Bengkulu, JurnalPost.com — Poltekkes Kemenkes Bengkulu bekerja sama dengan Forum Tempe Indonesia (FTI) menggelar seminar nasional bertema “Optimalisasi Tempe sebagai Pangan Lokal dalam Program Makan Bergizi Gratis (MBG)”, Sabtu (29/8/2026).
Kegiatan tersebut diikuti relawan dari tiga Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Kota Bengkulu, yakni SPPG Muara Bangkahulu, SPPG Ratu Samban Padang Jati, dan SPPG Ratu Agung Tanah Patah 2.
Seminar merupakan bagian dari program pengabdian kepada masyarakat yang diketuai Dr. Betty Yosephin bersama tim dosen Poltekkes Kemenkes Bengkulu. Pelaksanaan kegiatan mendapat dukungan pembiayaan dari Forum Tempe Indonesia.
Kegiatan dibuka Koordinator Regional Badan Gizi Nasional (BGN) Provinsi Bengkulu, Iqbal Ramadhan, S.H. Dalam sambutannya, Iqbal menyampaikan dukungan terhadap kegiatan tersebut karena dinilai dapat menambah wawasan para relawan pengolah makanan di SPPG, terutama terkait pemanfaatan dan pengolahan tempe.
Tempe sebagai Sumber Protein Nabati Lokal
Sekretaris Jenderal Forum Tempe Indonesia, Muhammad Ridha, S.TP., M.M., menjadi salah satu narasumber dalam seminar tersebut.
Ia memberikan pemaparan mengenai tempe mulai dari sejarah, ragam produk, hingga perannya sebagai salah satu sumber protein nabati lokal yang berpotensi dioptimalkan dalam Program Makan Bergizi Gratis.
Dalam materinya, Ridha juga membandingkan nilai gizi tempe dengan sejumlah sumber protein hewani serta menjelaskan tahapan produksi tempe.
Menurutnya, terdapat dua titik penting yang perlu diperhatikan selama produksi, yakni proses pengasaman dan pengendalian suhu fermentasi.
Selain proses produksi, peserta mendapatkan penjelasan mengenai standar operasional dalam penerimaan, penanganan, hingga penyimpanan tempe dalam jumlah besar. Hal tersebut dinilai penting karena dapur SPPG mengolah bahan pangan dalam skala besar setiap hari.
Ridha juga memaparkan analisis penerimaan menu berbahan tempe dalam Program MBG berdasarkan unggahan media sosial dan pemberitaan sepanjang periode 2025–2026.
Dari analisis tersebut, sisa makanan pada menu berbahan tempe dinilai lebih banyak dipengaruhi faktor cita rasa serta variasi pengolahannya. Karena itu, inovasi menu menjadi salah satu aspek penting agar tempe semakin diterima oleh penerima manfaat Program MBG.
Keamanan Pangan Jadi Perhatian
Materi berikutnya disampaikan dosen Poltekkes Kemenkes Bengkulu, Anang Wahyudi, S.Gz., MPH., yang membahas keamanan pangan dalam penyelenggaraan Program Makan Bergizi Gratis.
Materi tersebut merujuk pada standar keamanan pangan olahan siap saji yang diterbitkan Direktorat Penyehatan Lingkungan, Direktorat Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit, Kementerian Kesehatan.

Dalam paparannya, Anang menyampaikan data mengenai kejadian luar biasa (KLB) keracunan pangan di Indonesia.
Sepanjang 2024 tercatat 327 KLB keracunan pangan dengan jumlah korban mencapai 11.930 orang dan 20 kasus kematian. Angka tersebut meningkat dibandingkan 2021 yang mencatat 70 kejadian.
Sebagian besar kejadian keracunan pangan disebut berkaitan dengan masakan rumah tangga serta jasa boga.
Karena itu, penerapan higiene dan sanitasi secara disiplin di dapur SPPG menjadi salah satu poin penting untuk menjaga keamanan makanan yang disalurkan kepada penerima manfaat.
Peserta Ikuti Cooking Class Olahan Tempe
Sesi selanjutnya menghadirkan Ketua Yayasan Makanan dan Minuman Indonesia (YAMMI), Khoirul Anwar, S.Gz., M.Si.
Khoirul menjelaskan kandungan gizi tempe, proses fermentasi, serta berbagai inovasi olahan yang dapat dikembangkan oleh dapur SPPG.
Beberapa menu yang diperkenalkan antara lain tempe kecap, tempe bumbu kuning, serta kombinasi tempe dengan sumber protein hewani.
Seminar kemudian dilanjutkan dengan sesi cooking class. Para peserta mempraktikkan secara langsung dua resep olahan tempe, yaitu silky puding tempe dan tempekuro, olahan tempe yang dilapisi tepung panir kemudian disajikan dengan saus mentai.
Antusiasme peserta terlihat selama kegiatan berlangsung. Salah satu persoalan yang banyak mendapat perhatian adalah mengenai tata cara menangani serta menyimpan tempe dalam jumlah besar di dapur SPPG.
Menanggapi pertanyaan tersebut, Muhammad Ridha menjelaskan bahwa tempe memiliki karakter berbeda dibandingkan sejumlah bahan pangan lainnya karena proses fermentasi masih terus berjalan setelah produk selesai dibuat.
“Tempe itu unik. Proses fermentasi oleh jamur Rhizopus masih berjalan, jadi penanganannya tidak sama dengan bahan lain. Suhunya perlu diturunkan, dan tempe perlu ditata supaya udara bisa bersirkulasi,” kata M. Ridha.
Pendampingan SPPG dan UMKM Tempe Akan Dilanjutkan
Ketua kegiatan, Dr. Betty Yosephin, mengatakan kerja sama Poltekkes Kemenkes Bengkulu dan Forum Tempe Indonesia tidak berhenti setelah seminar selesai.
Pendampingan direncanakan berlanjut kepada SPPG maupun pelaku UMKM tempe yang berpotensi menjadi pemasok bahan pangan untuk Program MBG.
“FTI dan Poltekkes Bengkulu akan terus mendampingi SPPG dalam pemanfaatan tempe, termasuk membina UMKM tempe sebagai pemasok tempe agar mutu dan keamanan produknya tetap konsisten,” kata Betty.
Penguatan kualitas pemasok dinilai penting agar tempe yang digunakan dalam pelayanan makanan memiliki standar mutu dan keamanan yang terjaga secara konsisten.
Potensi Gizi, Budaya, dan Ekonomi Tempe
Tempe dinilai memiliki sejumlah keunggulan yang membuatnya berpotensi terus dikembangkan sebagai salah satu pilihan pangan dalam Program Makan Bergizi Gratis.
Berdasarkan materi yang disampaikan dalam seminar, kandungan protein tempe per takaran disebut dapat bersaing dengan sumber protein seperti daging sapi dan ayam. Tempe juga memiliki kandungan kalsium yang tinggi.
Kajian Purwandari dan sejumlah peneliti lainnya yang dipublikasikan dalam Journal of Ethnic Foods pada 2025 turut mencatat bahwa berbagai jenis tempe, mulai dari tempe kedelai hingga tempe berbahan kacang tanah, memenuhi standar Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) untuk sembilan asam amino esensial.
Tempe juga memiliki nilai penting dari sisi budaya.

Tempe Jawa Tengah telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia sejak 2017 melalui Sertifikat Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 60089/MPK.E/KB/2017.
Sementara itu, nominasi “Culture of Tempe” masih menjalani proses evaluasi untuk dapat ditetapkan UNESCO sebagai Warisan Budaya Takbenda Dunia.
Selain nilai gizi dan budaya, sektor produksi tempe juga memiliki kontribusi terhadap perekonomian masyarakat.
Sekitar 150.000 unit usaha tempe di Indonesia disebut menyerap sekitar 50–60 persen dari kebutuhan kedelai nasional yang mencapai sekitar 3 juta ton.
Sebagian besar pelaku usaha tempe berada pada skala mikro dan kecil. Industri tersebut juga termasuk dalam sektor usaha yang mendapat perlindungan bagi UMKM sebagaimana diatur dalam Peraturan Presiden Nomor 10 Tahun 2021.
Melalui seminar tersebut, Poltekkes Kemenkes Bengkulu dan Forum Tempe Indonesia berharap pemanfaatan tempe dalam Program Makan Bergizi Gratis tidak hanya mampu mendukung kebutuhan gizi masyarakat, tetapi sekaligus memperkuat keamanan pangan, inovasi menu, serta keberlanjutan usaha produsen tempe lokal.
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda