Lewati ke konten utama
Home About Us Redaksi Kirim Berita Media Kit
Pedoman
Kebijakan Cookie Pedoman Media Siber Publikasi Media Online Jasa Backlink Jasa Guest Post Penulisan Artikel Pembuatan Website Pedoman AI
ID | EN

Masuk / Gabung

Jelajahi

Beranda Internasional Nasional Daerah Featured Opini Pendidikan
More
Profil Advertorial Bisnis Press Release Essay English Version Ekonomi
Informasi
About Us Redaksi Kirim Berita Media Kit
Pedoman
Kebijakan Cookie Pedoman Media Siber Pedoman AI
Masuk / Gabung
Ikuti kami
EN ARTIKEL
Beranda Internasional Nasional Daerah Featured Opini Pendidikan
More
Profil Advertorial Bisnis Press Release Essay English Version Ekonomi

  1. Beranda
  2. Berita
  3. Tak Harus Selalu Beli Benih, Dosen Universitas Brawijaya Ajak Petani Sumberpasir Kuasai Participatory Breeding

Tak Harus Selalu Beli Benih, Dosen Universitas Brawijaya Ajak Petani Sumberpasir Kuasai Participatory Breeding

Foto profil Nadia
Editor: Nadia
12 Juli 2026, 18.40 WITA Editor: Tim Editor JurnalPost
4 menit baca
Universitas Brawijaya

Penulis: Shabrina Rahma Septiani Afiliasi: Fakultas Bio-industri Pertanian dan Kehutanan, Universitas Brawijaya

MALANG, JurnalPost.com — Puluhan perwakilan petani dari Desa Sumberpasir, Kecamatan Pakis, Kabupaten Malang, mengikuti kegiatan participatory breeding atau pemuliaan partisipatif yang digelar Universitas Brawijaya (UB), Minggu (12/7/2026).

IKLAN

Kegiatan yang berlangsung di Kedai Bening milik warga setempat tersebut menghadirkan ahli pemuliaan tanaman, Dr. Budi Waluyo, S.P., M.P. Ia didampingi dua mahasiswanya, Fatahillah Salsa Nur Rizqi, S.P. dan Rizki Maulana, S.P.

FISIP UB
Baca Juga

Tingkatkan Kesadaran Lingkungan, FISIP UB Lakukan Pendekatan Melalui Pendampingan Pendidikan di Beta Islamic Eco School

Kegiatan ini bertujuan membekali para petani dengan pengetahuan teknis mengenai produksi benih secara mandiri untuk komoditas padi, cabai, buncis, dan kacang panjang. Sejumlah mahasiswa yang sedang menjalankan penelitian di wilayah tersebut juga turut menghadiri kegiatan.

Dalam pemaparannya, Dr. Budi Waluyo, yang juga merupakan pengarah BWAcademy, menekankan bahwa kemandirian benih dapat diwujudkan oleh petani melalui metode selective picking atau pemilihan tanaman secara selektif.

Tanaman yang memiliki penampilan seragam diamati dan diberi tanda, kemudian dibiarkan hingga mencapai masa masak fisiologis sebelum dipanen.

“Petani harus bisa membedakan tanaman yang memiliki penampilan seragam, kemudian menandainya. Benih dari tanaman-tanaman tersebut nantinya dapat dijadikan sebagai bahan tanam untuk musim berikutnya,” jelasnya.

UB Olah Kulit Ari Kacang
Baca Juga

Mahasiswa UB Olah Kulit Ari Kacang Tanah Jadi Lip Balm dan Cleansing Balm, Dibagikan ke Warga Vietnam

Pemahaman mengenai masa masak fisiologis juga ditekankan dalam penyampaian materi. Tahap tersebut merupakan kondisi ketika benih telah mencapai tingkat kemasakan optimal sehingga memiliki bobot maksimal dan daya tumbuh yang tinggi.

Waktu panen menjadi salah satu faktor yang sangat menentukan kualitas benih. Panen yang dilakukan terlalu dini dapat menghasilkan benih keriput dengan daya simpan rendah. Sebaliknya, panen yang terlambat berisiko menyebabkan benih terserang jamur atau rontok akibat hujan dan angin.

Kriteria benih yang layak digunakan untuk penanaman turut dipaparkan kepada peserta. Benih yang baik memiliki bentuk utuh, berisi, tidak keriput, serta memperlihatkan warna cerah yang sesuai dengan karakter varietasnya.

Sebagai langkah sederhana, kualitas benih dapat diuji melalui perendaman di dalam air. Benih yang bernas akan tenggelam, sedangkan benih hampa biasanya mengapung.

Andi Azhar
Baca Juga

Bawa Gagasan dan Pengalaman soal Internasionalisasi dan Sertifikasi Profesi, Dosen UM Bengkulu Diundang Jadi Pembicara di Malaysia

IKLAN

Suasana forum semakin hidup ketika sesi tanya jawab dibuka. Selama hampir satu jam, peserta menyampaikan berbagai pertanyaan, mulai dari teknik penyimpanan benih cabai agar mampu bertahan hingga enam bulan, cara mengatasi serangan jamur pada benih padi saat musim hujan, hingga metode sederhana untuk menguji daya kecambah sebelum benih ditanam.

Di tengah diskusi, Khusnul, salah seorang petani yang menggarap lahan seluas beberapa hektare, mengangkat tangan dan menyampaikan pertanyaan yang menarik perhatian seluruh peserta.

“Pak, mengapa petani perlu menyisihkan sebagian hasil panennya untuk dijadikan benih? Bukankah saat ini benih sudah mudah dibeli di pasaran?” tanyanya.

Dr. Budi menjelaskan bahwa menyisihkan sebagian hasil panen untuk dijadikan benih bukan sekadar kebiasaan lama, melainkan strategi budidaya yang masih relevan hingga saat ini.

Langkah tersebut dapat membantu petani menghemat biaya produksi karena tidak harus membeli benih baru pada setiap musim tanam.

Menurutnya, tidak semua komoditas harus bergantung pada benih baru yang dibeli dari toko. Berbagai tanaman seperti padi, cabai, kacang panjang, dan buncis umumnya tersedia dalam bentuk varietas inbrida atau bersari bebas atau open-pollinated.

Selama proses seleksi dilakukan dengan benar saat panen, benih yang dihasilkan dapat ditanam kembali secara terus-menerus hingga bertahun-tahun dan tetap mampu menghasilkan tanaman yang relatif seragam.

“Kuncinya terletak pada proses seleksi. Pilihlah benih dari tanaman yang sehat, produktif, dan berpenampilan seragam. Dengan cara tersebut, mutu benih dapat dipertahankan untuk musim tanam selanjutnya,” ungkap Sekretaris Departemen Ilmu Pertanian Universitas Brawijaya tersebut.

Ia juga mengungkapkan manfaat lain yang kerap luput dari perhatian petani. Benih yang terus diperbanyak melalui proses seleksi pada lahan yang sama selama beberapa musim akan mengalami proses adaptasi terhadap kondisi agroekosistem setempat.

Adaptasi tersebut membuat tanaman semakin sesuai dengan lingkungan tempat tumbuhnya, termasuk kondisi iklim, jenis tanah, serta serangan hama dan penyakit tanaman yang terdapat di wilayah tersebut.

Melalui kegiatan participatory breeding ini, petani diharapkan tidak hanya berperan sebagai pengguna benih, tetapi juga mampu melakukan seleksi, menghasilkan, dan mempertahankan benih berkualitas secara mandiri untuk mendukung keberlanjutan usaha tani.

Sumber artikel: https://jurnalpost.kolomopini.com/tak-harus-selalu-beli-benih-dosen-universitas-brawijaya-ajak-petani-sumberpasir-kuasai-participatory-breeding/95699/

Dicetak dari JurnalPost.com pada 04 November 2026, 00.49 WITA

  • #Berita Dosen
  • #Universitas Brawijaya

Bagikan artikel

Bagikan Mengirim Tweet
JURNALPOST SOCIAL PUBLISHER

Posting ke Instagram

Menyiapkan 5 slide Reel 9:16…

Rangkaian slide vertikal sedang disusun dari artikel ini.

Konten belum dapat disiapkan.

Silakan coba kembali.

Pratinjau slide Instagram JurnalPost 1/5
REEL 9:16 · 5 SLIDE

Konten JurnalPost

Lima slide vertikal sudah disusun dalam area aman Reels. Tambahkan musik pilihan Anda setelah masuk ke Instagram.

Menyiapkan lima file gambar 9:16…

Di menu Instagram, pilih Reel, pertahankan urutan 1–5, lalu tambahkan musik yang tersedia di Instagram.

JURNALPOST SOCIAL PUBLISHER

Posting ke TikTok

Menyiapkan 5 slide TikTok 9:16…

Desain Social Publisher sedang disusun dari artikel ini.

Konten TikTok belum dapat disiapkan.

Silakan coba kembali.

Pratinjau slide TikTok JurnalPost 1/5
TIKTOK 9:16 · 5 SLIDE

Konten JurnalPost

Lima slide vertikal sudah disusun: sampul, inti berita, fakta utama, perkembangan, dan baca lengkap.

Menyiapkan lima file gambar 9:16…

Di menu berbagi, pilih TikTok, pertahankan urutan 1–5, lalu tambahkan musik atau suara di aplikasi. Jika TikTok tidak muncul, gunakan unduh manual.

Komentar 1

Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda

Komentar akan tampil setelah disetujui redaksi.

  1. A
    Awal 13 Juli 2026 00.13 WITA
    Sangat menarik. Bisa kolaborasi nggak yaa

Artikel Terkait

Mendukung Sustainable Development Goals, Dosen UM Ungkap Faktor Risiko Kehamilan yang Perlu Diwaspadai

Dari Teori ke Praktik, Mahasiswa Hukum UNTAG Surabaya Dalami Dunia Legal Perusahaan Melalui Magang

Pasar Turi Baru Surabaya Hadirkan Beragam Kegiatan, Tak Sekadar Menjadi Pusat Perdagangan

Ibu Rumah Tangga di Bojonegoro Buka Usaha BRILink, Tambah Penghasilan

REKOMENDASI JURNALPOST

Pilihan Untukmu

Laba Naik, Arus Kas Turun: Ada Apa dengan Kinerja Keuangan Public Bank Berhad dan Maybank?

Kejuaraan Tunas Juara Nasional 2026 Digelar di Tangerang, Jadi Ajang Pembinaan Atlet Pencak Silat Berprestasi

Ketika Utang Menjadi Alat Tekanan: Saat Perjanjian Lahir dari Ketakutan dan Ketidakberdayaan

Sudah 15 Tahun Jadi Nasabah BRI, Keluarga Leni Setia di Bojonegoro Miliki 10 Rekening untuk Berbagai Kebutuhan

Pilihan Editor

  1. 1 Digitalisasi Bank Syariah Permudah Transaksi, Keamanan Data Nasabah Jadi Tantangan Utama
  2. 2

    Ketika Utang Menjadi Alat Tekanan: Saat Perjanjian Lahir dari Ketakutan dan Ketidakberdayaan

  3. 3

    Pembangunan Ekonomi dan Ancaman Kerusakan Lingkungan, Sejauh Mana Hukum Indonesia Melindungi Alam?

  4. 4

    Tinggalkan Buku Kas Manual, Pelaku UMKM Manggarsari Kini Kelola Keuangan Lewat Ponsel

  5. 5

    Capek Kok Dibanggakan? Membaca Hustle Culture dalam Kacamata Sartre dan Han

IKLAN
JurnalPost

Media Publikasi Indonesia yang menyediakan informasi terkini. Situs ini didirikan pada tahun 2015 dan telah menjadi salah satu sumber berita yang populer di Indonesia.

Jelajahi

Advertorial Artikel Berita Bisnis Citizen Reporter Daerah Ekonomi English Version Essay Featured
Hukum Internasional Kolom Opini Nasional Olahraga Pendidikan Politik Profil Teknologi Wisata

Kanal

About Us Jurnalisme Warga Kebijakan Cookie Kebijakan Data Kirim Opini Kirim Tulisan Media Kit Pedoman Redaksi

Ikuti kami di

Facebook X/Twitter Instagram Threads TikTok Pinterest LinkedIn YouTube
© 2026 - PT Jurnal Post Indonesia. All Rights Reserved.