LEBAK, JurnalPost.com — Kelompok Tani Hutan (KTH) Bocah Gunung di Kecamatan Cileles, Kabupaten Lebak, Banten, menjadi salah satu contoh masyarakat yang telah menerapkan sistem pertanian terpadu melalui pemanfaatan lahan untuk tanaman, pepohonan, dan peternakan. Praktik tersebut mendapat perhatian dalam kegiatan Dosen Pulang Kampung (Dospulkam) 2026 yang diselenggarakan IPB University.
Melalui program ini, IPB University mendorong pengembangan agroforestri sebagai salah satu pendekatan untuk meningkatkan produktivitas lahan, memperluas sumber pendapatan petani, sekaligus menjaga kelestarian lingkungan.
Kegiatan yang berlangsung pada Rabu, 30 September 2026, tersebut merupakan bagian dari program Dospulkam IPB University melalui Lembaga Pengembangan Agromaritim dan Akselerasi Innopreneurship (LPA2I). Program ini mempertemukan akademisi dengan masyarakat untuk berbagi pengetahuan, hasil penelitian, dan inovasi yang dapat diterapkan sesuai dengan potensi wilayah.
Kegiatan dipimpin oleh Prof. Dr. Ir. Noor Farikhah Haneda, M.Si., dari Departemen Silvikultur, Fakultas Kehutanan dan Lingkungan IPB University.
Prof. Noor Farikhah menjelaskan bahwa program Dosen Pulang Kampung merupakan salah satu bentuk pengabdian perguruan tinggi kepada masyarakat. Melalui kegiatan tersebut, para dosen tidak hanya menyampaikan pengetahuan akademik, tetapi juga berupaya menghadirkan solusi yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat.
“Melalui kegiatan ini, kami ingin hasil penelitian dan inovasi yang dikembangkan di perguruan tinggi dapat memberikan manfaat nyata bagi masyarakat,” ujar Prof. Noor.
Menurutnya, keterlibatan masyarakat menjadi bagian penting dalam penerapan inovasi pertanian. Pengetahuan yang dikembangkan di perguruan tinggi perlu disesuaikan dengan kondisi lapangan agar dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan.
Agroforestri sebagai Alternatif Diversifikasi Usaha Tani
Salah satu materi utama dalam kegiatan tersebut mengangkat tema "Sistem Agroforestri: Upaya Diversifikasi Usaha Tani dan Peningkatan Kesejahteraan Masyarakat".
Materi disampaikan oleh Dr. Adisti Permatasari Putri Hartoyo, M.Si., bersama Elisabeth Violetta Kasih Dewanti.
Dalam pemaparannya, agroforestri dijelaskan sebagai sistem pengelolaan lahan yang mengintegrasikan pepohonan dengan tanaman pertanian, perikanan, dan/atau peternakan. Sistem ini memungkinkan masyarakat memperoleh berbagai manfaat ekonomi sekaligus mempertahankan fungsi ekologis lahan.
Berbeda dengan pola pertanian yang hanya mengandalkan satu komoditas, agroforestri memberikan peluang bagi petani untuk menghasilkan beberapa jenis produk dari lahan yang sama.
Sebagai contoh, petani dapat membudidayakan tanaman pangan di antara pepohonan sekaligus memanfaatkan sebagian lahan untuk menanam hijauan pakan ternak. Dengan cara tersebut, sumber pendapatan tidak hanya bergantung pada hasil panen tanaman utama.
Dalam kegiatan ini, peserta diperkenalkan dengan sejumlah bentuk agroforestri, antara lain agrisilvikultur yang menggabungkan pohon dan tanaman pertanian, silvopastura yang mengintegrasikan pepohonan dengan peternakan, serta agrosilvopastura yang memadukan ketiganya dalam satu sistem pengelolaan.
Selain itu, peserta memperoleh penjelasan mengenai silvofishery, yakni integrasi vegetasi berkayu dengan kegiatan perikanan, serta apikultur atau budidaya lebah yang dapat dikembangkan sebagai bagian dari diversifikasi usaha berbasis lahan.

Untuk memberikan gambaran penerapannya, pemateri turut menyampaikan sejumlah contoh praktik agroforestri dari berbagai daerah di Indonesia.
Beberapa di antaranya adalah kombinasi tanaman sengon dan singkong di Bogor, kakao dan padi di Palu, serta mangrove dan udang di Lampung.
Beragam contoh tersebut memperlihatkan bahwa pengembangan agroforestri dapat disesuaikan dengan kondisi geografis, karakteristik lahan, serta sumber daya yang dimiliki masyarakat setempat.
Petani KTH Bocah Gunung Telah Terapkan Pertanian Terpadu
Dalam kegiatan Dospulkam tersebut, diketahui bahwa masyarakat yang tergabung dalam KTH Bocah Gunung sebenarnya telah menjalankan sejumlah praktik yang sejalan dengan prinsip agroforestri.
Selain mengelola tanaman pertanian dan pepohonan, anggota kelompok tani juga mengembangkan usaha peternakan kambing, domba, dan sapi sebagai bagian dari kegiatan ekonomi mereka.
Untuk mendukung usaha peternakan, masyarakat memanfaatkan ruang di antara pepohonan sebagai lokasi penanaman rumput dan berbagai jenis hijauan pakan ternak.
Pola pemanfaatan lahan tersebut memungkinkan beberapa kegiatan produksi berlangsung secara berdampingan tanpa harus sepenuhnya memisahkan penggunaan lahan untuk tanaman dan ternak.
Praktik yang dijalankan KTH Bocah Gunung memiliki kesesuaian dengan konsep agrosilvopastura, yaitu sistem yang menggabungkan komponen kehutanan, pertanian, dan peternakan.
Keberadaan ternak memberikan peluang pendapatan tambahan bagi petani, sementara tanaman dan pepohonan tetap menjadi bagian penting dalam pemanfaatan lahan.
Pengalaman masyarakat ini menjadi modal awal untuk mengembangkan sistem agroforestri yang lebih terencana. Melalui pendampingan dan penguatan pengetahuan, praktik yang telah dilakukan diharapkan dapat ditingkatkan agar memberikan manfaat ekonomi dan lingkungan secara lebih optimal.
Perkuat Ekonomi Petani dan Kelestarian Lingkungan
Pengembangan agroforestri tidak hanya berkaitan dengan peningkatan hasil pertanian, tetapi juga dengan kemampuan masyarakat dalam mengelola sumber daya lahan secara berkelanjutan.
Dalam aspek ekonomi, diversifikasi usaha tani dapat membantu mengurangi ketergantungan petani terhadap satu jenis komoditas. Ketika hasil atau harga salah satu produk mengalami penurunan, keberadaan komoditas lain berpotensi menjadi sumber pendapatan alternatif.
Sementara dari sisi lingkungan, keberadaan pepohonan dalam sistem pertanian dapat membantu melindungi tanah, mendukung siklus air, serta mempertahankan fungsi ekologis lahan apabila dikelola dengan tepat.
Dengan demikian, penerapan agroforestri menawarkan pendekatan yang menggabungkan kepentingan produksi pertanian dan perlindungan lingkungan dalam satu sistem pengelolaan.
Melalui program Dospulkam 2026, IPB University berupaya memperkuat praktik yang telah berkembang di masyarakat dengan dukungan pengetahuan ilmiah dan inovasi yang relevan.
Interaksi langsung antara dosen dan kelompok tani juga membuka ruang pertukaran pengalaman. Akademisi dapat memahami kondisi serta tantangan yang dihadapi petani, sementara masyarakat memperoleh tambahan pengetahuan untuk mengembangkan kegiatan usaha mereka.
Pendekatan tersebut diharapkan dapat mendorong terbentuknya sistem pertanian yang lebih produktif, adaptif, dan sesuai dengan kebutuhan masyarakat.
Bagi KTH Bocah Gunung, penguatan praktik agroforestri menjadi peluang untuk mengoptimalkan potensi lahan sekaligus mengembangkan sumber penghidupan yang lebih beragam.
Ke depan, kolaborasi antara perguruan tinggi dan kelompok tani diharapkan terus berlanjut agar penerapan inovasi tidak berhenti pada kegiatan sosialisasi, tetapi dapat diwujudkan melalui praktik pengelolaan lahan yang memberikan manfaat nyata.
Program Dosen Pulang Kampung IPB University menjadi salah satu upaya menjembatani hasil penelitian dengan kebutuhan masyarakat, sekaligus mendukung pengembangan pertanian berkelanjutan, ketahanan pangan, dan peningkatan kesejahteraan petani.
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda