JurnalPost.com -- Bayangkan ketika kita membuka media sosial pada pagi hari. Baru beberapa menit menjelajahi TikTok atau Instagram, berbagai unggahan influencer sudah memenuhi layar. Ada yang menikmati kopi di kafe mewah, mengenakan pakaian bermerek, berlibur ke luar negeri, menghadiri konser, merayakan ulang tahun dengan pesta besar, hingga memperlihatkan bentuk tubuh yang dianggap ideal.
Bagi sebagian generasi Z atau Gen Z, konten tersebut mungkin menjadi sumber inspirasi dan motivasi. Namun, di balik kehidupan yang terlihat menyenangkan itu, muncul pertanyaan penting: apakah gaya hidup yang ditampilkan influencer benar-benar layak dijadikan standar kehidupan?
Pertanyaan ini semakin relevan karena media sosial telah menjadi bagian dari keseharian Gen Z. Influencer tidak lagi sekadar menjadi sumber hiburan, tetapi juga dapat memengaruhi cara seseorang memandang kesuksesan, menentukan pilihan, hingga membentuk identitas sosialnya.
Penelitian Pohan et al. (2024) menjelaskan bahwa influencer memiliki peran dalam memengaruhi preferensi, keputusan pembelian, dan pembentukan identitas sosial Gen Z. Artinya, konten yang muncul di media sosial tidak hanya dikonsumsi sebagai hiburan, tetapi juga dapat memengaruhi cara generasi muda menentukan gaya hidup yang dianggap ideal.
Persoalannya, apa yang ditampilkan influencer di media sosial belum tentu mencerminkan keseluruhan kehidupan mereka di dunia nyata.
Kehidupan Sempurna yang Ditampilkan di Media Sosial
Salah satu alasan gaya hidup influencer mudah menjadi acuan adalah karena media sosial sangat mengandalkan tampilan visual yang menarik. Foto, video, musik, hingga pemilihan kata dalam sebuah unggahan dirancang untuk menarik perhatian audiens.
Konten yang terlihat spontan sekalipun bisa saja melalui proses perencanaan, pengambilan gambar berulang, penyuntingan, dan pemilihan momen terbaik sebelum dipublikasikan.
Kehidupan yang diperlihatkan biasanya didominasi oleh pengalaman menyenangkan, seperti liburan, pencapaian pribadi, barang mewah, atau aktivitas yang sedang populer. Sementara itu, persoalan sehari-hari, kegagalan, tekanan pekerjaan, hingga masalah pribadi belum tentu mendapatkan ruang yang sama.
Akibatnya, audiens sering kali hanya melihat bagian terbaik dari kehidupan seseorang.
Menurut saya, kondisi ini dapat menciptakan gambaran yang kurang realistis tentang kehidupan ideal. Seseorang mungkin mulai merasa hidupnya biasa saja karena tidak mampu menikmati pengalaman serupa dengan influencer yang diikutinya.
Padahal, membandingkan kehidupan sehari-hari dengan konten pilihan yang telah dikemas secara menarik merupakan perbandingan yang tidak seimbang.
Keterangan foto: Ilustrasi anak muda sedang melihat media sosial yang menampilkan berbagai unggahan tentang kesuksesan, liburan, dan gaya hidup mewah. (Foto: Ilustrasi)
Ketika Tren Menimbulkan Rasa Takut Tertinggal
Fenomena lain yang muncul akibat paparan konten gaya hidup adalah Fear of Missing Out atau FOMO, yaitu perasaan khawatir tertinggal dari pengalaman atau aktivitas yang sedang dilakukan orang lain.
Penelitian Hakiki et al. (2026) menunjukkan bahwa konten mengenai gaya hidup ideal, pencapaian pribadi, dan aktivitas yang sedang tren dapat berkaitan dengan munculnya FOMO. Kondisi ini juga berhubungan dengan kecenderungan membandingkan diri dengan orang lain serta mencari validasi melalui media sosial.
Dalam kehidupan sehari-hari, fenomena tersebut cukup mudah ditemukan. Ketika sebuah produk sedang viral, sebagian orang merasa perlu memilikinya. Ketika banyak influencer mengunjungi tempat wisata tertentu, muncul keinginan untuk pergi ke tempat yang sama. Bahkan, aktivitas sederhana seperti minum kopi atau membeli pakaian dapat berubah menjadi kebutuhan untuk mengikuti tren.
Masalah muncul ketika keputusan tersebut tidak lagi didasarkan pada kebutuhan pribadi, melainkan keinginan untuk mendapatkan pengakuan sosial.
Menurut saya, FOMO menjadi persoalan ketika seseorang merasa harus selalu mengikuti perkembangan terbaru agar tidak dianggap ketinggalan zaman.
Jika kebiasaan ini berlangsung terus-menerus, media sosial bukan lagi menjadi tempat mencari hiburan atau informasi, melainkan ruang yang menciptakan tekanan untuk selalu terlihat mengikuti perkembangan orang lain.
Tidak Semua Tren Harus Diikuti
Meski demikian, pengaruh influencer tidak selalu membawa dampak negatif. Banyak influencer yang membagikan konten bermanfaat, mulai dari pendidikan, pengembangan diri, olahraga, kesehatan, hingga keterampilan yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Konten mengenai kebiasaan belajar, manajemen waktu, atau perjalanan seseorang membangun usaha, misalnya, dapat memberikan motivasi bagi Gen Z untuk mengembangkan kemampuan mereka.
Dalam kondisi tersebut, gaya hidup influencer dapat menjadi inspirasi positif karena audiens mengambil nilai dan pengetahuan yang sesuai dengan kebutuhannya.
Sebaliknya, pengaruh tersebut dapat menjadi persoalan apabila kehidupan influencer dijadikan ukuran mutlak untuk menentukan keberhasilan.
Seseorang mungkin merasa belum sukses karena tidak memiliki barang bermerek, belum pernah bepergian ke luar negeri, atau tidak mampu mengikuti gaya hidup yang populer di media sosial.
Padahal, setiap individu memiliki kondisi ekonomi, lingkungan keluarga, tanggung jawab, dan prioritas kehidupan yang berbeda.
Menurut saya, keberhasilan seseorang tidak dapat diukur hanya dari barang yang dimiliki atau pengalaman yang diperlihatkan kepada publik.
Ada orang yang merasa berhasil ketika mampu menyelesaikan pendidikan, membantu keluarganya, memiliki pekerjaan yang stabil, atau mencapai tujuan pribadi yang mungkin tidak pernah dibagikan di media sosial.
Karena itu, tidak semua tren harus diikuti. Sesuatu yang terlihat menarik di layar belum tentu sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan kita dalam kehidupan nyata.
Pengaruh Media Sosial terhadap Cara Gen Z Menilai Diri
Hal lain yang perlu diperhatikan adalah bagaimana media sosial dapat memengaruhi cara seseorang menilai dirinya sendiri.
Ketika terlalu sering melihat kehidupan orang lain yang tampak sempurna, seseorang bisa mulai mempertanyakan pencapaian pribadinya. Perasaan kurang berhasil, kurang menarik, atau tertinggal dari teman sebaya dapat muncul akibat kebiasaan membandingkan diri.
Situasi ini menjadi semakin rumit ketika jumlah suka, komentar, penonton, dan pengikut dianggap sebagai ukuran penerimaan sosial.
Menurut saya, media sosial seharusnya tidak menjadi penentu utama nilai diri seseorang. Popularitas di dunia digital tidak selalu mencerminkan kualitas kehidupan, kemampuan, ataupun kebahagiaan seseorang.
Gen Z perlu menyadari bahwa setiap orang memiliki perjalanan hidup dengan waktu dan tantangannya masing-masing.
Tidak semua pencapaian harus diumumkan, dan tidak semua kebahagiaan perlu dibuktikan melalui unggahan.
Memahami hal tersebut dapat membantu kita menikmati media sosial tanpa terus-menerus merasa harus bersaing dengan kehidupan orang lain.
Menentukan Standar Hidup Sendiri
Di tengah banyaknya konten influencer, kemampuan berpikir kritis menjadi semakin penting. Gen Z perlu memahami bahwa media sosial merupakan ruang tempat orang memilih bagian tertentu dari kehidupannya untuk ditampilkan kepada publik.
Apa yang terlihat di layar belum tentu menggambarkan keadaan seseorang secara menyeluruh.
Oleh karena itu, setiap individu perlu menentukan standar hidup berdasarkan kebutuhan, kemampuan, nilai, dan tujuan pribadinya, bukan semata-mata mengikuti gambaran kehidupan yang populer di media sosial.
Salah satu langkah sederhana yang dapat dilakukan adalah membiasakan diri mempertanyakan alasan sebelum mengikuti tren.
Apakah barang yang ingin dibeli benar-benar dibutuhkan? Apakah aktivitas yang sedang populer memberikan manfaat? Apakah keputusan tersebut sesuai dengan kemampuan finansial? Atau jangan-jangan keinginan itu muncul hanya karena takut tertinggal dari orang lain?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut dapat membantu seseorang mengambil keputusan dengan lebih sadar.
Selain itu, memilih akun yang memberikan informasi bermanfaat, membatasi paparan konten yang memicu perbandingan berlebihan, dan lebih menghargai pencapaian pribadi juga dapat menjadi langkah untuk membangun hubungan yang sehat dengan media sosial.
Menurut saya, kita tidak perlu berhenti mengikuti influencer. Yang lebih penting adalah memahami batas antara mengambil inspirasi dan menjadikan kehidupan orang lain sebagai tuntutan bagi diri sendiri.
Penutup
Gaya hidup influencer dapat menjadi inspirasi positif sekaligus berpotensi menciptakan standar hidup yang tidak realistis bagi Gen Z. Dampaknya sangat bergantung pada bagaimana audiens menerima, memahami, dan merespons konten yang mereka lihat.
Influencer dapat memberikan motivasi, pengetahuan, serta ide baru yang bermanfaat. Namun, ketika kehidupan yang ditampilkan dianggap sebagai ukuran mutlak kebahagiaan dan kesuksesan, media sosial justru dapat menimbulkan tekanan sosial yang tidak perlu.
Menurut saya, Gen Z perlu lebih bijak dalam menggunakan media sosial dan memahami bahwa setiap orang memiliki kondisi serta perjalanan hidup yang berbeda.
Kebahagiaan tidak harus selalu terlihat mewah, kesuksesan tidak harus selalu dipamerkan, dan kehidupan yang bermakna tidak harus mengikuti tren.
Pada akhirnya, sebelum memutuskan mengikuti sesuatu yang sedang ramai di media sosial, ada satu pertanyaan sederhana yang patut diajukan kepada diri sendiri: “Apakah saya benar-benar membutuhkannya, atau hanya takut tertinggal dari orang lain?”
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda