Jombang, JurnalPost.com - Peringatan Hari Santri Nasional 2026 di Pondok Pesantren Hamalatul Qur’an Putri, Jogoroto, Kabupaten Jombang, berlangsung dengan cara berbeda. Alih-alih memusatkan kegiatan pada upacara seremonial, para santri memilih memperingatinya dengan muroqobah lima juz dan khatmil Al-Qur’an bersama.
Kegiatan yang digelar pada Kamis (22/10/2026) tersebut berlangsung di aula Pondok Pesantren Hamalatul Qur’an Putri. Bagi para santri, momentum Hari Santri bukan sekadar perayaan tahunan, melainkan kesempatan untuk memperkuat komitmen dalam menjaga hafalan Al-Qur’an.
Suasana aula tampak khidmat. Para santri putri yang mengenakan seragam putih duduk dengan membawa mushaf Al-Qur’an. Mereka bergantian melantunkan ayat demi ayat dengan penuh konsentrasi.
Melalui kegiatan muroqobah lima juz, para santri berupaya menjaga kualitas hafalan agar tetap kuat dan mutqin, yakni hafalan yang kokoh, lancar, dan terjaga ketepatannya.
Hari Santri Tak Harus Dirayakan dengan Upacara
Panitia penyelenggara, Hilma Aulia, menjelaskan bahwa peringatan Hari Santri tidak harus selalu diwujudkan melalui kegiatan formal. Menurutnya, mempertahankan tradisi mengaji dan menjalankan aktivitas kepesantrenan juga menjadi bentuk penghormatan terhadap perjuangan para santri terdahulu.
"Perayaan Hari Santri kan tidak cuma tentang upacara ya, Mbak. Bisa dengan kita tetap menjalankan kebiasaan kita mengaji, menjaga nilai-nilai kepesantrenan kita. Kita tetap menjalani kegiatan kepesantrenan itu kan juga bentuk perayaan Hari Santri," jelas Hilma.
Bagi Hilma, kegiatan tersebut memiliki makna yang lebih mendalam. Hari Santri menjadi pengingat akan perjuangan para kiai dan santri dalam menjaga nilai-nilai agama, pendidikan, serta kehidupan masyarakat.
Ia menilai semangat perjuangan itu dapat diteruskan melalui langkah sederhana, termasuk menjaga hafalan dan mengamalkan ajaran Al-Qur’an dalam kehidupan sehari-hari.
"Hari Santri itu berarti banget untuk mengenang perjuangan pahlawan kita, para santri dan kiai-kiai kita. Caranya dengan tetap menjaga hafalan kita dan mengamalkan Al-Qur’an," ujarnya.
Hilma berharap peringatan Hari Santri mampu menumbuhkan kesadaran bahwa perjuangan tidak selalu ditunjukkan melalui kegiatan besar. Menurutnya, ketekunan dalam belajar, menjaga ilmu, dan membentuk akhlak juga merupakan bagian dari perjuangan seorang santri.
"Harapan aku semoga Hari Santri menjadi pengingat bahwa perjuangan itu tidak selalu tentang suara, tetapi juga tentang ayat-ayat yang dijaga, ilmu yang diamalkan, dan akhlak yang diwariskan," pungkasnya.
Muroqobah Lima Juz Sudah Menjadi Kebiasaan Santri
Kegiatan tersebut mendapat sambutan positif dari para santri. Salah satunya Rahma, santri kelas XII Pondok Pesantren Hamalatul Qur’an Putri.
Rahma mengaku senang mengikuti muroqobah lima juz dalam rangkaian peringatan Hari Santri. Baginya, kegiatan itu tidak terasa terlalu berat karena sudah menjadi bagian dari rutinitas di pesantren.
"Kalau saya rasanya senang, soalnya kalau di sini itu kan memang muroqobah lima juz sudah setiap hari, ya. Jadi memang pakai metode habituasi atau pembiasaan," kata Rahma.
Menurut Rahma, sistem pembiasaan yang diterapkan di pesantren membantu para santri menjaga hafalan secara konsisten. Kegiatan mengaji, muroqobah, dan setoran hafalan tetap menjadi bagian penting dalam keseharian mereka.
Ia menyadari bahwa cara pesantrennya memperingati Hari Santri mungkin berbeda dari sejumlah pondok pesantren lainnya. Namun, perbedaan itu justru memberikan pengalaman tersendiri karena kegiatan yang dilaksanakan berkaitan langsung dengan aktivitas utama mereka sebagai penghafal Al-Qur’an.
"Hari Santri tahun ini kita merayakannya agak sedikit berbeda dari teman-teman yang lain. Kita tetap muroqobah, tetap mengaji, tetap setoran, tetap aktif seperti hari-hari biasanya," ungkapnya.
Rahma juga berharap momentum Hari Santri dapat menjadi penyemangat bagi seluruh santri untuk terus memperbaiki dan menyelesaikan hafalan Al-Qur’an.
"Harapannya semoga hafalannya semakin lancar, teman-teman dipermudah dan cepat selesai. Yang sudah khatam semoga tetap istiqomah nderes," katanya.
Dalam tradisi pesantren, istilah nderes merujuk pada kegiatan membaca atau mengulang hafalan Al-Qur’an secara rutin agar tidak mudah terlupakan.
Menjaga Tradisi Mengaji sebagai Bentuk Perjuangan
Peringatan Hari Santri di Pondok Pesantren Hamalatul Qur’an Putri menunjukkan bahwa semangat kepesantrenan dapat diwujudkan melalui berbagai kegiatan, termasuk mempertahankan tradisi mengaji yang telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.
Melalui muroqobah lima juz dan khatmil Al-Qur’an, para santri tidak hanya memperingati Hari Santri Nasional, tetapi juga mengingat kembali tanggung jawab mereka dalam menjaga hafalan, memperdalam ilmu agama, dan mengamalkan nilai-nilai Al-Qur’an.
Bagi para santri Hamalatul Qur’an Putri, peringatan 22 Oktober tahun ini menjadi pengingat bahwa perjuangan seorang santri dapat terus berlangsung melalui ketekunan belajar, menjaga hafalan, dan membiasakan diri berakhlak baik dalam kehidupan sehari-hari.
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda