JurnalPost.com - Bagi sebagian orang tua, uang saku mungkin hanya dianggap sebagai bekal yang diberikan kepada anak sebelum berangkat sekolah. Uang tersebut biasanya digunakan untuk membeli makanan, minuman, atau kebutuhan kecil selama berada di lingkungan sekolah. Namun, di balik kebiasaan sederhana itu, sebenarnya terdapat kesempatan untuk mengajarkan keterampilan penting yang akan berguna sepanjang kehidupan anak.
Ketika seorang anak memilih membeli makanan di kantin, menyisihkan sebagian uang untuk membeli buku, atau menunda keinginan memiliki mainan baru, ia sedang belajar mengambil keputusan.
Keputusan tersebut mungkin terlihat sederhana bagi orang dewasa. Akan tetapi, bagi anak usia sekolah dasar, pengalaman itu menjadi bagian dari proses memahami nilai uang, menentukan prioritas, mengendalikan keinginan, dan mempertimbangkan konsekuensi dari setiap pilihan.
Sayangnya, pendidikan keuangan pada anak masih sering dipahami sebatas kebiasaan menabung dan menghindari perilaku boros.
Anak diminta menyimpan uangnya, tetapi tidak selalu diajak memahami alasan mengapa uang tersebut perlu disisihkan. Mereka juga sering diberi larangan membeli sesuatu tanpa memperoleh kesempatan untuk mempertimbangkan kebutuhan dan keinginannya sendiri.
Padahal, literasi keuangan tidak cukup dibangun melalui nasihat.
Anak membutuhkan pengalaman langsung untuk mencoba, membuat pilihan, menghadapi konsekuensi, dan belajar memperbaiki keputusan yang kurang tepat.
Dengan demikian, uang saku seharusnya tidak hanya dipandang sebagai alat transaksi, tetapi juga sebagai ruang belajar untuk membentuk kemampuan berpikir kritis dan bertanggung jawab.
Anak Mengenal Uang, tetapi Belum Tentu Mampu Merencanakannya
Pengenalan terhadap uang sebenarnya sudah dimulai sejak anak berada pada usia dini. Mereka mulai memahami bahwa uang digunakan untuk membeli sesuatu dan setiap barang memiliki harga yang berbeda.
Namun, kemampuan mengenali uang tidak selalu diikuti keterampilan mengelolanya.
Penelitian Petra Omega, Risti Alfiani, dan Cucun Sutinah yang diterbitkan dalam Current Issues on Elementary Education Journal pada 2024 memberikan gambaran mengenai kondisi literasi keuangan siswa sekolah dasar.
Penelitian deskriptif yang melibatkan 30 siswa kelas VI di salah satu sekolah dasar negeri di Bandung tersebut menunjukkan rata-rata skor literasi keuangan sebesar 56 persen, yang dikategorikan rendah oleh peneliti.
Pada indikator kemampuan membedakan kebutuhan dan keinginan, capaian siswa mencapai 93 persen. Namun, pada indikator kesadaran terhadap pentingnya perencanaan keuangan, capaian yang dilaporkan hanya sebesar 4 persen.
Perbedaan tersebut menunjukkan adanya kesenjangan antara pemahaman konsep dan kemampuan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.
Anak mungkin sudah mengetahui bahwa makanan merupakan kebutuhan, sedangkan mainan tertentu termasuk keinginan. Namun, pengetahuan tersebut belum tentu membuat mereka mampu menyusun rencana penggunaan uang secara tepat.
Meski demikian, hasil penelitian tersebut tidak dapat digeneralisasi untuk menggambarkan seluruh siswa sekolah dasar di Indonesia karena hanya melibatkan 30 responden dari satu sekolah.
Temuan itu tetap dapat menjadi bahan refleksi bahwa pendidikan keuangan perlu memberikan perhatian lebih besar terhadap keterampilan perencanaan, bukan hanya pengenalan konsep.
Penelitian lain yang dilakukan Diana Lutfiana Ulfa dan Khabibur Rohman mengenai profil uang saku serta pola belanja siswa SD/MI di sejumlah wilayah Jawa Timur bagian selatan juga memberikan gambaran menarik.
Penelitian yang melibatkan 440 siswa tersebut menemukan rata-rata uang saku sebesar Rp5.700 per hari.
Uang tersebut digunakan untuk berbagai keperluan, mulai dari membeli makanan dan minuman, mainan, membayar iuran kelas, hingga disisihkan untuk ditabung atau dibawa kembali ke rumah.
Angka tersebut bukan ukuran uang saku ideal bagi seluruh anak Indonesia. Nilainya hanya menggambarkan karakteristik responden dan wilayah yang menjadi lokasi penelitian.
Namun, penelitian tersebut memperlihatkan bahwa uang saku memiliki fungsi yang beragam dalam kehidupan anak.
Pengelolaannya tidak hanya berkaitan dengan kebiasaan konsumsi, tetapi juga kebutuhan sosial, aktivitas sekolah, dan kesempatan untuk belajar menentukan prioritas.
Mengajarkan Literasi Keuangan Sesuai Usia Anak
Pembelajaran literasi keuangan pada anak sekolah dasar perlu disesuaikan dengan tahap perkembangan dan kemampuan berpikir mereka.
Anak usia 6 hingga 12 tahun memiliki kebutuhan pembelajaran yang berbeda. Anak kelas awal umumnya lebih mudah memahami konsep melalui contoh konkret dan kegiatan sederhana, sedangkan anak kelas atas dapat mulai dilibatkan dalam perencanaan dan pengambilan keputusan yang lebih kompleks.
Pada usia sekitar 6–8 tahun, pengenalan keuangan dapat dimulai dari kegiatan mengenali nominal uang, menghitung harga barang, memahami uang kembalian, serta membedakan kebutuhan dan keinginan.
Guru dapat menggunakan permainan jual beli dengan uang mainan untuk memperkenalkan konsep tersebut.
Misalnya, anak diberikan uang mainan senilai Rp10.000 dan diminta memilih beberapa barang dengan harga berbeda. Dari kegiatan itu, mereka dapat belajar menghitung total belanja sekaligus memahami bahwa jumlah uang yang tersedia memiliki batas.
Sementara itu, pada usia sekitar 9–12 tahun, pembelajaran dapat dikembangkan melalui penyusunan daftar belanja, perbandingan harga, penetapan target menabung, dan perencanaan penggunaan uang saku.
Anak juga dapat diajak menjelaskan alasan mengapa memilih suatu barang dibandingkan barang lainnya.
Pembagian usia tersebut bukan batas perkembangan yang mutlak. Kemampuan setiap anak tetap perlu dilihat berdasarkan pengalaman, kebutuhan, serta lingkungan belajarnya.
Dalam kajian perkembangan kognitif, pemikiran Jean Piaget membantu menjelaskan pentingnya pengalaman konkret bagi anak usia sekolah dasar.
Pada tahap ini, anak umumnya semakin mampu menggunakan penalaran logis ketika berhadapan dengan situasi nyata yang dapat diamati.
Karena itu, konsep seperti anggaran, prioritas, dan keterbatasan sumber daya akan lebih mudah dipahami ketika dikaitkan dengan pengalaman sehari-hari daripada hanya dijelaskan melalui definisi.
Uang Saku sebagai Latihan Berpikir Kritis
Bayangkan seorang anak memperoleh uang saku sebesar Rp10.000.
Ketika berada di sekolah, ia ingin membeli makanan seharga Rp6.000 dan minuman seharga Rp4.000. Pada saat yang sama, anak tersebut sedang mengumpulkan uang untuk membeli buku gambar.
Jika seluruh uang digunakan untuk membeli makanan dan minuman, tidak ada lagi yang dapat disisihkan untuk mencapai targetnya.
Dalam situasi seperti itu, orang tua atau guru sebenarnya dapat langsung menentukan barang mana yang harus dibeli.
Namun, pembelajaran akan menjadi lebih bermakna apabila anak diberikan kesempatan untuk mempertimbangkan pilihannya sendiri.
Anak dapat diajak berpikir melalui beberapa pertanyaan.
Apakah makanan dan minuman tersebut sama-sama diperlukan? Apakah ia dapat membawa air minum dari rumah? Berapa uang yang masih bisa disisihkan tanpa mengabaikan kebutuhan makan?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut membantu anak memahami bahwa setiap keputusan memiliki konsekuensi.
Mereka mulai belajar membandingkan pilihan, mempertimbangkan kebutuhan, serta menentukan tindakan yang paling sesuai dengan kondisi yang dihadapi.
Di sinilah uang saku dapat menjadi sarana untuk melatih kemampuan berpikir kritis.
Anak tidak sekadar mengikuti instruksi untuk berhemat, tetapi memahami alasan mengapa sebuah keputusan perlu diambil.
Dalam pembelajaran di sekolah, guru dapat mengembangkan kegiatan serupa melalui simulasi pasar sederhana.
Siswa diberikan sejumlah uang mainan dan daftar barang dengan harga yang berbeda. Mereka kemudian diminta menyusun rencana belanja, menghitung total pengeluaran, serta menjelaskan alasan pemilihan barang.
Kegiatan tersebut dapat diintegrasikan ke dalam berbagai mata pelajaran.
Dalam Matematika, siswa belajar menghitung harga, penjumlahan, pengurangan, dan uang kembalian.
Dalam Ilmu Pengetahuan Alam dan Sosial (IPAS), siswa dapat mendiskusikan hubungan antara kebiasaan konsumsi, penggunaan sumber daya, dan dampaknya terhadap lingkungan.
Sementara itu, dalam Pendidikan Pancasila, kegiatan tersebut dapat digunakan untuk menanamkan nilai kejujuran, tanggung jawab, dan kepedulian terhadap orang lain.
Melalui pendekatan ini, literasi keuangan tidak berdiri sebagai pengetahuan yang terpisah, melainkan menjadi bagian dari pengalaman belajar yang dekat dengan kehidupan siswa.
Menghadapi Pengaruh Teman dan Lingkungan
Keputusan anak dalam menggunakan uang tidak selalu didasarkan pada kebutuhan pribadi.
Lingkungan pertemanan juga dapat memengaruhi kebiasaan membeli.
Anak mungkin tertarik memiliki mainan tertentu karena melihat teman-temannya menggunakan barang yang sama. Mereka juga dapat terdorong membeli makanan atau minuman yang sedang populer meskipun sebelumnya tidak memiliki keinginan tersebut.
Kondisi ini merupakan bagian dari proses sosial yang wajar, tetapi tetap membutuhkan pendampingan.
Orang tua dan guru dapat membantu anak memahami bahwa tidak semua barang yang dimiliki orang lain harus ikut dibeli.
Anak juga perlu belajar bahwa harga murah atau potongan harga tidak selalu membuat sebuah pembelian menjadi keputusan yang tepat.
Misalnya, sebuah barang yang dijual dengan diskon besar belum tentu diperlukan.
Jika anak membelinya hanya karena tergiur potongan harga, pengeluaran tersebut tetap dapat menjadi pemborosan.
Melalui diskusi sederhana, anak dapat dilatih untuk mempertanyakan informasi yang diterima sebelum mengambil keputusan.
Kemampuan ini penting karena literasi keuangan bukan hanya berkaitan dengan keterampilan menghitung uang, tetapi juga kemampuan menilai informasi dan mengendalikan dorongan konsumsi.
Dengan membiasakan anak berpikir sebelum membeli, pendidikan keuangan sekaligus membantu membangun kemandirian dalam menentukan pilihan.
Peran Keluarga dan Sekolah dalam Membentuk Kebiasaan Finansial
Pendidikan keuangan anak tidak dapat sepenuhnya dibebankan kepada sekolah.
Keluarga merupakan lingkungan pertama tempat anak mengenal uang, kebiasaan belanja, serta cara orang dewasa menentukan prioritas.
Anak belajar bukan hanya melalui penjelasan, tetapi juga dengan mengamati perilaku orang-orang di sekitarnya.
Ketika orang tua membandingkan harga sebelum membeli barang, menyusun daftar kebutuhan, atau menunda pembelian yang belum mendesak, anak memperoleh contoh nyata mengenai pengelolaan keuangan.
Penelitian Hermansyah dan rekan-rekannya yang diterbitkan dalam Kasetsart Journal of Social Sciences pada 2024 turut membahas implementasi literasi keuangan dalam pendidikan sekolah dasar di Indonesia.
Kajian tersebut memperkuat pentingnya menjadikan pendidikan keuangan sebagai bagian dari perhatian sekolah, bukan hanya tanggung jawab keluarga.
Dalam kehidupan sehari-hari, orang tua dapat melibatkan anak dalam kegiatan sederhana.
Misalnya, ketika berbelanja buah, anak diajak membandingkan harga dan menentukan pilihan sesuai jumlah uang yang tersedia.
Orang tua juga dapat membiasakan anak menyusun daftar barang yang ingin dibeli, kemudian mendiskusikan mana yang perlu diprioritaskan.
Pendekatan tersebut tidak harus dilakukan melalui nasihat panjang.
Pertanyaan sederhana seperti "Mengapa kamu memilih barang ini?" atau "Apakah barang ini harus dibeli sekarang?" dapat menjadi awal percakapan yang membantu anak memahami proses pengambilan keputusan.
Di sekolah, guru dapat memperkuat pengalaman tersebut melalui permainan, proyek pengelolaan uang saku, maupun diskusi mengenai kebutuhan sehari-hari.
Hal yang tidak kalah penting adalah memberikan kesempatan kepada anak untuk belajar dari kesalahan.
Ketika uang saku habis lebih cepat daripada yang direncanakan, anak tidak selalu perlu dimarahi.
Orang tua dapat mengajak mereka meninjau kembali pengeluaran, memahami penyebabnya, dan menyusun rencana yang lebih baik.
Tujuannya bukan membuat anak takut menggunakan uang, melainkan membantu mereka mengembangkan tanggung jawab atas keputusan yang telah dibuat.
Bijak Finansial Tidak Diukur dari Banyaknya Tabungan
Dalam mengajarkan literasi keuangan, perbedaan kondisi ekonomi keluarga juga perlu menjadi perhatian.
Tidak semua anak memperoleh uang saku dalam jumlah yang sama.
Sebagian menerima uang setiap hari, sebagian memperoleh uang mingguan, sementara anak lainnya lebih sering membawa bekal dari rumah atau tidak memiliki uang saku rutin.
Perbedaan tersebut tidak seharusnya menjadi dasar untuk menilai tingkat kecerdasan finansial anak.
Anak yang memiliki tabungan dalam jumlah besar belum tentu lebih bijak dalam mengambil keputusan dibandingkan anak yang hanya memiliki sedikit uang.
Sebaliknya, anak yang tidak memiliki tabungan bukan berarti tidak mampu memahami konsep pengelolaan keuangan.
Kemampuan finansial perlu dinilai melalui proses berpikir dan perilaku yang ditunjukkan anak.
Misalnya, apakah anak dapat membedakan kebutuhan dan keinginan, menjelaskan alasan pembelian, menghitung pengeluaran sederhana, serta memahami akibat dari keputusan yang diambil.
Pendekatan tersebut lebih relevan untuk tujuan pendidikan dibandingkan sekadar membandingkan jumlah tabungan antarsiswa.
Literasi keuangan juga tidak boleh menjadi sarana untuk mempermalukan anak yang berasal dari keluarga dengan keterbatasan ekonomi.
Justru pendidikan keuangan perlu memberi kesempatan belajar yang setara kepada semua anak, terlepas dari besarnya uang saku yang mereka miliki.
Membentuk Anak yang Mampu Mengambil Keputusan
Pendidikan literasi keuangan sejak sekolah dasar pada akhirnya bukan bertujuan menjadikan anak sekadar pandai menabung atau berhati-hati ketika berbelanja.
Tujuan yang lebih mendasar adalah membentuk kemampuan berpikir sebelum mengambil keputusan.
Melalui pengelolaan uang saku, anak belajar memahami keterbatasan, menentukan prioritas, mempertimbangkan pilihan, serta menerima konsekuensi dari tindakannya.
Keterampilan tersebut tidak hanya bermanfaat ketika anak menggunakan uang.
Dalam kehidupan yang lebih luas, kemampuan menentukan prioritas dan mempertimbangkan konsekuensi juga diperlukan ketika mereka menghadapi persoalan akademik, sosial, dan berbagai keputusan pribadi.
Karena itu, keluarga dan sekolah perlu bekerja sama menciptakan pengalaman belajar yang memberikan ruang bagi anak untuk berpikir secara mandiri.
Uang saku mungkin terlihat kecil nilainya bagi orang dewasa. Namun, bagi anak, setiap keputusan untuk menggunakan atau menyisihkan uang dapat menjadi pengalaman belajar yang sangat berarti.
Anak perlu diberi kesempatan untuk mencoba, mempertimbangkan pilihan, dan belajar dari pengalaman tanpa selalu diarahkan secara sepihak.
Kita tidak hanya membutuhkan anak yang rajin menabung, tetapi juga anak yang mampu memahami kebutuhan, mengendalikan keinginan, mempertimbangkan alternatif, dan bertanggung jawab atas keputusan yang diambilnya.
Sebab, kecakapan finansial tidak dimulai ketika seseorang memiliki penghasilan besar.
Kecakapan tersebut dapat dibangun sejak kecil, ketika anak belajar bertanya sebelum membeli, berpikir sebelum memilih, dan memahami bahwa setiap keputusan memiliki konsekuensi.
Daftar Referensi
Hermansyah, A. K., Wangid, M. N., Kusmaryani, R. E., Mustadi, A., & Zubaidah, E. (2024). Implementation of financial literacy in elementary school: Study in Indonesia. Kasetsart Journal of Social Sciences. DOI: 10.34044/j.kjss.2024.45.3.18.
Omega, P., Alfiani, R., & Sutinah, C. (2024). Financial literacy of elementary school students: Understanding the concept of money and financial planning. Current Issues on Elementary Education Journal. DOI: 10.17509/ciee.v3i2.76532.
Ulfa, D. L., & Rohman, K. Profil Uang Saku dan Pola Belanja Siswa Sekolah Dasar. Referensi publikasi: Jurnal JPPI, ejournal.intelektualedu.com.
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda