KUPANG, JurnalPost.com – Talenan plastik yang mulai dipenuhi goresan, botol susu yang telah buram, hingga mainan plastik yang kerap digigit anak ternyata menjadi benda-benda yang perlu mendapat perhatian di rumah.
Sebanyak 40 ibu yang memiliki balita stunting di Kota Kupang diajak mengenali berbagai potensi paparan mikroplastik melalui kegiatan edukatif bertajuk “Mama Detektif Dapur” di Aula Puskesmas Sikumana, Rabu (30/9/2026).
Dalam kegiatan tersebut, para peserta tidak hanya mengikuti penyuluhan, tetapi juga berperan layaknya detektif yang mencari berbagai benda di lingkungan rumah yang berpotensi melepaskan partikel mikroplastik.
Para ibu berkeliling ke sejumlah pos simulasi yang menggambarkan kondisi sehari-hari, mulai dari dapur, rak penyimpanan, dispenser dan galon air, ruang mencuci, rak produk perawatan tubuh, hingga ruang bermain anak.
Pada setiap pos, peserta diminta mengidentifikasi benda yang berpotensi menjadi sumber mikroplastik sekaligus menentukan tindakan yang dinilai lebih aman untuk diterapkan di rumah.
Kegiatan pengabdian kepada masyarakat tersebut diselenggarakan oleh tim Program Studi Pendidikan Dokter, Fakultas Kedokteran dan Kedokteran Hewan Universitas Nusa Cendana (Undana) bekerja sama dengan Puskesmas Sikumana.
Tim diketuai oleh Insani Fitrahulil Jannah, S.K.M., M.Biomed, dengan anggota Dr. dr. Christina Olly Lada, M.Gizi; Rahel Rara Woda, S.Si., M.K.M.; Syahrir, S.Kep., M.Si.; Antonius Adolf Gebang, S.Kep., M.P.H.; serta Dr. Audrey Gracelia Riwu, S.Kep., Ns., M.Imun.
Mengenali Mikroplastik dari Benda Sehari-hari
Mikroplastik merupakan partikel plastik berukuran kurang dari lima milimeter. Ukurannya yang sangat kecil membuat sebagian partikel sulit diamati secara langsung dengan mata.
Partikel tersebut dapat berasal dari benda plastik yang mengalami gesekan, goresan, paparan panas, tekanan, maupun proses pelapukan selama digunakan.
Di lingkungan rumah tangga, sumber potensial mikroplastik dapat ditemukan pada berbagai benda yang digunakan sehari-hari, seperti talenan dan wadah plastik, kotak makanan yang terkena panas, botol susu yang telah lama digunakan, spons pencuci piring, pakaian berbahan sintetis, debu rumah, hingga mainan plastik.

Kemasan dan galon air minum juga menjadi salah satu benda yang perlu digunakan dan disimpan dengan tepat.
Secara umum, kondisi plastik yang semakin aus, tipis, banyak tergores, atau digunakan berulang kali dapat meningkatkan kemungkinan pelepasan partikel dari permukaannya.
Balita Menjadi Kelompok yang Perlu Mendapat Perhatian
Edukasi secara khusus menyasar ibu balita karena anak berada dalam fase pertumbuhan dan perkembangan yang sangat cepat.
Aktivitas balita, seperti merangkak di lantai, memegang dan memasukkan benda ke mulut, serta menggunakan berbagai wadah makan dan minum, membuat mereka memiliki pola paparan lingkungan yang berbeda dibandingkan orang dewasa.
Mikroplastik dapat masuk ke tubuh melalui makanan atau minuman yang tertelan serta partikel yang terhirup bersama debu.
Selain partikel plastik itu sendiri, perhatian juga diberikan terhadap sejumlah bahan tambahan yang digunakan dalam produk plastik maupun zat pencemar yang dapat menempel pada permukaannya.
Berbagai penelitian masih terus mempelajari potensi dampak paparan mikroplastik terhadap kesehatan manusia, termasuk kemungkinan pengaruhnya terhadap sistem pencernaan, sistem imun, metabolisme, serta proses biologis lainnya.
Mikroplastik Bukan Penyebab Tunggal Stunting
Tim pengabdian menegaskan bahwa kegiatan tersebut tidak dimaksudkan untuk menyatakan mikroplastik sebagai penyebab langsung atau penyebab tunggal stunting.
Stunting merupakan gangguan pertumbuhan dan perkembangan anak yang berkaitan dengan berbagai faktor, terutama kekurangan gizi kronis dan infeksi berulang, khususnya pada periode 1.000 hari pertama kehidupan.
Berdasarkan Survei Status Gizi Indonesia 2024 yang digunakan dalam materi kegiatan, prevalensi stunting di Kota Kupang tercatat sebesar 26,9 persen, sedangkan di Provinsi Nusa Tenggara Timur sebesar 37 persen.
Bukti ilmiah yang secara langsung menghubungkan paparan mikroplastik dengan kejadian stunting pada balita juga masih terbatas.
Karena itu, edukasi pengurangan paparan mikroplastik ditempatkan sebagai salah satu langkah pencegahan lingkungan yang dapat dilakukan keluarga, bukan sebagai pengganti intervensi utama berupa perbaikan asupan gizi, kesehatan, sanitasi, dan pola pengasuhan anak.
Skor Pengetahuan Peserta Meningkat
Untuk mengukur efektivitas kegiatan, peserta mengikuti pre-test sebelum edukasi dan post-test setelah seluruh rangkaian kegiatan selesai.
Materi disampaikan oleh Amanda Jelita Eka Riani Johannis, S.K.M., M.P.H., kemudian dilanjutkan dengan permainan simulasi “Mama Detektif Dapur”.

Hasil evaluasi menunjukkan rata-rata skor pengetahuan peserta meningkat dari 65,00 menjadi 83,75.
Sebanyak 75 persen peserta mengalami peningkatan skor, sementara tidak ada peserta yang mengalami penurunan.
Proporsi peserta yang masuk kategori memiliki pengetahuan baik juga meningkat dari sebelumnya 60 persen menjadi 75 persen.
Peningkatan skor terbesar ditemukan pada kelompok ibu dengan pendidikan SMP, yaitu sebesar 31,25 poin, kemudian kelompok pendidikan SD sebesar 25 poin.
Menurut tim pelaksana, hasil tersebut menunjukkan metode permainan dan simulasi dapat membantu menyampaikan informasi kepada peserta dengan latar belakang pendidikan yang beragam.
Meski demikian, masih terdapat delapan peserta atau sekitar 20 persen yang masuk kategori pengetahuan kurang. Peserta tersebut selanjutnya direncanakan memperoleh pendampingan secara lebih personal bersama kader posyandu.
Tidak Harus Menghindari Semua Plastik
Salah satu pesan utama yang disampaikan kepada peserta adalah keluarga tidak harus sepenuhnya meninggalkan penggunaan plastik.
Hal yang lebih penting adalah mengenali benda yang mulai rusak atau berisiko serta memperbaiki cara penggunaan dan penyimpanannya.
Tim memberikan beberapa langkah sederhana yang dapat dilakukan keluarga, yakni:
Menghindari menuangkan makanan atau minuman yang sangat panas ke wadah plastik dan memilih wadah kaca atau keramik jika memungkinkan.
Mengganti talenan, wadah makan, botol susu, atau mainan plastik yang telah tergores berat, retak, atau berubah menjadi buram.
Menyimpan galon air di tempat yang sejuk dan terhindar dari paparan sinar matahari langsung.
Membersihkan rumah secara rutin, terutama area bermain anak, serta menjaga ventilasi agar debu tidak berlebihan.
Melalui pendekatan yang sederhana dan interaktif, kegiatan “Mama Detektif Dapur” diharapkan dapat membantu para ibu lebih kritis mengenali kondisi benda-benda yang setiap hari digunakan keluarga sekaligus membangun lingkungan rumah yang lebih aman bagi tumbuh kembang anak.
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda