Lewati ke konten utama
Home About Us Redaksi Kirim Berita Media Kit
Pedoman
Kebijakan Cookie Pedoman Media Siber Publikasi Media Online Jasa Backlink Jasa Guest Post Penulisan Artikel Pembuatan Website Pedoman AI
ID | EN

Masuk / Gabung

Jelajahi

Beranda Internasional Nasional Daerah Featured Opini Pendidikan
More
Profil Advertorial Bisnis Press Release Essay English Version Ekonomi
Informasi
About Us Redaksi Kirim Berita Media Kit
Pedoman
Kebijakan Cookie Pedoman Media Siber Pedoman AI
Masuk / Gabung
Ikuti kami
EN ARTIKEL
Beranda Internasional Nasional Daerah Featured Opini Pendidikan
More
Profil Advertorial Bisnis Press Release Essay English Version Ekonomi

Terbaru

  1. Cerita yang TerNARAsi dalam Potongan yang Menyambungkan

  2. Pernah Mencari “Sakit Kepala Sebelah” di Google, Lalu Takut Umur Tinggal Setahun?

  3. Kepemimpinan Bukan Sekadar Janji Besar, Rakyat Menunggu Hasil Nyata dari Pemerintah

  4. UI Dorong Limbah Plastik Jadi Produk Bernilai Ekonomi di Desa Tembok Bali

  5. Aset Publik Bukan Milik Pribadi: Memahami Aturan Hukum Pengelolaan Barang Milik Negara dan Daerah

  1. Beranda
  2. Berita
  3. Mengikat Talenta Melalui Skema Pembinaan LDI 2026

Mengikat Talenta Melalui Skema Pembinaan LDI 2026

Foto profil Gilang Pamungkas
Editor: Gilang Pamungkas
24 September 2026, 15.29 WITA Editor: Tim Editor JurnalPost
6 menit baca
Pembinaan LDI

JurnalPost.com - Banyak organisasi baru menyadari nilai seorang talenta ketika orang tersebut memutuskan pergi. Setelah pengunduran diri terjadi, barulah terlihat bahwa posisi yang ditinggalkan ternyata memiliki peran penting, sementara organisasi belum memiliki orang yang siap mengambil alih tanggung jawab tersebut.

Kondisi ini biasanya tidak muncul secara tiba-tiba. Ada sejumlah persoalan yang sering menjadi penyebab, mulai dari posisi strategis yang tidak dipetakan secara jelas, komunikasi antara atasan dan bawahan yang kurang efektif, hingga tidak tersedianya jalur pengembangan yang membuat karyawan potensial dapat melihat masa depannya di dalam organisasi.

IKLAN

Akibatnya, ketika talenta terbaik memilih keluar, organisasi harus kembali melakukan proses rekrutmen, seleksi, orientasi, hingga pelatihan dari awal. Selain membutuhkan waktu, proses tersebut juga menimbulkan biaya yang sebenarnya dapat ditekan apabila sistem pengelolaan talenta telah dipersiapkan sejak awal.

Gemini Generated Image h8uez8h8uez8h8ue
Baca Juga

Sebelum Berkata "Anda Diterima", Rencanakan Dulu Siapa yang Dicari

Konsep talent management yang berkembang sejak gagasan “War for Talent” McKinsey pada akhir 1990-an menempatkan pengelolaan talenta dalam tiga proses utama, yakni menarik (attract), mengembangkan (develop), dan mempertahankan (retain). Ketiga tahap ini tidak dapat berjalan sendiri-sendiri karena keberhasilan satu tahap akan sangat bergantung pada tahap lainnya.

Menarik talenta tanpa memberikan ruang pengembangan akan membuat individu potensial sulit bertahan. Sebaliknya, program pengembangan yang baik juga tidak akan memberikan dampak maksimal apabila organisasi tidak memiliki sistem untuk mempertahankan orang-orang terbaik setelah mereka berkembang.

Skema pembinaan dalam Lomba Debat Indonesia (LDI) 2026 yang diselenggarakan Pusat Prestasi Nasional (Puspresnas), Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, dapat dilihat sebagai salah satu ilustrasi bagaimana ketiga proses tersebut dijalankan secara berkesinambungan.

Menarik Talenta dari Berbagai Daerah

Tahap pertama adalah menarik dan menemukan talenta. Dalam LDI 2026, proses ini berlangsung melalui kompetisi yang mempertemukan peserta dari berbagai daerah dan latar belakang.

Hidayatullah Sumut
Baca Juga

Hidayatullah Sumut dan Kadin Medan Jajaki Kerja Sama Penguatan Ekonomi dan SDM

Kompetisi tidak hanya menjadi arena untuk menentukan pemenang, tetapi juga menjadi sarana untuk mengidentifikasi individu dengan kemampuan komunikasi, argumentasi, berpikir kritis, dan kepercayaan diri yang menonjol.

Salah satu peserta dari Bina Bangsa School PIK, Allesia Keiran The, mengungkapkan bahwa kesempatan mengikuti kompetisi membuatnya bertemu dengan banyak orang dari latar belakang yang beragam, sesuatu yang jarang ia dapatkan dalam kehidupan sehari-hari.

Pengalaman tersebut menunjukkan bahwa proses menarik talenta tidak selalu hanya berbicara tentang seleksi. Lingkungan yang mempertemukan individu dengan kemampuan dan pengalaman berbeda juga dapat menjadi daya tarik tersendiri.

Dalam dunia organisasi, prinsip serupa dapat diterapkan melalui proses rekrutmen yang tidak hanya mencari kandidat berdasarkan kebutuhan sesaat. Organisasi perlu memahami kompetensi apa yang dibutuhkan dalam jangka panjang sekaligus menciptakan lingkungan yang menarik bagi individu berbakat.

Hope Generasi Z
Baca Juga

Ketika Harapan Menjadi Kekuatan: Memaknai Hope Generasi Z di Rumah Sakit Misi Kristen

Pengembangan Tidak Berhenti Setelah Kompetisi

Tahap berikutnya adalah pengembangan. Inilah bagian yang kerap menjadi titik lemah dalam pengelolaan talenta.

Tidak sedikit organisasi berhasil menemukan individu potensial, tetapi setelah masuk ke dalam sistem, mereka tidak memperoleh ruang yang cukup untuk meningkatkan kemampuannya. Akibatnya, potensi yang dimiliki tidak berkembang secara maksimal.

Skema LDI 2026 menunjukkan pendekatan berbeda. Sebanyak 15 Best Speakers dari cabang Debat Bahasa Inggris memperoleh pembinaan lanjutan melalui kolaborasi Puspresnas dengan International Global Network (IGN).

Pembinaan tersebut kemudian dilanjutkan dengan proses seleksi hingga terpilih tiga peserta terbaik untuk mewakili Indonesia pada Asia Youth International Model United Nations (AYIMUN) di Kuala Lumpur yang dijadwalkan berlangsung pada Januari 2027.

Artinya, proses pengembangan tidak berhenti ketika kompetisi nasional selesai. Prestasi justru menjadi pintu menuju tahapan pembinaan berikutnya.

IKLAN

Model seperti ini relevan apabila diterapkan dalam organisasi. Karyawan yang menunjukkan potensi tidak cukup hanya diberikan penghargaan. Mereka memerlukan pelatihan, pendampingan, pengalaman baru, tanggung jawab yang lebih besar, dan kesempatan untuk meningkatkan kompetensi.

Dengan jalur pengembangan yang jelas, seseorang dapat melihat hubungan antara usaha yang dilakukannya saat ini dengan peluang yang dapat diperoleh pada masa mendatang.

Retensi Bukan Sekadar Membuat Orang Bertahan

Tahap ketiga adalah mempertahankan talenta. Dalam konteks organisasi, retensi sering kali dipahami secara sempit sebagai upaya agar karyawan tidak mengundurkan diri.

Padahal, mempertahankan talenta tidak cukup dengan meminta seseorang untuk tetap berada di organisasi. Individu akan lebih terdorong untuk bertahan apabila mereka merasa dihargai, berkembang, dan memperoleh manfaat nyata dari keterlibatannya.

Dalam LDI, penghargaan yang diterima peserta tidak berhenti pada kemenangan dalam kompetisi. Sertifikat tingkat nasional yang diperoleh peserta dapat menjadi bagian dari rekam prestasi yang membantu mereka ketika mencari beasiswa maupun mendaftar ke perguruan tinggi.

Gabrielle Angeline Stephanson Li, peraih Third Best Speaker, juga melihat pengalaman tersebut sebagai kesempatan untuk meningkatkan kepercayaan diri, memperluas wawasan, dan membangun relasi.

Hal tersebut memperlihatkan bahwa pengalaman yang bernilai dapat menjadi bentuk retensi yang kuat. Seseorang akan merasa memiliki keterikatan ketika lingkungan yang diikutinya memberikan pengalaman, jaringan, pengakuan, dan kesempatan berkembang.

Prinsip yang sama berlaku di perusahaan. Kompensasi tentu penting, tetapi bukan satu-satunya faktor yang menentukan apakah talenta akan bertahan.

Kesempatan belajar, hubungan dengan atasan, budaya organisasi, pengakuan terhadap kontribusi, kesempatan promosi, serta kejelasan arah karier juga menjadi bagian penting dalam membangun keterikatan jangka panjang.

Organisasi Perlu Menyiapkan Jalur Talenta

Dari skema tersebut terlihat bahwa pengelolaan talenta membutuhkan proses yang berkesinambungan. Organisasi tidak cukup hanya mencari orang-orang terbaik ketika membutuhkan tenaga baru.

Sebelum melakukan rekrutmen, organisasi perlu mengetahui terlebih dahulu posisi mana yang bersifat kritis dan kompetensi apa yang dibutuhkan untuk mengisi posisi tersebut. Setelah talenta ditemukan, harus tersedia mekanisme pengembangan yang terstruktur.

Program pelatihan, pendampingan, rotasi pekerjaan, proyek strategis, hingga perencanaan suksesi dapat digunakan sebagai sarana untuk mempersiapkan calon pemimpin dan tenaga ahli di masa mendatang.

Pada saat yang sama, organisasi juga perlu memperbaiki komunikasi antara atasan dan bawahan. Banyak karyawan potensial memilih pergi bukan semata-mata karena persoalan penghasilan, melainkan karena merasa tidak memiliki kesempatan untuk berkembang atau tidak mengetahui arah kariernya di dalam organisasi.

Karena itu, mempertahankan talenta pada akhirnya bukan tentang bagaimana memaksa seseorang untuk tetap tinggal. Retensi muncul ketika individu merasa kontribusinya dihargai dan melihat adanya masa depan yang jelas.

Skema pembinaan LDI 2026 memberikan gambaran bahwa proses menemukan, mengembangkan, dan mempertahankan talenta dapat dirancang sebagai satu rangkaian. Talenta ditemukan melalui proses seleksi, dikembangkan melalui pembinaan lanjutan, kemudian diberikan akses terhadap kesempatan yang lebih besar.

Bagi organisasi, pelajarannya sederhana tetapi penting: jangan menunggu talenta terbaik pergi baru menyadari nilainya. Pemetaan posisi kunci, proses seleksi yang tepat, jalur pengembangan berjenjang, komunikasi yang sehat, serta jenjang karier yang transparan perlu dibangun sejak awal.

Ketika orang-orang terbaik dapat melihat ruang untuk tumbuh, peluang mereka untuk bertahan bersama organisasi pun akan semakin besar.

ENGLISH VERSION Artikel tersedia dalam Bahasa Inggris
Read in English →

Sumber artikel: https://jurnalpost.kolomopini.com/mengikat-talenta-melalui-skema-pembinaan-ldi-2026/97840/

Dicetak dari JurnalPost.com pada 04 November 2026, 00.31 WITA

  • #Karier dan Organisasi
  • #Kompetisi Debat
  • #Pengelolaan Talenta
  • #Puspresnas
  • #Skema Pembinaan LDI 2026
  • #Talent Management
  • #pengembangan SDM

Bagikan artikel

Bagikan Mengirim Tweet
JURNALPOST SOCIAL PUBLISHER

Posting ke Instagram

Menyiapkan 5 slide Reel 9:16…

Rangkaian slide vertikal sedang disusun dari artikel ini.

Konten belum dapat disiapkan.

Silakan coba kembali.

Pratinjau slide Instagram JurnalPost 1/5
REEL 9:16 · 5 SLIDE

Konten JurnalPost

Lima slide vertikal sudah disusun dalam area aman Reels. Tambahkan musik pilihan Anda setelah masuk ke Instagram.

Menyiapkan lima file gambar 9:16…

Di menu Instagram, pilih Reel, pertahankan urutan 1–5, lalu tambahkan musik yang tersedia di Instagram.

JURNALPOST SOCIAL PUBLISHER

Posting ke TikTok

Menyiapkan 5 slide TikTok 9:16…

Desain Social Publisher sedang disusun dari artikel ini.

Konten TikTok belum dapat disiapkan.

Silakan coba kembali.

Pratinjau slide TikTok JurnalPost 1/5
TIKTOK 9:16 · 5 SLIDE

Konten JurnalPost

Lima slide vertikal sudah disusun: sampul, inti berita, fakta utama, perkembangan, dan baca lengkap.

Menyiapkan lima file gambar 9:16…

Di menu berbagi, pilih TikTok, pertahankan urutan 1–5, lalu tambahkan musik atau suara di aplikasi. Jika TikTok tidak muncul, gunakan unduh manual.

Komentar 0

Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda

Komentar akan tampil setelah disetujui redaksi.

  1. Belum ada komentar. Jadilah yang pertama menyampaikan tanggapan.

Artikel Terkait

Mendukung Sustainable Development Goals, Dosen UM Ungkap Faktor Risiko Kehamilan yang Perlu Diwaspadai

Dari Teori ke Praktik, Mahasiswa Hukum UNTAG Surabaya Dalami Dunia Legal Perusahaan Melalui Magang

Pasar Turi Baru Surabaya Hadirkan Beragam Kegiatan, Tak Sekadar Menjadi Pusat Perdagangan

Ibu Rumah Tangga di Bojonegoro Buka Usaha BRILink, Tambah Penghasilan

REKOMENDASI JURNALPOST

Pilihan Untukmu

Ketika Utang Menjadi Alat Tekanan: Saat Perjanjian Lahir dari Ketakutan dan Ketidakberdayaan

Main Ponsel Saat Lampu Merah, Apakah Termasuk Pelanggaran Lalu Lintas? Ini Tinjauan Hukumnya

DP3AKB Sidoarjo Gelar FGD Evaluasi Peta Jalan Pembangunan Kependudukan 2025–2029, Perkuat Koordinasi Antar-OPD

HUT ke-58 Semen Tonasa, Transformasi Bisnis dan Efisiensi Jadi Fokus

Pilihan Editor

  1. 1 Parkir Liar di Pinggir Jalan: Menjadi Kebiasaan atau Justru Sudah Menjadi Pola Hidup Masyarakat?
  2. 2

    Beli Mainan Anak di Bojonegoro Kini Bisa Bayar Pakai QRIS BRI

  3. 3

    Resmi Dilantik, BPC GMKI Singaraja Periode 2026–2027 Fokus Kuatkan Kaderisasi dan Kolaborasi

  4. 4

    Benturan Kertas dan Layar: Saat Protokol Notaris Terjebak di Pusaran Legal Deadlock Digital

  5. 5

    Dari Instruksi ke Implementasi: Menguji Respons Kepemimpinan Presiden Prabowo dalam Penanganan Karhutla 2026

IKLAN
JurnalPost

Media Publikasi Indonesia yang menyediakan informasi terkini. Situs ini didirikan pada tahun 2015 dan telah menjadi salah satu sumber berita yang populer di Indonesia.

Jelajahi

Advertorial Artikel Berita Bisnis Citizen Reporter Daerah Ekonomi English Version Essay Featured
Hukum Internasional Kolom Opini Nasional Olahraga Pendidikan Politik Profil Teknologi Wisata

Kanal

About Us Jurnalisme Warga Kebijakan Cookie Kebijakan Data Kirim Opini Kirim Tulisan Media Kit Pedoman Redaksi

Ikuti kami di

Facebook X/Twitter Instagram Threads TikTok Pinterest LinkedIn YouTube
© 2026 - PT Jurnal Post Indonesia. All Rights Reserved.