Lewati ke konten utama
Home About Us Redaksi Kirim Berita Media Kit
Pedoman
Kebijakan Cookie Pedoman Media Siber Publikasi Media Online Jasa Backlink Jasa Guest Post Penulisan Artikel Pembuatan Website Pedoman AI
ID | EN

Masuk / Gabung

Jelajahi

Beranda Internasional Nasional Daerah Featured Opini Pendidikan
More
Profil Advertorial Bisnis Press Release Essay English Version Ekonomi
Informasi
About Us Redaksi Kirim Berita Media Kit
Pedoman
Kebijakan Cookie Pedoman Media Siber Pedoman AI
Masuk / Gabung
Ikuti kami
EN ARTIKEL
Beranda Internasional Nasional Daerah Featured Opini Pendidikan
More
Profil Advertorial Bisnis Press Release Essay English Version Ekonomi

Terbaru

  1. Ketika Negara Gagal Menjaga Napas Warganya

  2. Mendukung Sustainable Development Goals, Dosen UM Ungkap Faktor Risiko Kehamilan yang Perlu Diwaspadai

  3. Edukasi Video HIMA-CARE Tingkatkan Perilaku Higiene Menstruasi Mahasiswi Baru di Kota Malang

  4. Qatar Hubungi Turki, Yordania, Mesir dan Lebanon, Perkuat Diplomasi untuk Redam Ketegangan Timur Tengah

  5. Dari Instruksi ke Implementasi: Menguji Respons Kepemimpinan Presiden Prabowo dalam Penanganan Karhutla 2026

  1. Beranda
  2. Artikel
  3. Berbeda Budaya, Bukan Berarti Harus Bermusuhan: Mengatasi Prasangka di Media Sosial

Berbeda Budaya, Bukan Berarti Harus Bermusuhan: Mengatasi Prasangka di Media Sosial

M
Penulis: Masitoh Afiya Slamet
25 Oktober 2026, 01.42 WITA Editor: Rina Maharani
7 menit baca
sosaial media
Keberagaman budaya sebagai ruang untuk saling memahami.

Ketika Perbedaan Menjadi Bahan Perdebatan

Indonesia dikenal sebagai negara dengan beragam suku, bahasa, agama, tradisi, dan kebiasaan. Keberagaman merupakan kekayaan sosial yang memungkinkan masyarakat belajar dari pengalaman satu sama lain. Namun, perbedaan juga dapat menjadi sumber kesalahpahaman.

Situasi ini semakin terlihat di media sosial, ketika komentar mengenai logat, kebiasaan daerah, keyakinan, atau cara berpakaian seseorang berkembang menjadi ejekan dan perdebatan antarkelompok.

IKLAN

Pernahkah kita melihat seseorang diberi label tertentu hanya karena berasal dari daerah tertentu? Misalnya, seseorang dianggap kasar karena logatnya terdengar tegas, atau dinilai sombong karena cara berkomunikasinya berbeda.

Reflective Nighttime Social Feed
Baca Juga

“Kok Relate Banget?” : Mengapa Konten Kesehatan Mental terasa Seperti Menceritakan Diri Sendiri

Penilaian seperti ini sering muncul sebelum kita benar-benar mengenal orang tersebut. Masalahnya bukan sekadar komentar yang tidak menyenangkan, melainkan kebiasaan menilai individu berdasarkan anggapan mengenai kelompoknya.

Media sosial membuat persoalan tersebut semakin kompleks. Informasi menyebar cepat, sedangkan konteks suatu peristiwa sering tidak ikut tersampaikan.

Potongan video, tangkapan layar, dan komentar provokatif dapat membentuk persepsi publik sebelum fakta dipahami secara utuh.

Karena itu, prasangka budaya perlu dilihat bukan hanya sebagai masalah etika berkomunikasi, tetapi juga sebagai persoalan psikologis yang memengaruhi hubungan antarmanusia.

Laughter at Her Expense
Baca Juga

Bercanda tentang Suku: Ketika Humor Memperkuat Prasangka

Mengapa Kita Mudah Berprasangka?

Dalam psikologi multikultural, stereotipe, prasangka, dan diskriminasi merupakan konsep yang saling berkaitan, tetapi berbeda.

Stereotipe adalah generalisasi mengenai karakteristik kelompok tertentu. Prasangka merupakan sikap atau penilaian terhadap seseorang berdasarkan keanggotaannya dalam kelompok, sedangkan diskriminasi berkaitan dengan perlakuan yang merugikan seseorang karena identitas kelompoknya.

Stereotipe dapat terbentuk karena manusia cenderung mengelompokkan informasi agar lebih mudah memahami lingkungan sosial. Namun, proses ini menjadi masalah ketika generalisasi dianggap sebagai kebenaran yang berlaku bagi semua anggota kelompok.

Pengalaman buruk dengan satu orang, misalnya, kemudian digunakan untuk menilai seluruh kelompok budaya yang sama.

Midnight Doomscrolling in a Tangled Mind
Baca Juga

Brain Rot: Ketika Otak Terjebak dalam Doomscrolling

Teori identitas sosial dari Tajfel dan Turner (1979) membantu menjelaskan kecenderungan tersebut. Individu membangun sebagian identitas dirinya melalui kelompok yang dianggap sebagai bagian dari dirinya, seperti kelompok etnis, agama, atau komunitas budaya.

Dalam kondisi tertentu, seseorang dapat lebih menyukai kelompoknya sendiri (ingroup) dan memandang kelompok lain (outgroup) secara kurang positif.

Ini tidak berarti setiap orang pasti bersikap diskriminatif, tetapi menunjukkan bagaimana batas antara “kita” dan “mereka” dapat memengaruhi penilaian sosial.

Di media sosial, kecenderungan tersebut dapat menguat ketika pengguna hanya berinteraksi dengan orang yang memiliki pandangan serupa. Pendapat yang sama terus berulang, sedangkan sudut pandang berbeda dianggap sebagai ancaman terhadap identitas kelompok.

Akibatnya, seseorang bisa merasa penilaiannya benar hanya karena banyak orang di lingkungannya menyetujui pendapat tersebut.

Penelitian Chen, Ahmed, dan Chib (2021) menunjukkan bahwa konsumsi media sosial dan diskusi yang melibatkan kelompok berbeda berkaitan dengan pembentukan stereotipe terhadap kelompok imigran.

Temuan ini mengingatkan bahwa cara seseorang mengakses dan mendiskusikan informasi berkaitan dengan cara ia memandang kelompok lain.

Gambar 2. Media sosial dapat membentuk cara kita memandang kelompok lain.

Konteks Indonesia juga perlu diperhatikan. Penelitian Putra dan Wagner (2017) mengenai prasangka antaragama menunjukkan bahwa persepsi tentang bagaimana kelompok sendiri dan kelompok lain saling menilai dapat berperan dalam hubungan antarkelompok.

Prasangka tidak hanya dipengaruhi pengalaman langsung, tetapi juga dugaan mengenai bagaimana kelompok lain memandang kita.

Ketika seseorang merasa kelompoknya direndahkan atau ditolak, sikap defensif terhadap kelompok lain dapat menguat.

Namun, media sosial tidak selalu meningkatkan intoleransi. Penelitian Shidiq, Muhtadi, dan Yusuf (2026) di Indonesia tidak menemukan bukti statistik yang signifikan bahwa paparan media sosial untuk memperoleh informasi agama dan politik berkorelasi dengan tingkat intoleransi beragama dalam sampel yang mereka teliti.

Temuan ini memperlihatkan bahwa hubungan media sosial dan prasangka tidak sederhana. Jenis interaksi, isi informasi, serta kondisi sosial perlu dipertimbangkan.

Membangun Ruang Digital yang Lebih Inklusif

Jika prasangka dapat terbentuk melalui proses psikologis dan interaksi sosial, upaya menguranginya perlu dilakukan secara sadar.

Pertama, memeriksa informasi sebelum memberikan penilaian.

Ketika menemukan unggahan yang menyudutkan suatu kelompok budaya, pertanyakan sumbernya, konteks peristiwanya, dan apakah kesimpulannya didukung bukti.

Satu pengalaman tidak cukup untuk mewakili seluruh kelompok.

Kedua, membedakan kritik terhadap perilaku dari serangan terhadap identitas.

IKLAN

Perilaku seseorang boleh dikritik jika merugikan orang lain, tetapi kritik tidak seharusnya digeneralisasi menjadi penghinaan terhadap suku, agama, bahasa, atau budaya tertentu.

Kalimat “perilaku itu merugikan” lebih berfokus pada tindakan daripada pernyataan yang menyalahkan seluruh kelompok.

Ketiga, memperluas interaksi lintas budaya, baik secara langsung maupun melalui ruang digital.

Pettigrew dan Tropp (2006), melalui meta-analisis terhadap 713 sampel independen dari 515 penelitian, menemukan bahwa kontak antarkelompok pada umumnya berkaitan dengan penurunan prasangka.

Kontak yang berlangsung dalam kondisi mendukung, seperti adanya tujuan bersama dan hubungan yang setara, dapat memberikan hasil lebih baik.

Interaksi juga berpotensi membantu seseorang memahami pengalaman kelompok lain dan mengurangi kecemasan ketika berhadapan dengan perbedaan.

Dalam praktiknya, sekolah dapat mengadakan kegiatan kolaboratif yang melibatkan siswa dari latar belakang budaya berbeda.

Tempat kerja dapat membangun diskusi yang memberi ruang setara bagi karyawan untuk menyampaikan pengalaman.

Di media sosial, pengguna dapat mengikuti sumber informasi yang beragam, berdialog dengan sopan, dan mendengarkan pengalaman orang lain tanpa langsung menganggap perbedaan sebagai ancaman.

Keempat, membangun literasi budaya bersama literasi digital.

Literasi digital membantu seseorang mengevaluasi informasi, sedangkan literasi budaya membantu memahami bahwa perilaku dan cara berkomunikasi dapat memiliki makna berbeda dalam konteks budaya yang berbeda.

Keduanya penting agar masyarakat tidak mudah menyamakan perbedaan dengan kesalahan.

Kelima, menciptakan lingkungan digital yang tidak menormalisasi diskriminasi.

Platform digital, lembaga pendidikan, keluarga, dan masyarakat perlu berperan dalam menciptakan lingkungan yang tidak menormalisasi penghinaan berbasis identitas.

Teguran yang proporsional, aturan komunitas yang jelas, serta dukungan terhadap orang yang menjadi sasaran diskriminasi dapat membantu membangun ruang interaksi yang lebih aman.

Belajar Melihat Manusia, Bukan Sekadar Label

Keberagaman tidak otomatis menghasilkan toleransi, sebagaimana perbedaan tidak otomatis menimbulkan konflik.

Hubungan antarkelompok dipengaruhi cara individu memahami identitas, menafsirkan informasi, dan berinteraksi dengan orang yang berbeda darinya.

Psikologi multikultural mengajak kita melihat bahwa setiap orang memiliki pengalaman yang lebih luas daripada label budaya yang melekat padanya.

Seseorang tidak dapat sepenuhnya dipahami hanya dari suku, agama, bahasa, atau asal daerahnya.

Perubahan dapat dimulai dari tindakan sederhana: menahan diri sebelum menghakimi, memeriksa informasi sebelum membagikannya, serta bersedia mendengarkan pengalaman yang berbeda dari pengalaman kita sendiri.

Kita tidak harus selalu sepakat dengan orang lain, tetapi tetap dapat memperlakukannya dengan hormat.

Di tengah derasnya arus informasi digital, kemampuan hidup bersama bukan hanya ditentukan oleh seberapa banyak kita mengetahui budaya lain, melainkan juga oleh kesediaan untuk mengoreksi prasangka diri sendiri.

Berbeda budaya bukan alasan untuk bermusuhan. Perbedaan justru dapat menjadi kesempatan untuk memperluas pemahaman dan membangun masyarakat yang lebih inklusif.


Biodata Singkat Penulis

Masitoh Afiya Slamet merupakan mahasiswa Magister Psikologi yang memiliki ketertarikan pada bidang psikologi multikultural serta penerapan ilmu psikologi dalam kehidupan masyarakat, khususnya mengenai bias stereotipe, prasangka, dan relasi antarkelompok di media sosial.

Daftar Pustaka

Chen, V. H. H., Ahmed, S., & Chib, A. (2021). The role of social media behaviors and structural intergroup relations on immigrant stereotypes. International Journal of Communication, 15, 3227–3248.

Pettigrew, T. F., & Tropp, L. R. (2006). A meta-analytic test of intergroup contact theory. Journal of Personality and Social Psychology, 90(5), 751–783.

Putra, I. E., & Wagner, W. (2017). Prejudice in interreligious context: The role of metaprejudice and majority–minority status. Journal of Community & Applied Social Psychology, 27(3), 226–239.

Shidiq, A. R., Muhtadi, B., & Yusuf, A. A. (2026). Social media and religious intolerance in Indonesia. Studia Islamika, 33(1), 1–33.

Tajfel, H., & Turner, J. C. (1979). An integrative theory of intergroup conflict. In W. G. Austin & S. Worchel (Eds.), The social psychology of intergroup relations (pp. 33–47).

ENGLISH VERSION Artikel tersedia dalam Bahasa Inggris
Read in English →

Sumber artikel: https://jurnalpost.kolomopini.com/berbeda-budaya-bukan-berarti-harus-bermusuhan-mengatasi-prasangka-di-media-sosial/98336/

Dicetak dari JurnalPost.com pada 03 November 2026, 21.04 WITA

  • #Budaya
  • #Inklusi
  • #Keberagaman
  • #Toleransi
  • #media sosial
  • #prasangka
  • #psikologi
  • #stereotipe

Bagikan artikel

Bagikan Mengirim Tweet
JURNALPOST SOCIAL PUBLISHER

Posting ke Instagram

Menyiapkan 5 slide Reel 9:16…

Rangkaian slide vertikal sedang disusun dari artikel ini.

Konten belum dapat disiapkan.

Silakan coba kembali.

Pratinjau slide Instagram JurnalPost 1/5
REEL 9:16 · 5 SLIDE

Konten JurnalPost

Lima slide vertikal sudah disusun dalam area aman Reels. Tambahkan musik pilihan Anda setelah masuk ke Instagram.

Menyiapkan lima file gambar 9:16…

Di menu Instagram, pilih Reel, pertahankan urutan 1–5, lalu tambahkan musik yang tersedia di Instagram.

JURNALPOST SOCIAL PUBLISHER

Posting ke TikTok

Menyiapkan 5 slide TikTok 9:16…

Desain Social Publisher sedang disusun dari artikel ini.

Konten TikTok belum dapat disiapkan.

Silakan coba kembali.

Pratinjau slide TikTok JurnalPost 1/5
TIKTOK 9:16 · 5 SLIDE

Konten JurnalPost

Lima slide vertikal sudah disusun: sampul, inti berita, fakta utama, perkembangan, dan baca lengkap.

Menyiapkan lima file gambar 9:16…

Di menu berbagi, pilih TikTok, pertahankan urutan 1–5, lalu tambahkan musik atau suara di aplikasi. Jika TikTok tidak muncul, gunakan unduh manual.

Komentar 0

Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda

Komentar akan tampil setelah disetujui redaksi.

  1. Belum ada komentar. Jadilah yang pertama menyampaikan tanggapan.

Artikel Terkait

Pembangunan Ekonomi dan Ancaman Kerusakan Lingkungan, Sejauh Mana Hukum Indonesia Melindungi Alam?

Main Ponsel Saat Lampu Merah, Apakah Termasuk Pelanggaran Lalu Lintas? Ini Tinjauan Hukumnya

Kemandirian Pesantren: Dari Pusat Pendidikan Agama Menjadi Penggerak Ekonomi Desa

DP3AKB Sidoarjo Gelar FGD Evaluasi Peta Jalan Pembangunan Kependudukan 2025–2029, Perkuat Koordinasi Antar-OPD

REKOMENDASI JURNALPOST

Pilihan Untukmu

Kejujuran Perlu Ekosistem: Membangun Budaya Integritas dari Lingkungan Kampus

Digitalisasi Bank Syariah Permudah Transaksi, Keamanan Data Nasabah Jadi Tantangan Utama

Jangan Asal Sebar Angket! Pentingnya Uji Validitas dan Reliabilitas untuk Menjamin Kualitas Instrumen Penelitian

Warung Padang di Bojonegoro Kini Terima QRIS BRI, Pembeli Lebih Praktis

Pilihan Editor

  1. 1 Pasar.id BRI Bojonegoro Hadirkan Peluang Penghasilan Tambahan bagi Pengemudi Ojek Lokal
  2. 2

    Resmi Dilantik, BPC GMKI Singaraja Periode 2026–2027 Fokus Kuatkan Kaderisasi dan Kolaborasi

  3. 3

    Perpres Ojol: Benarkah Pengemudi Sudah Mendapat Perlindungan yang Adil?

  4. 4

    Dari Daun Kelor Menjadi Snackbar Bergizi, FK UPN “Veteran” Jakarta Ajak Masyarakat Kelurahan Pangkalan Jati Baru Perkuat Upaya Pencegahan Stunting

  5. 5

    Mengenal Potensi Desa Menang dalam Mendukung Program Kabupaten/Kota Sehat di Jawa Timur

IKLAN
JurnalPost

Media Publikasi Indonesia yang menyediakan informasi terkini. Situs ini didirikan pada tahun 2015 dan telah menjadi salah satu sumber berita yang populer di Indonesia.

Jelajahi

Advertorial Artikel Berita Bisnis Citizen Reporter Daerah Ekonomi English Version Essay Featured
Hukum Internasional Kolom Opini Nasional Olahraga Pendidikan Politik Profil Teknologi Wisata

Kanal

About Us Jurnalisme Warga Kebijakan Cookie Kebijakan Data Kirim Opini Kirim Tulisan Media Kit Pedoman Redaksi

Ikuti kami di

Facebook X/Twitter Instagram Threads TikTok Pinterest LinkedIn YouTube
© 2026 - PT Jurnal Post Indonesia. All Rights Reserved.