Oleh: Ayu Manah Sri Wulandari
NIM 23010330056
Universitas Negeri Yogyakarta
ayu1914fipp.2023@student.uny.ac.id
Sleman – Kegiatan keagamaan tidak hanya menjadi sarana mengenalkan nilai spiritual kepada anak, tetapi juga dapat dikembangkan sebagai bagian dari pembiasaan yang membantu membangun keteraturan, fokus, kedisiplinan, hingga kemampuan mengikuti instruksi.
Hal tersebut terlihat dalam pelaksanaan salat duha di SLB Citra Mulia Mandiri, Dusun Samberembe, Kelurahan Selomartani, Kapanewon Kalasan, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Kegiatan ini menjadi salah satu pembiasaan rutin yang diikuti anak-anak di sekolah tersebut, termasuk anak dengan Autism Spectrum Disorder (ASD).
Mahasiswa Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), Ayu Manah Sri Wulandari bersama anggota kelompok Praktik Kependidikan (PK), turut mendampingi pelaksanaan kegiatan selama menjalani praktik di SLB Citra Mulia Mandiri pada 20 Juli hingga 25 September 2026.
Praktik Kependidikan menjadi ruang bagi mahasiswa untuk menerapkan pengetahuan yang diperoleh selama perkuliahan sekaligus memperoleh pengalaman langsung di lingkungan sekolah. Dalam kegiatan tersebut, mahasiswa tidak hanya terlibat dalam proses pembelajaran di kelas, tetapi juga mendampingi berbagai aktivitas nonmengajar yang menjadi bagian dari keseharian peserta didik.
PK pada lingkungan sekolah luar biasa memiliki karakteristik tersendiri dibandingkan praktik di sekolah reguler. Pendekatan pembelajaran, metode komunikasi, media, hingga bentuk pendampingan perlu disesuaikan dengan karakteristik serta kebutuhan masing-masing anak berkebutuhan khusus.
Salah satu kegiatan yang didampingi mahasiswa adalah pembiasaan salat duha. Kegiatan ini dilaksanakan secara rutin setiap Senin hingga Kamis pada pukul 07.30–08.00 WIB dengan pendampingan guru dan mahasiswa.
Pelaksanaan salat duha dilakukan secara terstruktur. Anak diarahkan melalui tahapan mulai dari mengambil air wudu, mempersiapkan perlengkapan ibadah, menempati posisi salat, mengikuti gerakan dan bacaan, hingga menyelesaikan rangkaian kegiatan.
Pendampingan yang diberikan tidak selalu sama kepada setiap anak. Guru dan mahasiswa menyesuaikan bantuan berdasarkan kemampuan masing-masing peserta didik. Ada anak yang cukup diberikan instruksi sederhana, sementara anak lainnya memerlukan contoh gerakan atau bantuan secara langsung.
Pembiasaan yang dilakukan secara konsisten menjadi penting bagi anak dengan ASD karena kegiatan yang memiliki urutan jelas dapat membantu anak mengenali pola dan memahami tahapan aktivitas sehari-hari.
Dalam praktiknya, kegiatan salat duha menggunakan pendekatan praktik langsung atau direct practice, pemodelan (modelling), serta pembiasaan terstruktur (routinization). Anak tidak hanya menerima penjelasan mengenai tata cara salat, tetapi juga mengamati, menirukan, dan mengulang gerakan yang sama secara rutin.
Rangkaian gerakan dalam salat juga melibatkan kemampuan mengikuti instruksi, fokus terhadap contoh yang diberikan, koordinasi gerak tubuh, serta kemampuan mempertahankan perhatian selama kegiatan berlangsung.

Pembiasaan tersebut dapat menjadi salah satu sarana untuk melatih kemampuan imitasi motorik dan kedisiplinan anak. Pelaksanaan yang teratur juga memberikan suasana kegiatan yang lebih mudah diprediksi sehingga anak mengetahui apa yang harus dilakukan dari awal hingga akhir.
Anak dengan Autism Spectrum Disorder memiliki karakteristik perkembangan yang beragam. Sebagian anak dapat mengalami hambatan dalam komunikasi dan interaksi sosial serta menunjukkan pola perilaku yang berulang atau kebutuhan terhadap rutinitas tertentu. Karena itu, kegiatan pembelajaran perlu diberikan melalui pendekatan yang konsisten, sistematis, dan sesuai dengan kemampuan individu.
Dalam konteks tersebut, salat duha tidak semata-mata diposisikan sebagai kegiatan keagamaan. Pembiasaan juga dapat dimanfaatkan sebagai bagian dari aktivitas pendidikan yang membantu anak belajar mengikuti aturan, menunggu giliran, menyesuaikan diri dengan lingkungan kelompok, dan menyelesaikan sebuah aktivitas secara berurutan.
Selama pendampingan, keterlibatan mahasiswa juga memberikan pengalaman langsung dalam memahami bahwa pendidikan bagi anak berkebutuhan khusus membutuhkan fleksibilitas. Instruksi yang dianggap sederhana belum tentu langsung dapat dipahami semua anak sehingga pendamping perlu mengamati respons dan memberikan bantuan secara bertahap.
Kegiatan semacam ini sekaligus menjadi kesempatan bagi mahasiswa untuk mengembangkan keterampilan komunikasi, pengelolaan pembelajaran, kolaborasi dengan guru, serta kemampuan menyesuaikan pendekatan pendidikan berdasarkan kebutuhan peserta didik.
Pembiasaan salat duha di SLB Citra Mulia Mandiri juga sejalan dengan semangat pendidikan inklusif yang memberikan kesempatan kepada anak berkebutuhan khusus untuk memperoleh pembelajaran sesuai kemampuan dan kebutuhannya.
Dalam kaitannya dengan Sustainable Development Goals (SDGs), kegiatan tersebut memiliki keterkaitan dengan SDG 4 tentang Pendidikan Berkualitas dan SDG 10 tentang Berkurangnya Kesenjangan. Pendidikan yang berkualitas tidak hanya berkaitan dengan pencapaian akademik, tetapi juga mencakup akses terhadap proses pembelajaran yang sesuai dengan karakteristik setiap peserta didik.
Melalui kegiatan keagamaan yang dilaksanakan secara konsisten dan disertai pendampingan individual, anak dengan ASD memperoleh kesempatan untuk mengembangkan aspek spiritual sekaligus belajar mengenai keteraturan, komunikasi, kedisiplinan, interaksi sosial, dan kemandirian.
Pelaksanaan salat duha pada akhirnya menjadi bagian dari pembelajaran sehari-hari yang lebih luas. Bukan hanya mengajarkan tata cara ibadah, tetapi juga membangun kebiasaan positif melalui proses yang dilakukan secara berulang, terarah, dan disesuaikan dengan kebutuhan setiap anak.
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda