JurnalPost.com — Kesadaran masyarakat terhadap pentingnya gaya hidup sehat semakin mendorong minat untuk berolahraga. Berbagai aktivitas fisik, mulai dari lari, latihan di pusat kebugaran (gym), yoga, Pilates, padel, tenis, hingga HYROX, kini menjadi pilihan untuk menjaga kesehatan sekaligus meningkatkan kebugaran tubuh.
Namun, di tengah meningkatnya antusiasme tersebut, muncul satu pertanyaan menarik: apakah semakin sering seseorang berolahraga berarti tubuhnya akan semakin sehat?
Olahraga memang memberikan banyak manfaat bagi kesehatan. Akan tetapi, frekuensi dan intensitas latihan yang tinggi tidak selalu menghasilkan kondisi tubuh yang lebih baik, terutama apabila tidak diimbangi dengan waktu pemulihan yang memadai.
Menurut World Health Organization (WHO), orang dewasa dianjurkan melakukan aktivitas aerobik intensitas sedang selama 150–300 menit per minggu atau aktivitas aerobik intensitas berat selama 75–150 menit per minggu. Selain itu, aktivitas penguatan otot dianjurkan setidaknya dua hari dalam seminggu.
Rekomendasi tersebut tidak berarti seseorang harus menjalani latihan berat setiap hari. Tubuh membutuhkan keseimbangan antara aktivitas fisik dan pemulihan agar manfaat olahraga dapat diperoleh secara optimal.
Dengan kata lain, menjaga kebugaran bukan sekadar tentang seberapa sering seseorang berolahraga, melainkan juga bagaimana tubuh diberikan kesempatan untuk beristirahat dan beradaptasi.
Apa Itu Rest Day dan Mengapa Penting?
Rest day atau hari istirahat merupakan waktu ketika seseorang mengurangi atau menghentikan sementara latihan terstruktur untuk memberikan kesempatan bagi tubuh memulihkan diri setelah berolahraga.
Meski disebut hari istirahat, rest day bukan berarti seseorang harus berdiam diri sepanjang hari. Aktivitas ringan, seperti berjalan santai, melakukan peregangan, atau aktivitas sehari-hari yang tidak terlalu membebani tubuh, tetap dapat dilakukan selama tidak memperburuk kelelahan maupun menimbulkan rasa sakit.
Pemulihan menjadi bagian penting dari program latihan karena tubuh memerlukan waktu untuk beradaptasi terhadap beban fisik yang diterima.
Terdapat beberapa alasan mengapa waktu istirahat perlu diperhatikan dalam rutinitas olahraga.
1. Memberikan Kesempatan bagi Tubuh untuk Pulih
Ketika berolahraga, otot dan berbagai sistem tubuh menerima beban yang memicu proses adaptasi. Proses tersebut membantu tubuh meningkatkan kekuatan, daya tahan, dan kemampuan menghadapi latihan berikutnya.
Namun, latihan berat juga dapat menimbulkan kelelahan dan menyebabkan penurunan kemampuan fisik untuk sementara waktu.
Penelitian Sousa dan rekan-rekannya (2024) dalam Journal of Human Kinetics menjelaskan bahwa kebutuhan pemulihan setelah latihan resistensi dipengaruhi oleh sejumlah faktor, termasuk volume latihan, jenis gerakan, dan tingkat kelelahan yang ditimbulkan.
Latihan dengan volume tinggi atau latihan yang dilakukan hingga otot tidak mampu lagi menyelesaikan repetisi dengan teknik yang baik, yang dikenal sebagai training to failure, dapat meningkatkan kebutuhan pemulihan.
Artinya, semakin besar beban latihan yang diberikan, semakin penting pula memperhatikan kesiapan tubuh sebelum kembali menjalani aktivitas dengan intensitas serupa.
Memaksakan latihan berat ketika tubuh belum pulih dapat membuat kualitas latihan berikutnya menurun.
2. Mendukung Proses Pembentukan dan Perbaikan Otot
Pembentukan otot tidak hanya berlangsung ketika seseorang sedang mengangkat beban atau melakukan latihan kekuatan.
Setelah latihan selesai, tubuh tetap menjalankan berbagai proses perbaikan dan adaptasi. Salah satu mekanisme yang berperan adalah muscle protein synthesis (MPS) atau sintesis protein otot.
Proses ini membantu tubuh membentuk protein otot sebagai bagian dari respons terhadap latihan.
Penelitian Davies dan rekan-rekannya (2024), yang dipublikasikan dalam Translational Sports Medicine, menunjukkan bahwa peningkatan sintesis protein otot setelah latihan resistensi dapat terukur hingga sekitar 48 jam setelah latihan.
Namun, durasi dan besarnya respons tersebut dapat berbeda pada setiap individu, bergantung pada usia, pengalaman berlatih, karakteristik latihan, dan faktor lainnya.
Temuan ini bukan berarti setiap orang harus berhenti berolahraga selama 48 jam setelah menjalani latihan beban.
Sebaliknya, penelitian tersebut menunjukkan bahwa proses adaptasi tubuh masih berlangsung meskipun sesi latihan telah selesai.
Selain waktu istirahat, pembentukan otot juga dipengaruhi oleh kecukupan energi dan protein, kualitas tidur, serta konsistensi program latihan.
Karena itu, olahraga yang terencana perlu diimbangi dengan pola makan dan kebiasaan istirahat yang mendukung proses pemulihan.
3. Membantu Menjaga Performa Latihan
Salah satu tujuan berolahraga secara teratur adalah meningkatkan kemampuan fisik dari waktu ke waktu. Namun, peningkatan tersebut tidak hanya ditentukan oleh seberapa sering seseorang menjalani latihan.
Pemulihan yang tidak memadai dapat menyebabkan kelelahan menumpuk dari satu sesi latihan ke sesi berikutnya.
Akibatnya, seseorang mungkin merasa lebih cepat lelah, kesulitan mempertahankan beban latihan, atau tidak mampu berolahraga dengan kualitas yang sama seperti biasanya.
Kondisi tersebut menunjukkan pentingnya menyeimbangkan beban latihan dengan waktu pemulihan.
Dalam pernyataan konsensus mengenai pemulihan dan performa olahraga, Kellmann dan rekan-rekannya (2018) menekankan pentingnya pengelolaan keseimbangan antara beban latihan, kelelahan, dan pemulihan untuk mendukung performa atlet.
Prinsip ini juga relevan bagi masyarakat yang berolahraga untuk menjaga kebugaran.
Menambah frekuensi latihan belum tentu memberikan hasil yang lebih baik apabila tubuh belum siap menerima beban berikutnya.
Apakah Semua Orang Membutuhkan Rest Day yang Sama?
Tidak ada satu jadwal istirahat yang berlaku untuk semua orang.
Kebutuhan pemulihan dapat berbeda-beda, bergantung pada intensitas dan volume latihan, tingkat kebugaran, kualitas tidur, asupan nutrisi, serta respons tubuh masing-masing.
Seseorang yang melakukan latihan beban intensitas tinggi mungkin membutuhkan pemulihan lebih panjang dibandingkan individu yang hanya melakukan aktivitas fisik ringan.
Begitu pula latihan yang melibatkan banyak kelompok otot dapat menimbulkan kebutuhan pemulihan yang berbeda dibandingkan latihan yang hanya berfokus pada kelompok otot tertentu.
Oleh karena itu, rest day sebaiknya disesuaikan dengan program latihan dan kondisi tubuh, bukan sekadar mengikuti jadwal olahraga orang lain.
Perlu dipahami pula bahwa waktu istirahat yang lebih panjang tidak selalu berarti peningkatan kekuatan atau massa otot yang lebih besar.
Kuncinya terletak pada keseimbangan antara latihan yang memberikan rangsangan cukup dan pemulihan yang memungkinkan tubuh beradaptasi.
Cara Menjaga Keseimbangan antara Olahraga dan Istirahat
Agar olahraga memberikan manfaat dalam jangka panjang, terdapat beberapa langkah yang dapat diterapkan dalam rutinitas sehari-hari.
Pertama, atur intensitas latihan. Tidak semua sesi olahraga harus dilakukan dengan intensitas tinggi. Mengombinasikan latihan berat dan aktivitas yang lebih ringan dapat membantu mengelola kelelahan.
Kedua, penuhi kebutuhan tidur. Tidur yang cukup dan berkualitas berperan penting dalam mendukung pemulihan serta mempersiapkan tubuh menghadapi aktivitas berikutnya.
Ketiga, perhatikan asupan nutrisi dan cairan. Kecukupan energi, protein, dan cairan membantu menunjang berbagai proses fisiologis yang diperlukan selama pemulihan.
Keempat, kenali respons tubuh. Kelelahan yang tidak kunjung membaik, penurunan performa berulang, atau nyeri yang menetap merupakan tanda bahwa beban latihan dan kebutuhan pemulihan perlu dievaluasi. Apabila keluhan berlangsung terus-menerus atau mengganggu aktivitas, pemeriksaan oleh tenaga kesehatan dapat diperlukan.
Kelima, sesuaikan olahraga dengan kemampuan diri. Program latihan sebaiknya dirancang berdasarkan kondisi fisik, pengalaman berolahraga, serta tujuan kebugaran yang ingin dicapai.
Membangun kebiasaan olahraga yang sehat membutuhkan konsistensi, tetapi konsistensi tidak harus diwujudkan melalui latihan berat setiap hari.
Istirahat Juga Bagian dari Gaya Hidup Sehat
Olahraga merupakan bagian penting dari upaya menjaga kesehatan, meningkatkan kebugaran, serta mendukung kualitas hidup. Namun, manfaat tersebut tidak hanya ditentukan oleh seberapa sering atau seberapa keras seseorang berlatih.
Tubuh juga membutuhkan waktu untuk beradaptasi, memperbaiki diri, dan mempersiapkan diri menghadapi aktivitas berikutnya.
Berolahraga setiap hari bukan sesuatu yang otomatis buruk, selama jenis aktivitas, intensitas, dan kebutuhan pemulihannya diperhatikan. Aktivitas ringan yang dilakukan secara rutin tentu memiliki tuntutan fisik berbeda dibandingkan latihan berat setiap hari.
Karena itu, rest day bukanlah tanda kemalasan ataupun kurangnya disiplin. Mengatur waktu istirahat sesuai kebutuhan justru menjadi bagian dari strategi latihan yang baik.
Pada akhirnya, tujuan berolahraga bukan sekadar melakukan latihan sebanyak mungkin, melainkan membangun kebugaran yang sehat, seimbang, dan dapat dipertahankan dalam jangka panjang.
Referensi
World Health Organization. (2020). WHO Guidelines on Physical Activity and Sedentary Behaviour. World Health Organization.
Sousa, C. A., Zourdos, M. C., Storey, A. G., & Helms, E. R. (2024). The Importance of Recovery in Resistance Training Microcycle Construction. Journal of Human Kinetics, 91, 205–223. DOI: 10.5114/jhk/186659.
Davies, R. W., Lynch, A. E., Kumar, U., & Jakeman, P. M. (2024). Characterisation of the Muscle Protein Synthetic Response to Resistance Exercise in Healthy Adults: A Systematic Review and Exploratory Meta-Analysis. Translational Sports Medicine, 2024, 3184356. DOI: 10.1155/2024/3184356.
Kellmann, M., Bertollo, M., Bosquet, L., et al. (2018). Recovery and Performance in Sport: Consensus Statement. International Journal of Sports Physiology and Performance, 13(2), 240–245. DOI: 10.1123/ijspp.2017-0
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda