Lewati ke konten utama
Home About Us Redaksi Kirim Berita Media Kit
Pedoman
Kebijakan Cookie Pedoman Media Siber Publikasi Media Online Jasa Backlink Jasa Guest Post Penulisan Artikel Pembuatan Website Pedoman AI
ID | EN

Masuk / Gabung

Jelajahi

Beranda Internasional Nasional Daerah Featured Opini Pendidikan
More
Profil Advertorial Bisnis Press Release Essay English Version Ekonomi
Informasi
About Us Redaksi Kirim Berita Media Kit
Pedoman
Kebijakan Cookie Pedoman Media Siber Pedoman AI
Masuk / Gabung
Ikuti kami
EN ARTIKEL
Beranda Internasional Nasional Daerah Featured Opini Pendidikan
More
Profil Advertorial Bisnis Press Release Essay English Version Ekonomi

Terbaru

  1. Pernah Mencari “Sakit Kepala Sebelah” di Google, Lalu Takut Umur Tinggal Setahun?

  2. Kepemimpinan Bukan Sekadar Janji Besar, Rakyat Menunggu Hasil Nyata dari Pemerintah

  3. UI Dorong Limbah Plastik Jadi Produk Bernilai Ekonomi di Desa Tembok Bali

  4. Aset Publik Bukan Milik Pribadi: Memahami Aturan Hukum Pengelolaan Barang Milik Negara dan Daerah

  5. Ketika Negara Gagal Menjaga Napas Warganya

  1. Beranda
  2. Kolom Opini
  3. Menyelamatkan Gen Alpha: Mengapa Anak Aktif dan Gadget Sering Salah Dimengerti di Sekolah?

Menyelamatkan Gen Alpha: Mengapa Anak Aktif dan Gadget Sering Salah Dimengerti di Sekolah?

N
Penulis: Nurul Hermawati - Paralegal SCCC 2019
10 Oktober 2026, 22.21 WITA Editor: Rafi Adinata
7 menit baca
gen Alfa
Sumber foto: Dida Agustian Ramdani

JurnalPost,com - Setiap generasi tumbuh dengan karakter dan tantangannya masing-masing. Perjalanan dari Generasi Milenial, Gen Z, hingga Generasi Alpha membawa perubahan besar dalam cara anak mengenal dunia, berkomunikasi, dan belajar.

Generasi Alpha atau Gen Alpha merupakan generasi yang sejak kecil sudah akrab dengan teknologi digital. Mereka tumbuh di tengah kemudahan akses informasi, perangkat pintar, dan berbagai bentuk hiburan berbasis layar. Tidak mengherankan jika sebagian anak terlihat begitu cepat memahami penggunaan gadget, mengenali gambar, hingga mengoperasikan aplikasi yang bahkan belum tentu dikuasai orang dewasa.

IKLAN

Namun, di balik kemampuan tersebut, muncul sejumlah tantangan perkembangan yang perlu mendapat perhatian. Orang tua dan guru kini semakin sering menghadapi persoalan anak yang sulit berkonsentrasi, terlambat berbicara (speech delay), kurang terampil dalam aktivitas motorik tertentu, atau menunjukkan perilaku sangat aktif di lingkungan sekolah.

Luka Tersembunyi di Balik Senyumnya
Baca Juga

Luka Tersembunyi di Balik Senyumnya

Kondisi ini memunculkan pertanyaan penting. Apakah anak-anak sekarang benar-benar mengalami kemunduran perkembangan, atau justru lingkungan pendidikan dan pola pengasuhan yang belum sepenuhnya mampu memahami kebutuhan mereka?

Gadget dan Berkurangnya Ruang Stimulasi Anak

Penggunaan gadget sejak usia dini menjadi salah satu persoalan yang patut diperhatikan. Tidak sedikit anak diperkenalkan dengan telepon pintar sebelum mereka memiliki kemampuan komunikasi yang matang.

Dalam kehidupan sehari-hari, gadget terkadang menjadi solusi praktis bagi orang tua untuk menenangkan anak. Ketika anak menangis, sulit makan, atau tidak bisa diam, layar menjadi pilihan yang dianggap paling mudah.

Anak memang terlihat tenang. Namun, ketenangan tersebut tidak selalu berarti kebutuhan perkembangannya telah terpenuhi.

Warm Family Homework Time
Baca Juga

Pola Asuh Orang Tua dari Budaya Berbeda dan Dampaknya terhadap Identitas Etnis Anak

Pada masa pertumbuhan, anak membutuhkan interaksi langsung untuk mengembangkan kemampuan berbicara, memahami bahasa, mengenali emosi, dan membangun keterampilan sosial. Mereka perlu diajak bercakap-cakap, bermain, bergerak, bertanya, serta berinteraksi dengan orang-orang di sekitarnya.

Apabila sebagian besar waktu anak dihabiskan dengan menonton tanpa pendampingan, kesempatan untuk memperoleh stimulasi tersebut dapat berkurang.

Meski demikian, penting dipahami bahwa keterlambatan bicara tidak selalu disebabkan oleh gadget atau kurangnya stimulasi. Kondisi ini dapat dipengaruhi berbagai faktor, termasuk gangguan pendengaran, perbedaan perkembangan, hingga kondisi medis tertentu. Karena itu, anak yang menunjukkan tanda keterlambatan perkembangan tetap memerlukan pemeriksaan oleh tenaga profesional.

Persoalannya bukan semata-mata keberadaan teknologi, melainkan bagaimana teknologi digunakan dan apakah penggunaannya menggantikan interaksi yang sebenarnya dibutuhkan anak.

Counting Coins for a Bright Future
Baca Juga

Uang Saku sebagai Ruang Belajar: Membentuk Anak yang Kritis dan Bijak Finansial

Ketika Anak Aktif Justru Dianggap Bermasalah

Tantangan perkembangan anak tidak berhenti di lingkungan keluarga. Ketika memasuki sekolah, sebagian anak menghadapi persoalan lain yang tidak kalah serius, yakni penilaian terhadap perilaku mereka.

Anak yang banyak bergerak, sulit duduk diam, gemar bertanya, atau memiliki rasa ingin tahu tinggi terkadang dianggap mengganggu proses pembelajaran.

Sebagian bahkan mendapat label sebagai anak nakal, sulit diatur, tidak fokus, atau belum siap mengikuti pendidikan pada jenjang berikutnya.

Padahal, aktivitas fisik yang tinggi tidak selalu menunjukkan adanya gangguan perkembangan. Anak memiliki temperamen, kebutuhan gerak, kemampuan regulasi diri, dan kecepatan belajar yang berbeda-beda.

Anak yang terlihat sangat aktif mungkin membutuhkan pendekatan pembelajaran yang lebih melibatkan gerakan, permainan, eksplorasi, serta aktivitas langsung.

Sayangnya, ketika pendekatan pendidikan terlalu menekankan kepatuhan untuk duduk diam dan mengikuti instruksi secara seragam, kebutuhan individual anak dapat terabaikan.

Dalam situasi tertentu, penilaian terhadap kesiapan belajar bahkan dapat memengaruhi keputusan anak untuk melanjutkan pendidikan. Anak yang dianggap belum memenuhi harapan sekolah berisiko tertahan pada jenjang tertentu tanpa memperoleh pendampingan yang sesuai.

Keputusan semacam ini seharusnya tidak hanya didasarkan pada tingkat keaktifan atau kesulitan berkonsentrasi. Sekolah perlu mempertimbangkan perkembangan anak secara menyeluruh, termasuk kemampuan sosial, emosional, bahasa, motorik, dan kesiapan belajarnya.

Sebab, anak yang belum menunjukkan kemampuan optimal pada satu tahap belum tentu tidak mampu berkembang ketika mendapatkan lingkungan dan metode pembelajaran yang tepat.

Fokus dan Konsentrasi di Tengah Budaya Digital

Salah satu tantangan yang banyak dibicarakan dalam pendidikan anak saat ini adalah kemampuan mempertahankan perhatian.

Kehadiran video pendek, permainan digital, dan konten dengan pergantian gambar yang cepat membuat anak semakin mudah memperoleh hiburan dalam waktu singkat.

IKLAN

Konten digital dirancang untuk menarik perhatian pengguna. Namun, apabila dikonsumsi secara berlebihan dan tanpa pengawasan, aktivitas tersebut berpotensi mengurangi waktu anak untuk melakukan kegiatan lain yang membutuhkan kesabaran dan keterlibatan lebih panjang.

Misalnya membaca buku bersama, menyusun balok, menggambar, bermain peran, atau menyelesaikan permainan sederhana.

Meski demikian, tidak tepat jika seluruh kesulitan fokus anak langsung disimpulkan sebagai akibat algoritma media sosial. Konsentrasi dipengaruhi banyak faktor, mulai dari usia perkembangan, kualitas tidur, lingkungan belajar, kondisi emosional, hingga kemungkinan adanya kebutuhan perkembangan tertentu.

Karena itulah, orang tua dan guru perlu memahami penyebab kesulitan anak sebelum memberikan penilaian.

Anak yang terlihat tidak fokus belum tentu malas belajar. Bisa jadi, metode pembelajaran yang digunakan belum sesuai dengan kebutuhan dan tahap perkembangannya.

Stimulasi yang Tepat Lebih Penting daripada Memberi Label

Anak-anak yang mengalami hambatan dalam perkembangan atau pembelajaran membutuhkan pendampingan, bukan penghakiman.

Berbagai kegiatan sederhana dapat membantu memberikan kesempatan kepada anak untuk melatih perhatian, keterampilan komunikasi, koordinasi gerak, dan kemampuan menyelesaikan tugas.

Bermain bersama orang tua, melakukan aktivitas fisik, mendengarkan cerita, bernyanyi, menggambar, hingga permainan yang melibatkan aturan sederhana dapat menjadi bagian dari stimulasi sehari-hari.

Di sekolah, guru dapat mengembangkan pembelajaran yang lebih variatif. Anak tidak harus selalu belajar dengan duduk diam dalam waktu panjang. Kegiatan yang melibatkan gerakan dan pengalaman langsung juga dapat membantu mereka memahami materi.

Pendampingan sebaiknya dilakukan secara konsisten dengan memperhatikan kemampuan dan kebutuhan masing-masing anak.

Untuk anak yang menunjukkan keterlambatan perkembangan yang menetap atau kesulitan belajar yang cukup berat, pemeriksaan profesional tetap diperlukan agar bantuan yang diberikan sesuai dengan kondisi sebenarnya.

Tidak semua anak akan menunjukkan perkembangan dengan kecepatan yang sama. Namun, pemberian stimulasi yang tepat dan dukungan lingkungan dapat membantu mereka mengembangkan potensi secara lebih optimal.

Sekolah Harus Menjadi Tempat Anak Berkembang, Bukan Takut Dinilai

Pendidikan seharusnya memberikan ruang bagi setiap anak untuk bertumbuh sesuai tahap perkembangannya.

Sekolah bukan sekadar tempat menentukan siapa yang paling cepat memahami pelajaran, paling tenang duduk di kelas, atau paling mudah mengikuti aturan.

Lebih dari itu, sekolah memiliki tanggung jawab untuk mengenali kemampuan, mengembangkan potensi, serta membantu anak mengatasi hambatan yang mereka hadapi.

Ketika seorang anak menunjukkan perilaku sangat aktif, pertanyaan pertama yang seharusnya muncul bukanlah bagaimana membuatnya diam, melainkan apa yang sebenarnya dibutuhkan agar ia dapat belajar dengan baik.

Begitu pula ketika anak mengalami keterlambatan berbicara atau kesulitan berkonsentrasi. Langkah yang diperlukan adalah memahami kondisi, membangun komunikasi dengan keluarga, dan menentukan pendampingan yang sesuai.

Orang tua dan pendidik harus bekerja sama. Orang tua perlu memberikan kesempatan bermain dan berinteraksi tanpa layar, sedangkan guru perlu membangun pembelajaran yang tidak semata-mata menyeragamkan kemampuan setiap anak.

Generasi Alpha bukan generasi yang harus disalahkan karena tumbuh bersama teknologi. Mereka adalah anak-anak yang sedang belajar memahami dunia dengan tantangan yang berbeda dari generasi sebelumnya.

Menyelamatkan Gen Alpha bukan berarti menjauhkan mereka sepenuhnya dari teknologi, melainkan memastikan teknologi tidak mengambil alih ruang interaksi, pengalaman, dan stimulasi yang dibutuhkan untuk tumbuh dan berkembang.

Pada akhirnya, anak-anak tidak membutuhkan label sebagai anak nakal, lambat, atau bermasalah hanya karena mereka menunjukkan perilaku berbeda. Mereka membutuhkan orang dewasa yang bersedia memahami, mendampingi, dan memberikan kesempatan untuk berkembang.

Sebab, tugas pendidikan bukan memaksa setiap anak tumbuh dengan cara yang sama, melainkan membantu setiap anak menemukan jalan terbaik untuk mencapai potensinya.

ENGLISH VERSION Artikel tersedia dalam Bahasa Inggris
Read in English →

Sumber artikel: https://jurnalpost.kolomopini.com/menyelamatkan-gen-alpha-mengapa-anak-aktif-dan-gadget-sering-salah-dimengerti-di-sekolah/98102/

Dicetak dari JurnalPost.com pada 03 November 2026, 23.37 WITA

  • #Gadget dan Anak
  • #Gen Alpha
  • #Perkembangan Anak
  • #Pola Asuh
  • #Teknologi Pendidikan
  • #pendidikan anak
  • #psikologi anak
  • #sekolah

Bagikan artikel

Bagikan Mengirim Tweet
JURNALPOST SOCIAL PUBLISHER

Posting ke Instagram

Menyiapkan 5 slide Reel 9:16…

Rangkaian slide vertikal sedang disusun dari artikel ini.

Konten belum dapat disiapkan.

Silakan coba kembali.

Pratinjau slide Instagram JurnalPost 1/5
REEL 9:16 · 5 SLIDE

Konten JurnalPost

Lima slide vertikal sudah disusun dalam area aman Reels. Tambahkan musik pilihan Anda setelah masuk ke Instagram.

Menyiapkan lima file gambar 9:16…

Di menu Instagram, pilih Reel, pertahankan urutan 1–5, lalu tambahkan musik yang tersedia di Instagram.

JURNALPOST SOCIAL PUBLISHER

Posting ke TikTok

Menyiapkan 5 slide TikTok 9:16…

Desain Social Publisher sedang disusun dari artikel ini.

Konten TikTok belum dapat disiapkan.

Silakan coba kembali.

Pratinjau slide TikTok JurnalPost 1/5
TIKTOK 9:16 · 5 SLIDE

Konten JurnalPost

Lima slide vertikal sudah disusun: sampul, inti berita, fakta utama, perkembangan, dan baca lengkap.

Menyiapkan lima file gambar 9:16…

Di menu berbagi, pilih TikTok, pertahankan urutan 1–5, lalu tambahkan musik atau suara di aplikasi. Jika TikTok tidak muncul, gunakan unduh manual.

Komentar 0

Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda

Komentar akan tampil setelah disetujui redaksi.

  1. Belum ada komentar. Jadilah yang pertama menyampaikan tanggapan.

Artikel Terkait

Pernah Mencari “Sakit Kepala Sebelah” di Google, Lalu Takut Umur Tinggal Setahun?

Kepemimpinan Bukan Sekadar Janji Besar, Rakyat Menunggu Hasil Nyata dari Pemerintah

Ketika Negara Gagal Menjaga Napas Warganya

Dari Instruksi ke Implementasi: Menguji Respons Kepemimpinan Presiden Prabowo dalam Penanganan Karhutla 2026

REKOMENDASI JURNALPOST

Pilihan Untukmu

Membuka Kesempatan Kerja di Tengah Tantangan Ekonomi, Menatap Masa Depan Ketenagakerjaan Indonesia

UMKM Bojonegoro Manfaatkan BRImo dan QRIS BRI untuk Permudah Transaksi, Berhasil Kumpulkan Tabungan Puluhan Juta

Parkir Liar di Pinggir Jalan: Menjadi Kebiasaan atau Justru Sudah Menjadi Pola Hidup Masyarakat?

PMK 37 Tahun 2025 Bukan Pajak Baru, Ini yang Perlu Dipahami Pedagang Online

Pilihan Editor

  1. 1 Main Ponsel Saat Lampu Merah, Apakah Termasuk Pelanggaran Lalu Lintas? Ini Tinjauan Hukumnya
  2. 2

    Ketika Utang Menjadi Alat Tekanan: Saat Perjanjian Lahir dari Ketakutan dan Ketidakberdayaan

  3. 3

    Pembangunan Ekonomi dan Ancaman Kerusakan Lingkungan, Sejauh Mana Hukum Indonesia Melindungi Alam?

  4. 4

    Pasar Turi Baru Surabaya Hadirkan Beragam Kegiatan, Tak Sekadar Menjadi Pusat Perdagangan

  5. 5

    Penelitian di Cilacap Ungkap 93,94 Persen Pasien Gangguan Jiwa Patuh Minum Obat, Dukungan Keluarga Jadi Perhatian

IKLAN
JurnalPost

Media Publikasi Indonesia yang menyediakan informasi terkini. Situs ini didirikan pada tahun 2015 dan telah menjadi salah satu sumber berita yang populer di Indonesia.

Jelajahi

Advertorial Artikel Berita Bisnis Citizen Reporter Daerah Ekonomi English Version Essay Featured
Hukum Internasional Kolom Opini Nasional Olahraga Pendidikan Politik Profil Teknologi Wisata

Kanal

About Us Jurnalisme Warga Kebijakan Cookie Kebijakan Data Kirim Opini Kirim Tulisan Media Kit Pedoman Redaksi

Ikuti kami di

Facebook X/Twitter Instagram Threads TikTok Pinterest LinkedIn YouTube
© 2026 - PT Jurnal Post Indonesia. All Rights Reserved.