Lewati ke konten utama
Home About Us Redaksi Kirim Berita Media Kit
Pedoman
Kebijakan Cookie Pedoman Media Siber Publikasi Media Online Jasa Backlink Jasa Guest Post Penulisan Artikel Pembuatan Website Pedoman AI
ID | EN

Masuk / Gabung

Jelajahi

Beranda Internasional Nasional Daerah Featured Opini Pendidikan
More
Profil Advertorial Bisnis Press Release Essay English Version Ekonomi
Informasi
About Us Redaksi Kirim Berita Media Kit
Pedoman
Kebijakan Cookie Pedoman Media Siber Pedoman AI
Masuk / Gabung
Ikuti kami
EN ARTIKEL
Beranda Internasional Nasional Daerah Featured Opini Pendidikan
More
Profil Advertorial Bisnis Press Release Essay English Version Ekonomi

  1. Beranda
  2. Kolom Opini
  3. Ketika Tradisi Dianggap Kuno dan Alot: Siapa yang Sebenarnya Harus Berubah?

Ketika Tradisi Dianggap Kuno dan Alot: Siapa yang Sebenarnya Harus Berubah?

U
Penulis: Utin Fayla Putri Zahra
15 Oktober 2026, 18.57 WITA Editor: Gilang Pamungkas
8 menit baca
Bridging Tradition and Tomorrow
Ilustrasi pertemuan generasi tua dan muda dalam upaya melestarikan budaya lokal melalui pemanfaatan teknologi modern. Sumber: Ilustrasi AI.

JurnalPost.com - Di tengah perkembangan zaman yang semakin cepat, tradisi kerap berada dalam posisi yang serba sulit. Di satu sisi, masyarakat dituntut untuk mempertahankan warisan budaya yang telah diwariskan secara turun-temurun. Di sisi lain, perubahan teknologi, gaya hidup, dan pola pikir membuat sebagian tradisi dianggap tidak lagi relevan dengan kehidupan modern.

Persoalan ini sebenarnya bukan hal baru. Perbedaan pandangan antara generasi muda dan generasi tua telah lama menjadi tantangan dalam pelestarian budaya. Generasi muda berusaha menemukan cara untuk mengenal, menjalankan, dan mengembangkan tradisi agar tetap sesuai dengan kehidupan mereka. Sementara itu, generasi yang lebih tua menghadapi tantangan untuk mempertahankan nilai-nilai leluhur sekaligus menjalin hubungan dengan generasi yang tumbuh dalam lingkungan sosial yang berbeda.

IKLAN

Perdebatan tersebut tidak hanya terjadi antargenerasi, tetapi juga antara kelompok masyarakat yang cenderung mempertahankan tradisi dan kelompok yang lebih terbuka terhadap modernisasi.

Kalau Batik Terasa Seperti Mau Kondangan
Baca Juga

Kalau Batik Terasa Seperti Mau Kondangan, Apakah Anak Muda Tak Cinta Budaya?

Kelompok tradisional sering kali dianggap terlalu kaku dalam menghadapi perubahan. Sebaliknya, kelompok modern tidak jarang dipandang sebagai pihak yang mengabaikan nilai-nilai budaya. Padahal, kedua kelompok memiliki kepentingan yang sebenarnya dapat dipertemukan.

Lantas, apakah pelestarian budaya harus selalu dilakukan dengan mempertahankan segala sesuatu sebagaimana adanya? Atau justru masyarakat perlu mengubah cara pandang terhadap tradisi agar tetap dapat hidup berdampingan dengan perkembangan zaman?

Perbedaan Perspektif Antargenerasi dalam Memandang Budaya

Kemajuan teknologi dan keterbukaan informasi memberikan kesempatan bagi generasi muda untuk mengenal berbagai kebudayaan dari seluruh dunia. Melalui internet dan media sosial, mereka dapat mempelajari bahasa, kesenian, gaya hidup, hingga kebiasaan masyarakat dari berbagai negara.

Kondisi ini tentu membawa manfaat bagi perkembangan pengetahuan dan wawasan. Namun, derasnya pengaruh budaya luar juga menghadirkan tantangan tersendiri bagi keberlangsungan budaya lokal.

98 Tahun Sumpah Pemuda dan Potret Bela Negara Para Pemuda
Baca Juga

98 Tahun Sumpah Pemuda dan Potret Bela Negara Para Pemuda

Ketika budaya populer dari luar lebih sering diperkenalkan dan dikonsumsi, sebagian generasi muda berpotensi kehilangan kedekatan dengan tradisi yang tumbuh di lingkungan mereka sendiri. Akibatnya, budaya lokal perlahan dianggap asing, bahkan oleh masyarakat yang sebenarnya menjadi pewarisnya.

Persoalan tersebut berkaitan dengan fenomena homogenisasi budaya, yaitu kecenderungan berkurangnya keberagaman akibat semakin dominannya pengaruh budaya tertentu.

Dalam penelitian yang dilakukan Zulkarnain dan rekan-rekannya pada 2025 mengenai tradisi Suran di Desa Cirendeu, persoalan homogenisasi budaya turut menjadi perhatian karena berkaitan dengan melemahnya keterikatan generasi muda terhadap identitas budaya lokal.

Kurangnya pengetahuan mengenai sejarah, nilai, dan makna suatu tradisi dapat membuat generasi muda kesulitan membangun hubungan emosional dengan warisan leluhur. Ketika sebuah tradisi hanya dipahami sebagai kebiasaan lama tanpa mengetahui alasan di balik pelaksanaannya, ketertarikan untuk melestarikannya pun dapat berkurang.

LOOPY
Baca Juga

LOOPY: Kampanye Kesehatan Mental Ajak Masyarakat Putus Siklus Tekanan Digital

Sementara itu, generasi yang lebih tua menghadapi kekhawatiran yang berbeda. Perkembangan teknologi yang begitu cepat sering dipandang sebagai ancaman terhadap keberlangsungan nilai-nilai budaya yang selama ini dijaga.

Tidak semua orang memiliki kesempatan atau kemampuan yang sama dalam memanfaatkan teknologi digital. Keterbatasan tersebut dapat menimbulkan keraguan terhadap penggunaan media modern sebagai sarana pelestarian budaya.

Padahal, teknologi tidak selalu harus diposisikan sebagai sesuatu yang bertentangan dengan tradisi.

Melalui pendidikan dan pendampingan, generasi yang lebih tua dapat diperkenalkan pada pemanfaatan teknologi untuk mendokumentasikan serta memperkenalkan budaya lokal. Sebaliknya, generasi muda dapat memperoleh pengetahuan langsung dari para tetua mengenai sejarah, filosofi, dan nilai-nilai yang terkandung dalam tradisi.

Pertukaran pengetahuan semacam ini dapat menjadi jembatan yang menghubungkan pengalaman antargenerasi.

Media sosial, misalnya, dapat dimanfaatkan untuk memperkenalkan kesenian daerah, bahasa lokal, cerita rakyat, maupun berbagai praktik budaya kepada masyarakat yang lebih luas. Namun, penyebaran informasi tersebut tetap perlu memperhatikan konteks budaya agar makna dan nilai yang terkandung di dalamnya tidak berubah hanya demi mengikuti tren.

Dengan demikian, modernisasi tidak harus berakhir pada hilangnya identitas budaya. Teknologi justru dapat menjadi sarana yang memperkuat keberadaan tradisi selama digunakan dengan pemahaman dan tanggung jawab.

Koeksistensi dan Akulturasi antara Kelompok Modern dan Tradisional

Hubungan antara masyarakat tradisional dan modern tidak selalu berjalan tanpa hambatan. Perbedaan nilai, pengalaman, serta kepentingan sering menimbulkan persoalan ketika kedua kelompok berinteraksi.

Salah satu gambaran mengenai pentingnya penghormatan terhadap nilai lokal dapat ditemukan dalam pengalaman Vincentius Tatebburuk, seorang warga Mentawai, Sumatera Barat, yang memiliki kedekatan dengan lingkungan alam di sekitarnya.

Dalam kisah yang pernah dibagikannya, Vincentius mendampingi sebuah keluarga wisatawan asal Prancis untuk mengamati primata yang hidup di kawasan tersebut.

Ketika melakukan pengamatan, mereka menemukan sekelompok monyet yang terdiri atas tiga individu dewasa dan seekor anak monyet. Kehadiran manusia membuat monyet-monyet dewasa menjauh, sementara anak monyet tertinggal.

Keluarga wisatawan tersebut ingin melihat hewan-hewan itu dari jarak yang lebih dekat. Namun, Vincentius menyarankan agar mereka tetap diam dan menunggu hingga kelompok monyet dewasa kembali.

IKLAN

Tidak lama kemudian, monyet-monyet tersebut benar-benar kembali.

Peristiwa sederhana ini memperlihatkan bahwa keinginan untuk mengenal sesuatu tidak selalu berarti seseorang dapat mendekatinya tanpa batas. Ada pengetahuan, pengalaman, dan aturan tidak tertulis yang perlu dihormati ketika berinteraksi dengan alam maupun kehidupan masyarakat setempat.

Prinsip yang sama dapat diterapkan dalam upaya memahami dan melestarikan tradisi.

Masyarakat adat atau kelompok pemilik tradisi sering memiliki batasan tertentu mengenai hal-hal yang boleh dipelajari, didokumentasikan, atau diperkenalkan kepada pihak luar. Batasan tersebut tidak selalu muncul karena penolakan terhadap perubahan, melainkan dapat berkaitan dengan nilai sejarah, kepercayaan, dan pengalaman yang diwariskan oleh para leluhur.

Di sisi lain, kelompok modern yang ingin mempelajari suatu budaya mungkin memiliki keinginan untuk memperoleh akses seluas-luasnya. Mereka dapat melihat keterbukaan informasi sebagai bagian penting dari pendidikan, penelitian, maupun pelestarian budaya.

Perbedaan kepentingan inilah yang berpotensi menimbulkan kesalahpahaman.

Pihak yang ingin mempelajari tradisi dapat menganggap suatu pembatasan sebagai bentuk ketertutupan. Sementara itu, masyarakat pemilik tradisi mungkin merasa bahwa keterbukaan yang berlebihan justru berpotensi menghilangkan makna atau nilai sakral dari warisan budaya mereka.

Untuk mengatasi persoalan tersebut, diperlukan sikap saling menghormati.

Mereka yang ingin mempelajari budaya perlu memahami bahwa tidak semua aspek tradisi dapat diakses atau disebarluaskan secara bebas. Penghormatan terhadap aturan dan batasan masyarakat setempat merupakan bagian dari upaya pelestarian itu sendiri.

Sebaliknya, kelompok pemilik tradisi juga dapat mempertimbangkan niat baik pihak luar yang ingin belajar. Penyampaian batasan secara terbuka dan bijaksana dapat membantu membangun pemahaman tanpa harus mengorbankan prinsip yang selama ini dijaga.

Melalui komunikasi yang baik, kedua kelompok memiliki kesempatan untuk menemukan bentuk kerja sama yang saling menguntungkan.

Dalam konteks ini, koeksistensi berarti kemampuan masyarakat dengan pandangan berbeda untuk hidup berdampingan tanpa harus kehilangan identitas masing-masing. Sementara itu, akulturasi dapat berlangsung ketika unsur budaya yang berbeda saling berinteraksi dan menghasilkan bentuk penyesuaian baru tanpa sepenuhnya menghilangkan ciri budaya asal.

Keduanya dapat menjadi bagian dari upaya menjaga keberlangsungan tradisi di tengah perubahan sosial.

Jadi, Siapa yang Sebenarnya Perlu Mengalah?

Ketika tradisi dan modernisasi dipertemukan, pertanyaan yang sering muncul adalah siapa yang seharusnya menyesuaikan diri.

Apakah generasi muda harus sepenuhnya mengikuti cara hidup generasi sebelumnya? Ataukah masyarakat tradisional harus menerima seluruh perubahan yang dibawa oleh perkembangan zaman?

Pertanyaan tersebut sebenarnya tidak harus dijawab dengan menentukan pihak yang menang atau kalah.

Pelestarian budaya bukanlah persaingan antara kelompok tradisional dan modern. Keduanya memiliki peran penting dalam menjaga keberlangsungan warisan budaya sekaligus memastikan bahwa nilai-nilai tersebut tetap dapat dipahami oleh generasi berikutnya.

Generasi muda membutuhkan pengetahuan dan pengalaman dari para pendahulu untuk memahami akar identitas mereka. Sebaliknya, generasi yang lebih tua juga membutuhkan keterbukaan terhadap perubahan agar tradisi dapat terus dikenal dan diwariskan dalam lingkungan sosial yang berkembang.

Karena itu, dialog dan negosiasi perlu menjadi bagian dari hubungan antarkelompok masyarakat. Perbedaan pandangan seharusnya tidak langsung dianggap sebagai ancaman, tetapi dapat menjadi kesempatan untuk mencari pendekatan yang lebih sesuai dengan kebutuhan bersama.

Tradisi tidak semestinya selalu dipandang sebagai simbol keterbelakangan. Begitu pula modernisasi tidak harus dimaknai sebagai upaya meninggalkan atau merusak warisan leluhur.

Keduanya dapat berjalan berdampingan selama masyarakat mampu membedakan antara nilai budaya yang perlu dipertahankan dan cara penyampaiannya yang mungkin dapat disesuaikan dengan perkembangan zaman.

Pada akhirnya, persoalan utama bukanlah siapa yang harus mengalah, melainkan bagaimana setiap pihak bersedia memahami sudut pandang yang berbeda.

Yang perlu diubah bukanlah seluruh cara hidup masyarakat ataupun identitas budaya yang mereka miliki, melainkan cara pandang yang selama ini membuat tradisi dan modernisasi seolah-olah harus saling bertentangan.

Sebab, tradisi tidak harus ditinggalkan agar masyarakat dapat menjadi modern. Sebaliknya, menjadi modern juga tidak berarti seseorang harus kehilangan hubungan dengan akar budayanya.

ENGLISH VERSION Artikel tersedia dalam Bahasa Inggris
Read in English →

Sumber artikel: https://jurnalpost.kolomopini.com/ketika-tradisi-dianggap-kuno-dan-alot-siapa-yang-sebenarnya-harus-berubah/98202/

Dicetak dari JurnalPost.com pada 03 November 2026, 22.59 WITA

  • #Budaya Lokal
  • #Warisan Budaya
  • #akulturasi
  • #generasi muda
  • #modernisasi
  • #perubahan sosial
  • #tradisi

Bagikan artikel

Bagikan Mengirim Tweet
JURNALPOST SOCIAL PUBLISHER

Posting ke Instagram

Menyiapkan 5 slide Reel 9:16…

Rangkaian slide vertikal sedang disusun dari artikel ini.

Konten belum dapat disiapkan.

Silakan coba kembali.

Pratinjau slide Instagram JurnalPost 1/5
REEL 9:16 · 5 SLIDE

Konten JurnalPost

Lima slide vertikal sudah disusun dalam area aman Reels. Tambahkan musik pilihan Anda setelah masuk ke Instagram.

Menyiapkan lima file gambar 9:16…

Di menu Instagram, pilih Reel, pertahankan urutan 1–5, lalu tambahkan musik yang tersedia di Instagram.

JURNALPOST SOCIAL PUBLISHER

Posting ke TikTok

Menyiapkan 5 slide TikTok 9:16…

Desain Social Publisher sedang disusun dari artikel ini.

Konten TikTok belum dapat disiapkan.

Silakan coba kembali.

Pratinjau slide TikTok JurnalPost 1/5
TIKTOK 9:16 · 5 SLIDE

Konten JurnalPost

Lima slide vertikal sudah disusun: sampul, inti berita, fakta utama, perkembangan, dan baca lengkap.

Menyiapkan lima file gambar 9:16…

Di menu berbagi, pilih TikTok, pertahankan urutan 1–5, lalu tambahkan musik atau suara di aplikasi. Jika TikTok tidak muncul, gunakan unduh manual.

Komentar 0

Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda

Komentar akan tampil setelah disetujui redaksi.

  1. Belum ada komentar. Jadilah yang pertama menyampaikan tanggapan.

Artikel Terkait

Ketika Negara Gagal Menjaga Napas Warganya

Dari Instruksi ke Implementasi: Menguji Respons Kepemimpinan Presiden Prabowo dalam Penanganan Karhutla 2026

Ketika Utang Menjadi Alat Tekanan: Saat Perjanjian Lahir dari Ketakutan dan Ketidakberdayaan

Jangan Terus Menyalahkan Guru atas Rusaknya Karakter Anak, Ada Paradoks Mutu Pendidikan yang Sering Diabaikan

REKOMENDASI JURNALPOST

Pilihan Untukmu

HUT ke-58 Semen Tonasa, Transformasi Bisnis dan Efisiensi Jadi Fokus

UPN Veteran Jawa Timur Dampingi Pemerintah Desa Segorotambak Sidoarjo Perkuat Tertib Administrasi dan Pelayanan Publik

Capek Kok Dibanggakan? Membaca Hustle Culture dalam Kacamata Sartre dan Han

Kejujuran Perlu Ekosistem: Membangun Budaya Integritas dari Lingkungan Kampus

Pilihan Editor

  1. 1 Dari Instruksi ke Implementasi: Menguji Respons Kepemimpinan Presiden Prabowo dalam Penanganan Karhutla 2026
  2. 2

    Membuka Kesempatan Kerja di Tengah Tantangan Ekonomi, Menatap Masa Depan Ketenagakerjaan Indonesia

  3. 3

    Digitalisasi Bank Syariah Permudah Transaksi, Keamanan Data Nasabah Jadi Tantangan Utama

  4. 4

    Pasar.id BRI Bojonegoro Hadirkan Peluang Penghasilan Tambahan bagi Pengemudi Ojek Lokal

  5. 5

    Berawal dari Jualan Mango Sago, Rini Astuti Kembangkan Usaha Kuliner Berkat Dukungan KUR BRI Bojonegoro

IKLAN
JurnalPost

Media Publikasi Indonesia yang menyediakan informasi terkini. Situs ini didirikan pada tahun 2015 dan telah menjadi salah satu sumber berita yang populer di Indonesia.

Jelajahi

Advertorial Artikel Berita Bisnis Citizen Reporter Daerah Ekonomi English Version Essay Featured
Hukum Internasional Kolom Opini Nasional Olahraga Pendidikan Politik Profil Teknologi Wisata

Kanal

About Us Jurnalisme Warga Kebijakan Cookie Kebijakan Data Kirim Opini Kirim Tulisan Media Kit Pedoman Redaksi

Ikuti kami di

Facebook X/Twitter Instagram Threads TikTok Pinterest LinkedIn YouTube
© 2026 - PT Jurnal Post Indonesia. All Rights Reserved.