Penulis: Shabrina Rahma Septiani Afiliasi: Fakultas Bio-industri Pertanian dan Kehutanan, Universitas Brawijaya
MALANG, JurnalPost.com — Puluhan perwakilan petani dari Desa Sumberpasir, Kecamatan Pakis, Kabupaten Malang, mengikuti kegiatan participatory breeding atau pemuliaan partisipatif yang digelar Universitas Brawijaya (UB), Minggu (12/7/2026).
Kegiatan yang berlangsung di Kedai Bening milik warga setempat tersebut menghadirkan ahli pemuliaan tanaman, Dr. Budi Waluyo, S.P., M.P. Ia didampingi dua mahasiswanya, Fatahillah Salsa Nur Rizqi, S.P. dan Rizki Maulana, S.P.
Kegiatan ini bertujuan membekali para petani dengan pengetahuan teknis mengenai produksi benih secara mandiri untuk komoditas padi, cabai, buncis, dan kacang panjang. Sejumlah mahasiswa yang sedang menjalankan penelitian di wilayah tersebut juga turut menghadiri kegiatan.
Dalam pemaparannya, Dr. Budi Waluyo, yang juga merupakan pengarah BWAcademy, menekankan bahwa kemandirian benih dapat diwujudkan oleh petani melalui metode selective picking atau pemilihan tanaman secara selektif.
Tanaman yang memiliki penampilan seragam diamati dan diberi tanda, kemudian dibiarkan hingga mencapai masa masak fisiologis sebelum dipanen.
“Petani harus bisa membedakan tanaman yang memiliki penampilan seragam, kemudian menandainya. Benih dari tanaman-tanaman tersebut nantinya dapat dijadikan sebagai bahan tanam untuk musim berikutnya,” jelasnya.
Pemahaman mengenai masa masak fisiologis juga ditekankan dalam penyampaian materi. Tahap tersebut merupakan kondisi ketika benih telah mencapai tingkat kemasakan optimal sehingga memiliki bobot maksimal dan daya tumbuh yang tinggi.
Waktu panen menjadi salah satu faktor yang sangat menentukan kualitas benih. Panen yang dilakukan terlalu dini dapat menghasilkan benih keriput dengan daya simpan rendah. Sebaliknya, panen yang terlambat berisiko menyebabkan benih terserang jamur atau rontok akibat hujan dan angin.
Kriteria benih yang layak digunakan untuk penanaman turut dipaparkan kepada peserta. Benih yang baik memiliki bentuk utuh, berisi, tidak keriput, serta memperlihatkan warna cerah yang sesuai dengan karakter varietasnya.
Sebagai langkah sederhana, kualitas benih dapat diuji melalui perendaman di dalam air. Benih yang bernas akan tenggelam, sedangkan benih hampa biasanya mengapung.
Suasana forum semakin hidup ketika sesi tanya jawab dibuka. Selama hampir satu jam, peserta menyampaikan berbagai pertanyaan, mulai dari teknik penyimpanan benih cabai agar mampu bertahan hingga enam bulan, cara mengatasi serangan jamur pada benih padi saat musim hujan, hingga metode sederhana untuk menguji daya kecambah sebelum benih ditanam.
Di tengah diskusi, Khusnul, salah seorang petani yang menggarap lahan seluas beberapa hektare, mengangkat tangan dan menyampaikan pertanyaan yang menarik perhatian seluruh peserta.
“Pak, mengapa petani perlu menyisihkan sebagian hasil panennya untuk dijadikan benih? Bukankah saat ini benih sudah mudah dibeli di pasaran?” tanyanya.
Dr. Budi menjelaskan bahwa menyisihkan sebagian hasil panen untuk dijadikan benih bukan sekadar kebiasaan lama, melainkan strategi budidaya yang masih relevan hingga saat ini.
Langkah tersebut dapat membantu petani menghemat biaya produksi karena tidak harus membeli benih baru pada setiap musim tanam.
Menurutnya, tidak semua komoditas harus bergantung pada benih baru yang dibeli dari toko. Berbagai tanaman seperti padi, cabai, kacang panjang, dan buncis umumnya tersedia dalam bentuk varietas inbrida atau bersari bebas atau open-pollinated.
Selama proses seleksi dilakukan dengan benar saat panen, benih yang dihasilkan dapat ditanam kembali secara terus-menerus hingga bertahun-tahun dan tetap mampu menghasilkan tanaman yang relatif seragam.
“Kuncinya terletak pada proses seleksi. Pilihlah benih dari tanaman yang sehat, produktif, dan berpenampilan seragam. Dengan cara tersebut, mutu benih dapat dipertahankan untuk musim tanam selanjutnya,” ungkap Sekretaris Departemen Ilmu Pertanian Universitas Brawijaya tersebut.
Ia juga mengungkapkan manfaat lain yang kerap luput dari perhatian petani. Benih yang terus diperbanyak melalui proses seleksi pada lahan yang sama selama beberapa musim akan mengalami proses adaptasi terhadap kondisi agroekosistem setempat.
Adaptasi tersebut membuat tanaman semakin sesuai dengan lingkungan tempat tumbuhnya, termasuk kondisi iklim, jenis tanah, serta serangan hama dan penyakit tanaman yang terdapat di wilayah tersebut.
Melalui kegiatan participatory breeding ini, petani diharapkan tidak hanya berperan sebagai pengguna benih, tetapi juga mampu melakukan seleksi, menghasilkan, dan mempertahankan benih berkualitas secara mandiri untuk mendukung keberlanjutan usaha tani.
Komentar 1
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda