JurnalPost.com, Wonogiri – Pengelolaan kandang yang baik dan penerapan biosecurity menjadi dua aspek penting dalam menjaga kesehatan sekaligus meningkatkan produktivitas sapi potong. Hal tersebut menjadi fokus pendampingan yang diberikan tim Universitas Diponegoro (Undip) kepada kelompok peternak di Kecamatan Nguntoronadi, Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah.
Program pengabdian kepada masyarakat tersebut dilaksanakan selama periode Kuliah Kerja Nyata (KKN), mulai 9 Juli hingga 18 Agustus 2026. Kegiatan menyasar kelompok peternak yang tersebar di 11 desa di Kecamatan Nguntoronadi.
Tim pengabdian dipimpin Dr. Dinda Ayu Permata Sari, S.Pt., M.Si., dosen Departemen Peternakan, Fakultas Peternakan dan Pertanian Universitas Diponegoro, bersama dosen lainnya dan mahasiswa KKN.
Kecamatan Nguntoronadi memiliki aktivitas peternakan sapi potong yang cukup berkembang di tingkat masyarakat. Bagi sebagian peternak, sapi tidak hanya menjadi sumber pendapatan, tetapi juga berfungsi sebagai aset yang dapat dimanfaatkan ketika terdapat kebutuhan ekonomi keluarga.
Meski demikian, pola pemeliharaan secara tradisional masih ditemukan pada sebagian peternak. Kondisi tersebut terlihat dari pengelolaan kebersihan kandang, sirkulasi udara, penanganan limbah, hingga penerapan biosecurity yang belum dilakukan secara konsisten.
Padahal, pengelolaan kandang yang tepat memiliki peran penting dalam menjaga kenyamanan ternak dan mengurangi risiko muncul maupun menyebarnya penyakit.
Edukasi Dilakukan di 11 Desa
Dalam pelaksanaannya, tim Undip memanfaatkan pertemuan rutin kelompok peternak di masing-masing desa sebagai ruang edukasi.
Pertemuan kelompok yang umumnya berlangsung sedikitnya satu kali dalam sebulan diisi dengan penyampaian materi, diskusi, serta pembagian panduan mengenai manajemen perkandangan dan biosecurity.
Materi yang diberikan antara lain mengenai desain kandang, pengaturan ventilasi dan sirkulasi udara, kebersihan lingkungan kandang, hingga pengelolaan kotoran ternak agar tidak menimbulkan persoalan bagi lingkungan sekitar.
Peternak juga mendapatkan penjelasan mengenai prinsip biosecurity untuk mencegah masuk dan menyebarnya agen penyakit di lingkungan peternakan.
Langkah-langkah tersebut antara lain mencakup menjaga kebersihan kandang dan peralatan, membatasi faktor yang berpotensi membawa penyakit ke area ternak, hingga penggunaan disinfektan sesuai kebutuhan.
Selain penyampaian materi, forum tersebut menjadi kesempatan bagi peternak untuk mendiskusikan berbagai persoalan yang mereka hadapi dalam pemeliharaan sapi sehari-hari.

Beberapa pembahasan menyangkut penanganan masalah kesehatan ternak, kondisi kandang, kebersihan, hingga cara pemeliharaan yang lebih efektif.
Peternak Mulai Pahami Pentingnya Biosecurity
Salah seorang anggota kelompok peternak di Kecamatan Nguntoronadi, Kadiman, mengaku mendapatkan pengetahuan baru melalui kegiatan tersebut.
Menurut dia, sebagian peternak selama ini masih memelihara sapi menggunakan kebiasaan yang diwariskan secara turun-temurun tanpa memahami secara mendalam pentingnya pengelolaan kandang dan biosecurity.
“Kami sangat terbantu dan berterima kasih dengan adanya kegiatan penyuluhan serta pembagian materi dari dosen Undip dan para mahasiswa yang diselipkan di sela-sela kumpulan rutin kelompok kami,” ujar Kadiman.
Ia mengatakan materi mengenai kebersihan kandang dan pencegahan penyakit membuat peternak lebih memahami bahwa kondisi lingkungan pemeliharaan memiliki keterkaitan langsung dengan kesehatan ternak.
“Selama ini kami merawat sapi di kandang seadanya tanpa tahu pentingnya pengaturan jarak, kebersihan ketat, maupun biosecurity. Berkat bimbingan ini, kami jadi paham bagaimana cara menjaga kesehatan sapi agar terhindar dari wabah penyakit sehingga pertumbuhan sapi ke depan bisa lebih maksimal dan bernilai jual tinggi,” katanya.
Dari Pola Tradisional Menuju Pemeliharaan Lebih Terstruktur
Dr. Dinda berharap pendampingan tersebut dapat mendorong peternak menerapkan pola pemeliharaan yang lebih terstruktur tanpa mengabaikan kondisi serta kemampuan masing-masing usaha peternakan rakyat.
Penerapan manajemen kandang tidak selalu harus dimulai dengan perubahan besar. Perbaikan dapat dilakukan secara bertahap, seperti menjaga kebersihan secara rutin, memastikan sirkulasi udara memadai, mengatur pembuangan limbah, serta memperhatikan akses keluar-masuk area pemeliharaan.
Upaya tersebut dapat dilengkapi dengan penerapan biosecurity sebagai langkah pencegahan penyakit.
Pencegahan dinilai penting karena gangguan kesehatan pada sapi tidak hanya berpengaruh terhadap kondisi ternak, tetapi juga dapat meningkatkan biaya pemeliharaan dan menurunkan produktivitas peternak.
Melalui pendampingan yang dilakukan bersamaan dengan program KKN, pengetahuan dari perguruan tinggi diharapkan dapat lebih mudah diterapkan dalam praktik peternakan sehari-hari.
Kolaborasi dosen, mahasiswa, dan kelompok peternak juga memberikan ruang untuk menyesuaikan materi akademik dengan kondisi nyata yang ditemui di lapangan.
Dalam jangka panjang, peningkatan pemahaman mengenai manajemen perkandangan dan biosecurity diharapkan dapat membantu peternak Nguntoronadi menjaga kesehatan sapi, meningkatkan efisiensi pemeliharaan, serta memperbaiki kualitas dan nilai ekonomi ternak.
Upaya tersebut sekaligus dapat mendukung penguatan peternakan rakyat sebagai salah satu bagian dari sistem ketahanan pangan di Kabupaten Wonogiri.
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda