JAKARTA, JurnalPost.com — Keberagaman tidak semestinya menjadi alasan untuk menciptakan jarak. Perbedaan justru dapat menjadi ruang bagi setiap orang untuk saling memahami, melengkapi, serta tumbuh bersama.
Pesan tersebut mengemuka dalam rangkaian Bermuara 2026 yang diselenggarakan Ruang Damai di Dia.Lo.Gue Artspace, Jakarta, Sabtu (22/8/2026).
Mengangkat tema “Menjaga Harapan, Menenun Perubahan, 5 Tahun Memahami Tanpa Menghakimi”, kegiatan ini mempertemukan sejumlah tokoh dari berbagai latar belakang untuk membicarakan perjalanan memahami diri sendiri, memaknai keberagaman, hingga menciptakan dampak positif bagi lingkungan sekitar.
Menjadi Diri Sendiri di Tengah Ragam Kehidupan
Dalam Dialog 1 bertajuk “Jadi Diri Sendiri Arungi Ragam Hidup”, Bhikkhu Sangha Antadhiro Thera menyoroti pentingnya ketenangan hati, pikiran positif, serta kemampuan mengendalikan diri dalam menjalani kehidupan.
Menurutnya, kehidupan perlu dijalani secara seimbang. Seseorang tidak seharusnya larut terlalu jauh dalam satu kondisi emosional karena kesedihan maupun kebahagiaan merupakan bagian dari perjalanan hidup yang saling melengkapi.
Ia mengibaratkan manusia dan kehidupan seperti air yang mampu menyatukan berbagai unsur. Dalam perjalanan tersebut, kehadiran guru maupun sosok yang memberikan arahan diperlukan untuk membantu seseorang menyadari kapan harus berhenti, melakukan refleksi, kemudian kembali melangkah.
Sementara itu, mantan Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin melihat keberagaman melalui perspektif hubungan antarmanusia.
Ia menekankan bahwa manusia pada dasarnya merupakan makhluk sosial yang saling terhubung dan membutuhkan satu sama lain.
Salah satu prinsip yang disampaikan ialah memperlakukan orang lain sebagaimana seseorang ingin diperlakukan. Prinsip tersebut tidak hanya berlaku dalam hubungan sesama manusia, tetapi juga dalam memperlakukan makhluk hidup lainnya.
Keberagaman, menurut pandangan yang mengemuka dalam dialog tersebut, bukan diciptakan untuk menjadi dasar merendahkan pihak lain, melainkan menjadi kesempatan untuk saling melengkapi. Kehidupan justru memperoleh makna karena hadirnya berbagai perbedaan.
Kepedulian Tidak Harus Dimulai dari Aksi Besar
Pembahasan kemudian berlanjut dalam Dialog 2 bertajuk “Semua Bisa Berdampak Bersama”. Percakapan berfokus pada bagaimana setiap orang dapat mengambil peran dan memberikan manfaat di tengah kesibukan kehidupan sehari-hari.
Rio Zakarias menyoroti anggapan bahwa kepedulian terhadap lingkungan sekitar terkadang sulit dilakukan karena tuntutan pekerjaan maupun kesibukan lainnya.
Menurutnya, memiliki pekerjaan tetap maupun rutinitas yang padat tidak seharusnya menjadi alasan untuk berhenti memberikan perhatian kepada orang lain.
Dampak positif juga tidak selalu harus diwujudkan melalui gerakan dalam skala besar. Langkah sederhana yang dilakukan secara konsisten dan berangkat dari kepedulian tetap dapat memberikan manfaat.
Pandangan mengenai kebermanfaatan itu turut diperkuat Handika Surbakti. Ia memandang manusia memiliki kemampuan untuk memberdayakan sekaligus memberikan dampak kepada sesamanya.
Fathimah Azzahra juga menilai bahwa menjadi pribadi yang membawa perubahan dapat dimulai dari sesuatu yang sederhana, yakni kepedulian.
Ketika seseorang melihat suatu persoalan kemudian hati maupun pikirannya merasa terpanggil untuk bergerak, kondisi tersebut dapat menjadi awal lahirnya sebuah tindakan nyata.

Merawat Ruang Pertemuan
Berbagai gagasan tersebut menjadi bagian penting dari Bermuara 2026 yang sekaligus menandai lima tahun perjalanan Ruang Damai.
Selain sesi dialog, kegiatan ini menghadirkan Gallery Walk – Time Capsule 5th Ruang Damai, peluncuran Annual Report Ruang Damai, sesi permainan, serta River of Life – Creative Reflection.
Rangkaian kegiatan tersebut dirancang agar peserta tidak hanya menyaksikan keberagaman dari kejauhan, tetapi juga mengalami, membicarakan, dan merefleksikannya secara langsung.
Bagi Ruang Damai, ruang perjumpaan seperti ini dinilai penting untuk terus dirawat di tengah masyarakat dengan latar belakang, pengalaman hidup, keyakinan, maupun cara pandang yang berbeda.
Interaksi yang terbuka diharapkan dapat memperbesar kesempatan bagi masyarakat untuk saling memahami sekaligus mengurangi potensi munculnya konflik horizontal.
Pesan yang mengemuka dalam Bermuara 2026 menegaskan bahwa perbedaan bukanlah ancaman. Keberagaman justru dapat menjadi kesempatan untuk saling melengkapi berbagai keterbatasan yang dimiliki setiap individu.
Lima tahun perjalanan Ruang Damai pun tidak hanya diperingati sebagai sebuah perayaan. Momentum tersebut menjadi ruang refleksi mengenai pentingnya membangun lingkungan yang aman agar setiap orang mempunyai kesempatan untuk mendengar, memahami, dan bertumbuh bersama.
Bermuara 2026 diselenggarakan Ruang Damai pada 22 Agustus 2026 di Dia.Lo.Gue Artspace, Jakarta, dengan tema “Menjaga Harapan, Menenun Perubahan, 5 Tahun Memahami Tanpa Menghakimi.”
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda