pariwisata, kemitraan, hingga peternakan.

Beberapa usaha yang dikembangkan meliputi pengelolaan kafe, Kedai Kopi Panderman, usaha ikan asapan, Rest Area Jalibar, serta peternakan ayam petelur.
Pengembangan berbagai unit bisnis tersebut dilakukan dengan memanfaatkan aset desa sekaligus membuka peluang keterlibatan masyarakat melalui kerja sama usaha.
Melalui pengelolaan tersebut, BUM Desa diharapkan tidak hanya menjadi sumber pendapatan, tetapi juga mampu menciptakan aktivitas ekonomi yang berkelanjutan.
Bagi mahasiswa akuntansi, pemaparan ini memberikan gambaran mengenai pentingnya pengelolaan modal, pencatatan transaksi, pengawasan keuangan, dan evaluasi kinerja dalam menjalankan usaha milik desa.
Pentingnya Pencatatan Keuangan bagi UMKM
Materi berikutnya disampaikan oleh Dr. Imam Buchori, S.E., M.Si., yang membahas penerapan tata kelola keuangan sederhana bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) serta unit usaha desa.
Salah satu hal yang menjadi perhatian dalam pemaparannya adalah pentingnya memisahkan keuangan pribadi dengan keuangan usaha.
Pemisahan tersebut diperlukan agar pemilik usaha dapat mengetahui kondisi keuangan secara lebih jelas, termasuk besarnya pendapatan, pengeluaran, keuntungan, maupun kebutuhan modal.
Prinsip serupa juga berlaku dalam pengelolaan keuangan desa, khususnya terkait pemisahan rekening BUM Desa dan rekening pemerintah desa yang memiliki fungsi serta peruntukan berbeda.
Selain pencatatan transaksi, penyusunan laporan keuangan dinilai penting sebagai dasar pengambilan keputusan dan bentuk pertanggungjawaban pengelola usaha kepada pihak-pihak yang berkepentingan.
Mahasiswa juga mendapatkan pemahaman bahwa kemampuan mengelola keuangan perlu didukung keterampilan komunikasi dan kerja sama dalam mengembangkan bisnis.
Dengan demikian, penerapan ilmu akuntansi tidak hanya berkaitan dengan penyusunan laporan, tetapi juga berperan dalam menjaga keberlangsungan usaha dan mendukung keputusan ekonomi.
Kunjungi Unit Usaha hingga Wisata Petik Stroberi
Setelah mengikuti sesi materi, mahasiswa Kelompok 9 melanjutkan kegiatan dengan kunjungan lapangan ke sejumlah lokasi yang menjadi bagian dari aktivitas ekonomi Desa Oro-Oro Ombo.
Beberapa tempat yang dikunjungi antara lain BUM Desa Panderman, Koperasi Wanita, Rest Area Jalibar, serta kawasan pemanfaatan lahan Batu Night Spectacular (BNS).
Melalui kunjungan tersebut, mahasiswa dapat melihat bagaimana aset dan potensi desa dimanfaatkan untuk mengembangkan kegiatan usaha yang melibatkan masyarakat setempat.
Rombongan juga diperkenalkan dengan pengembangan wisata petik stroberi yang tengah dirintis sebagai salah satu alternatif destinasi wisata di Oro-Oro Ombo.
Pengembangan wisata berbasis pertanian tersebut menunjukkan adanya upaya diversifikasi kegiatan ekonomi desa agar tidak hanya bergantung pada objek wisata yang telah berkembang sebelumnya.
Bagi mahasiswa, pengalaman tersebut memberikan perspektif mengenai hubungan antara pengelolaan sumber daya, strategi pengembangan usaha, dan penciptaan nilai ekonomi bagi masyarakat.
Menghubungkan Teori Akuntansi dengan Praktik Lapangan
Pelaksanaan KKL di Desa Oro-Oro Ombo menjadi bagian dari pembelajaran mahasiswa untuk memahami penerapan ilmu akuntansi di luar lingkungan perkuliahan.
Melalui pemaparan narasumber dan kunjungan langsung, mahasiswa memperoleh gambaran mengenai pengelolaan anggaran pemerintah desa, operasional BUM Desa, pencatatan keuangan UMKM, hingga pemanfaatan potensi lokal untuk kegiatan ekonomi.
Kegiatan tersebut juga memperlihatkan bahwa keberhasilan pengembangan ekonomi desa tidak hanya ditentukan oleh besarnya potensi sumber daya, tetapi juga dipengaruhi kualitas tata kelola, transparansi, kemitraan, dan partisipasi masyarakat.
Pengalaman lapangan ini diharapkan dapat memperluas wawasan mahasiswa sekaligus meningkatkan kemampuan mereka dalam memahami persoalan ekonomi dan keuangan yang dihadapi masyarakat.
Desa Oro-Oro Ombo menjadi salah satu contoh pembelajaran mengenai bagaimana pemerintah desa, pelaku usaha, masyarakat, dan berbagai mitra dapat berkolaborasi untuk mengembangkan perekonomian lokal secara berkelanjutan.
Adapun mahasiswa yang tergabung dalam Kelompok 9 yakni Winda Alfitri Ayuhanas (08020224085), Carissa Azzahra Anianto (08030224087), Syeren Niti Fatimah (08030224091), Marissa Azzahra (08030224089), Amalia Fadillah (08030224143), Zahra Aulia R (08020224086), Elok Fitrotus Zakiyyah (08030224088), Alfinda Salsabilla (08040224095), Erna (08030224144), Aisah Rohma (08040224094), Alif Al Hilal Ahmad (08040224096), dan Ahmad Fiyan Firdaus (08040224092).
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda