Lewati ke konten utama
Home About Us Redaksi Kirim Berita Media Kit
Pedoman
Kebijakan Cookie Pedoman Media Siber Publikasi Media Online Jasa Backlink Jasa Guest Post Penulisan Artikel Pembuatan Website Pedoman AI
ID | EN

Masuk / Gabung

Jelajahi

Beranda Internasional Nasional Daerah Featured Opini Pendidikan
More
Profil Advertorial Bisnis Press Release Essay English Version Ekonomi
Informasi
About Us Redaksi Kirim Berita Media Kit
Pedoman
Kebijakan Cookie Pedoman Media Siber Pedoman AI
Masuk / Gabung
Ikuti kami
EN ARTIKEL
Beranda Internasional Nasional Daerah Featured Opini Pendidikan
More
Profil Advertorial Bisnis Press Release Essay English Version Ekonomi

  1. Beranda
  2. Kolom Opini
  3. Hikikomori: Fenomena “Menghilang” di Tengah Maju-Nya Jepang

Hikikomori: Fenomena “Menghilang” di Tengah Maju-Nya Jepang

Foto profil Hasbi
Editor: Hasbi
25 Maret 2026, 19.17 WITA Editor: Tim Editor JurnalPost
3 menit baca
Hikikomori

JurnalPost.com - Jepang dikenal sebagai negara maju dengan teknologi tinggi dan disiplin masyarakat yang kuat. Namun, di balik citra tersebut, muncul fenomena sosial tersembunyi bernama hikikomori, yakni kondisi individu yang memilih menarik diri dari kehidupan sosial dalam waktu lama.

Hikikomori bukan sekadar perilaku menyendiri biasa. Istilah ini merujuk pada individu yang mengisolasi diri di rumah, tidak bekerja, tidak bersekolah, serta memutus interaksi sosial selama enam bulan atau lebih, bahkan hingga bertahun-tahun.

IKLAN

Fenomena ini banyak terjadi pada remaja dan dewasa muda. Mereka cenderung menghindari kontak sosial secara ekstrem, menjadikan kamar sebagai satu-satunya ruang aman dari tekanan dunia luar yang dirasa semakin berat.

Dosen FKIP UTM
Baca Juga

Dosen FKIP UTM Kembangkan Cerita Anak Islami Berbasis Budaya Madura untuk Anak Diaspora di Jepang

Salah satu penyebab utama hikikomori adalah tekanan sosial yang tinggi di Jepang. Sejak kecil, individu dituntut berprestasi, disiplin, dan mampu menyesuaikan diri dengan kelompok, tanpa banyak ruang untuk gagal atau berbeda.

Budaya Jepang yang menjunjung tinggi harmoni sosial turut memperkuat kondisi ini. Konflik pribadi sering dipendam, sehingga individu yang mengalami tekanan emosional memilih menarik diri daripada menghadapi stigma atau penilaian masyarakat.

IKLAN

Peran keluarga juga menjadi faktor penting. Banyak orang tua tetap memenuhi kebutuhan anak yang mengurung diri tanpa mendorong perubahan, sehingga tanpa disadari memperpanjang kondisi isolasi tersebut.

Selain faktor sosial dan budaya, hikikomori juga berkaitan dengan kesehatan mental. Gangguan kecemasan, depresi, trauma perundungan, hingga ketakutan akan kegagalan sering menjadi latar belakang kondisi ini.

Jepang
Baca Juga

Populasi Jepang Turun 3,1 Juta Jiwa, Jadi 123,05 Juta pada 2025

Sayangnya, stigma terhadap kesehatan mental membuat banyak individu enggan mencari bantuan. Hikikomori sering disalahartikan sebagai kemalasan, padahal kondisi ini merupakan masalah kompleks yang membutuhkan perhatian serius.

Pemerintah Jepang mulai merespons fenomena ini melalui layanan konseling, pendampingan sosial, dan program reintegrasi. Pendekatan dilakukan secara bertahap agar individu dapat kembali ke kehidupan sosial tanpa tekanan berlebih.

Fenomena hikikomori menjadi pelajaran global, termasuk bagi Indonesia. Penting bagi masyarakat menciptakan lingkungan yang suportif, terbuka, dan peduli terhadap kesehatan mental demi mencegah isolasi sosial yang semakin meluas.

Penulis: Kelfi Darisna, S.Pd.

KMI Ehime
Baca Juga

KMI Ehime Gelar Shalat Idul Fitri 1447 H, Lebih dari 600 Muslim Indonesia Padati Matsuyama

Sumber artikel: https://jurnalpost.kolomopini.com/hikikomori-fenomena-menghilang-di-tengah-maju-nya-jepang/91680/

Dicetak dari JurnalPost.com pada 03 November 2026, 23.38 WITA

  • #Hikikomori
  • #Jepang

Bagikan artikel

Bagikan Mengirim Tweet
JURNALPOST SOCIAL PUBLISHER

Posting ke Instagram

Menyiapkan 5 slide Reel 9:16…

Rangkaian slide vertikal sedang disusun dari artikel ini.

Konten belum dapat disiapkan.

Silakan coba kembali.

Pratinjau slide Instagram JurnalPost 1/5
REEL 9:16 · 5 SLIDE

Konten JurnalPost

Lima slide vertikal sudah disusun dalam area aman Reels. Tambahkan musik pilihan Anda setelah masuk ke Instagram.

Menyiapkan lima file gambar 9:16…

Di menu Instagram, pilih Reel, pertahankan urutan 1–5, lalu tambahkan musik yang tersedia di Instagram.

JURNALPOST SOCIAL PUBLISHER

Posting ke TikTok

Menyiapkan 5 slide TikTok 9:16…

Desain Social Publisher sedang disusun dari artikel ini.

Konten TikTok belum dapat disiapkan.

Silakan coba kembali.

Pratinjau slide TikTok JurnalPost 1/5
TIKTOK 9:16 · 5 SLIDE

Konten JurnalPost

Lima slide vertikal sudah disusun: sampul, inti berita, fakta utama, perkembangan, dan baca lengkap.

Menyiapkan lima file gambar 9:16…

Di menu berbagi, pilih TikTok, pertahankan urutan 1–5, lalu tambahkan musik atau suara di aplikasi. Jika TikTok tidak muncul, gunakan unduh manual.

Komentar 0

Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda

Komentar akan tampil setelah disetujui redaksi.

  1. Belum ada komentar. Jadilah yang pertama menyampaikan tanggapan.

Artikel Terkait

Pernah Mencari “Sakit Kepala Sebelah” di Google, Lalu Takut Umur Tinggal Setahun?

Kepemimpinan Bukan Sekadar Janji Besar, Rakyat Menunggu Hasil Nyata dari Pemerintah

Ketika Negara Gagal Menjaga Napas Warganya

Dari Instruksi ke Implementasi: Menguji Respons Kepemimpinan Presiden Prabowo dalam Penanganan Karhutla 2026

REKOMENDASI JURNALPOST

Pilihan Untukmu

Digitalisasi Bank Syariah Permudah Transaksi, Keamanan Data Nasabah Jadi Tantangan Utama

Kejuaraan Tunas Juara Nasional 2026 Digelar di Tangerang, Jadi Ajang Pembinaan Atlet Pencak Silat Berprestasi

Membuka Kesempatan Kerja di Tengah Tantangan Ekonomi, Menatap Masa Depan Ketenagakerjaan Indonesia

UI Dorong Limbah Plastik Jadi Produk Bernilai Ekonomi di Desa Tembok Bali

Pilihan Editor

  1. 1 Capek Kok Dibanggakan? Membaca Hustle Culture dalam Kacamata Sartre dan Han
  2. 2

    Rp144,82 Miliar Raib dalam Hitungan Jam: Ada Apa di Balik Pembobolan Bank Jambi?

  3. 3

    Parkir Liar di Pinggir Jalan: Menjadi Kebiasaan atau Justru Sudah Menjadi Pola Hidup Masyarakat?

  4. 4

    Pernah Mencari “Sakit Kepala Sebelah” di Google, Lalu Takut Umur Tinggal Setahun?

  5. 5

    Pasar Turi Baru Surabaya Hadirkan Beragam Kegiatan, Tak Sekadar Menjadi Pusat Perdagangan

IKLAN
JurnalPost

Media Publikasi Indonesia yang menyediakan informasi terkini. Situs ini didirikan pada tahun 2015 dan telah menjadi salah satu sumber berita yang populer di Indonesia.

Jelajahi

Advertorial Artikel Berita Bisnis Citizen Reporter Daerah Ekonomi English Version Essay Featured
Hukum Internasional Kolom Opini Nasional Olahraga Pendidikan Politik Profil Teknologi Wisata

Kanal

About Us Jurnalisme Warga Kebijakan Cookie Kebijakan Data Kirim Opini Kirim Tulisan Media Kit Pedoman Redaksi

Ikuti kami di

Facebook X/Twitter Instagram Threads TikTok Pinterest LinkedIn YouTube
© 2026 - PT Jurnal Post Indonesia. All Rights Reserved.