Donny Syofyan Dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas
JurnalPost.com - Para pemilih muda akan mendominasi pemilu 2024. Sekitar 114 juta rakyat Indonesia yang memenuhi syarat untuk memilih tahun depan berusia di bawah 40 tahun. Dari jumlah itu, lebih dari 68 juta adalah kaum milenial yang lahir antara awal 1980-an dan pertengahan 1990-an. Sisanya 46 juta orang adalah Generasi Z, yang lahir antara pertengahan 1990-an hingga dekade pertama milenium ini. Banyak di antara mereka yang ikut pemilu buat pertama kali.
Pemilu 2024 bukan hanya pemilu pertama di mana jumlah kawula melebihi peserta pemilu di atas usia 40 tahun, tetapi ini juga pertama kalinya kita menyaksikan Gen Z dalam jumlah yang besar, sebuah kelompok demografis yang secara luas dipandang apatis secara politik.
Data dari Amerika Serikat membantu menggambarkan kondisi apatis tersebut: hanya 27 persen pemuda yang berusia 18 hingga 29 tahun memberikan surat suara dalam pemilihan tengah semester AS terakhir pada November 2022. Ini bisa menimbulkan masalah bagi banyak parpol mengingat mereka punya tugas sangat besar untuk membujuk dan mengajak pemilih muda. Tapi itu bukan mustahil jika parpol tahu bagaimana mencapainya. Sebagian besar, jika tidak semua, partai politik menegaskan mereka akan menyasar kaum muda dan pemilih pemula pada kampanye 2024, meskipun belum ada program-program konkret.
Beberapa parpol bahkan telah merekrut politisi populer di kalangan pemuda, seperti Ridwan Kamil dari Partai Golkar dan Sandiaga Uno dari Partai Persatuan Pembangunan (PPP), untuk memimpin kampanye. Parpol lain telah melangkah lebih jauh dengan mengubah citra dirinya sebagai partai yang berorientasi pada kaum muda dan inklusifitas. Salah satunya adalah Partai Amanat Nasional (PAN), yang telah berupaya untuk melepaskan lapisan jargon-jargon Islamisnya dan beralih ke retorika nasionalis. Bahkan banyak anggota parpol ini mulai beralih ke kampanye di media sosial, bernyanyi dan menari di Instagram dan Tiktok.
Sekarang ada kekhawatiran nyata di kalangan pemuda bahwa planet ini hanya bisa dihuni untuk beberapa dekade lagi. Sejumlah politisi memang telah mengampanyekan isu perubahan iklim, tetapi pemilih dari kalangan muda menginginkan para kandidat dengan wawasan dan aksi iklim konkret. Singkatnya, Gen Z tidak akan mau membuang waktu mereka menuju ke tempat pemungutan suara. Persoalan iklim hanyalah salah satu dari banyak masalah nyata yang dihadapi kaum muda.
Banyak hal lainnya tidak kalah mengkhawatirkan bagi Gen Z; apakah mereka mampu membeli rumah? Apakah mereka memiliki akses ke layanan kesehatan yang terjangkau jika mereka sakit? Bisakah mereka mendapatkan pekerjaan yang bagus dan tetap tanpa direpotkan oleh ancaman kecerdasan buatan (AI) atau otomatisasi? Para politisi perlu ingat bahwa kaum milenial dan Gen Z bukan hanya pemuda yang kaya, berpendidikan tinggi, suka menyeruput latte, dan menggulir (scrolling) Instagram berjam-jam yang tinggal di kota-kota besar.
Ada jutaan orang muda yang kurang mampu di luar kota dan di pedesaan yang berjuang untuk mencari nafkah hanya untuk membayar tagihan, mendukung anak-anak atau orang tua mereka yang sudah lanjut usia. Para pemuda ini tahu apa yang mereka butuhkan, tetapi mereka tidak memiliki alat dan kekuatan untuk mempengaruhi perubahan.
Jika para politisi mampu menjangkau para pemilih muda ini, mereka tentu bakal mendapatkan gambaran lebih baik dari masalah anak-anak muda dan bagaimana membantu mengatasinya. Karena itu, turunlah ke sana dan dengarkan mereka. Jangan pernah menilai atau memberi ceramah saja. Satu hal yang tidak disukai oleh kaum muda adalah ‘digurui/diceramahi’, terutama oleh orang luar atau orang asing. Plus jangan ada janji kosong.
Sekarang masih tahap awal dan pendaftaran kandidat belum akan dibuka sampai Oktober. Para calon politisi masih memiliki waktu untuk menyiapkan strategi untuk membujuk pemilih milenial dan Gen Z. Hal yang baik tentang demokrasi Indonesia adalah bahwa jumlah pemilih sejauh ini tetap sangat tinggi. Dalam pemilu 2019, jumlah pemilih mencapai 80 persen, salah satu yang tertinggi di antara negara-negara demokrasi di dunia.
Partai-partai politik tentu tidak ingin mencemari catatan ini dengan mengecewakan pemilih muda. Jadi untuk semua politisi yang berhasrat mencalonkan diri tahun depan, rancanglah program Anda dengan lebih baik. Kalau tidak, pemilih muda yang merupakan mayoritas tidak akan repot-repot hadir di tempat pemungutan suara tahun depan.
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda