Oleh: Endhika Anjani Antaresty dan Az-Zahra Syifa Izzati
Catatan kecil untuk Kalimantan, tentang anak-anak, hutan, dan dua orangutan yang hanya ingin pulang.
Berapa harga yang harus dibayar setiap tahun agar anak-anak tetap dapat menghirup udara tanpa ketakutan?
Berapa harga sebatang pohon yang ditebang diam-diam, jika yang tumbang bukan hanya kayu, melainkan juga masa depan yang ingin mereka genggam kelak?
Dan berapa banyak penjelasan yang harus keluar dari mulut seorang ibu ketika mendengar pertanyaan sederhana dari anaknya:
“Ibu, kenapa langit tak lagi biru?”
Di Kalimantan, langit berkali-kali belajar menjadi kelabu.
Asap merambat dari rimba, menyusup ke rumah-rumah, sekolah, dan paru-paru yang masih terlalu kecil untuk memahami mengapa udara tiba-tiba berubah menjadi sesuatu yang menakutkan.
Api menjalar dari semak ke semak, dari lahan ke lahan. Sementara anak-anak menatap langit yang seharusnya biru, tetapi kini dipenuhi jelaga dan kabut kecemasan.
Anak-anak itu sesungguhnya tidak pernah meminta banyak.
Mereka mungkin hanya ingin berlari tanpa terbatuk, bermain tanpa sesak, dan tidur tanpa masker yang menutup rapat wajah mungil mereka. Mereka ingin mengenal hujan sebagai hujan, bukan sebagai harapan bahwa asap yang memenuhi udara akan segera reda.
Bukankah bermain dan berlari memang dunia mereka?
Mereka ingin melihat burung kembali ke dahan, bukan menyaksikan hutan berubah menjadi abu yang kehilangan arah dan rumah.
Lalu, berapa harga yang harus dibayar?
Apakah cukup dengan masker yang dibagikan ketika udara telah tercemar?
Apakah cukup dengan imbauan agar anak-anak tetap berada di rumah ketika sekolah seharusnya menjadi tempat mereka mengejar cita-cita?
Atau kita justru membiarkan mereka tetap bersekolah atas nama amanat pendidikan, meski udara yang mereka hirup sudah jauh dari layak?
Apakah semuanya cukup diselesaikan dengan angka-angka dalam laporan, konferensi pers, serta kalimat-kalimat gagah tentang penanggulangan bencana, sementara di balik semua itu paru-paru anak-anak tetap menjadi ruang paling sunyi yang menanggung akibat dari keserakahan?
Kita terlalu sering menghitung nilai kayu, tetapi lupa menghitung nilai udara.
Kita terlalu pandai menghitung luas lahan, tetapi gagap menghitung berapa banyak napas yang harus dipertaruhkan ketika asap memenuhi langit.
Ketika hutan terbakar, yang hangus bukan hanya batang dan ranting.
Yang ikut terbakar adalah hak anak-anak untuk tumbuh dengan udara yang layak, hak burung untuk kembali ke sarangnya, hak sungai untuk terus mengalir, dan hak manusia untuk menjalani hidup tanpa harus berdamai dengan asap yang datang berulang kali.
Betapa menyedihkan ketika anak-anak yang bahkan belum mampu mengeja kata eksploitasi harus lebih dulu belajar mengeja kata evakuasi.
Mereka yang belum memahami arti deforestasi justru lebih dahulu mengenal arti sesak napas melalui tubuh mereka sendiri.
Namun, apakah kita hanya akan melihat semua ini dari sudut pandang manusia?
Bagaimana dengan mereka yang tak mampu bersuara?
Raya dan Rayu, Dua Penghuni Hutan yang Kehilangan Rumah
Ada satu hal yang terkadang sulit dipahami: mengapa manusia begitu sering datang setelah semuanya terlambat.
Ketika hutan masih hijau, perhatian begitu mudah berpaling.
Ketika pohon-pohon masih berdiri, manusia sibuk menghitung berapa banyak yang dapat diambil.
Lalu api datang.
Dan setelah itu, manusia berdatangan membawa kamera, selimut, kandang, serta berita tentang penyelamatan.
Di tengah cerita itulah terdapat Raya dan Rayu.
Raya adalah induk orangutan yang ditemukan bersama anaknya, Rayu, ketika proses evakuasi berlangsung.
Pada 2 September 2026, keduanya ditemukan bertahan di atas pohon di kawasan Hutan Kota Sampit, Kalimantan Tengah, ketika wilayah tersebut terdampak kebakaran hutan dan lahan.
Raya diperkirakan berusia sekitar 20 tahun, sedangkan Rayu baru berumur sekitar satu tahun. Keduanya kemudian dievakuasi oleh tim BKSDA Kalimantan Tengah bersama Orangutan Foundation International.
Ada sesuatu yang begitu dekat dengan kehidupan manusia dalam kisah mereka.
Di tengah kepungan asap, Raya tidak mempunyai banyak pilihan untuk membawa Rayu pergi.
Ia tidak bisa menelepon pemadam kebakaran.
Ia tidak mampu meminta pertolongan.
Ia tidak bisa menunjuk siapa yang menyalakan api.
Ia hanya dapat bertahan sembari mendekap anaknya, menggunakan tubuhnya sendiri sebagai perlindungan terakhir.
Barangkali Rayu belum mengerti mengapa rumahnya berubah menjadi asap.
Barangkali ia belum memahami mengapa pohon-pohon yang selama ini menjadi tempat bermain tiba-tiba menjadi tempat berlindung dari ancaman yang seharusnya tidak pernah hadir.
Ia mungkin hanya mengetahui satu hal: ibunya masih ada.
Dan mungkin, pada saat itu, keberadaan sang ibu sudah cukup membuatnya bertahan.
Jangan Hanya Datang Setelah Semuanya Terbakar
Ironisnya, manusia yang merasa paling berkuasa atas hutan justru menjadi makhluk yang paling sering berkata bahwa hutan harus diselamatkan.
Kita menyelamatkan orangutan setelah habitatnya terbakar.
Kita membagikan masker setelah udara tercemar.
Kita mengevakuasi warga setelah asap memasuki permukiman.
Kita menanam pohon setelah hutan kehilangan sebagian dirinya.
Kemudian semua itu disebut sebagai penanganan.
Padahal, kisah Raya dan Rayu seharusnya tidak berhenti pada kalimat, “akhirnya diselamatkan”.
Ada pertanyaan yang jauh lebih penting:
“Siapa yang membakar hutan kami?”
Pertanyaan itu seharusnya tidak menguap bersama asap.
Kalimantan tidak membutuhkan belas kasihan yang baru datang ketika api sudah membesar.
Kalimantan membutuhkan keberanian untuk mencegah api sebelum membara. Membutuhkan hukum yang ditegakkan tanpa pandang bulu, pengawasan yang tidak tertidur ketika ancaman mulai muncul, serta kebijakan yang benar-benar menempatkan keselamatan manusia dan keberlangsungan ekosistem sebagai sesuatu yang diperhitungkan.
Sebab, apa gunanya pertumbuhan ekonomi jika udara untuk bernapas justru terasa semakin mahal?
Apa gunanya angka investasi meningkat jika kesehatan manusia dan keberlangsungan alam harus menjadi harganya?
Apa gunanya pembangunan disebut berhasil jika masyarakat terus menghitung berapa hari mereka harus menutup jendela karena asap kembali menghitamkan udara?
Mereka Hanya Ingin Pulang
Malam itu, mungkin Rayu tidur di tempat yang asing.
Ia mungkin masih mencari suara hutan yang selama ini dikenalnya.
Mungkin ia belum memahami mengapa ibunya terus mendekapnya lebih erat.
Sementara di tempat lain, manusia kembali menjalani kehidupan seperti biasa—menyalakan pendingin ruangan, membuka ponsel, bekerja, bercanda, dan sesekali mengeluhkan panasnya cuaca.
Lalu kita mungkin lupa bahwa jauh sebelum asap mencapai kota, ada makhluk-makhluk lain yang lebih dahulu kehilangan langit mereka.
Raya tidak meminta belas kasihan.
Rayu pun tidak meminta manusia merasa bersalah.
Dan barangkali anak-anak Kalimantan juga tidak ingin memahami apa itu “eksploitasi” sebelum mulut mereka cukup fasih untuk melafalkannya.
Mereka tidak meminta terlalu banyak.
Anak-anak ingin kembali melihat langit biru.
Raya ingin membawa anaknya kembali ke hutan.
Rayu ingin kembali mengenal pohon sebagai rumah, bukan sebagai tempat terakhir untuk berlindung dari api.
Mereka hanya ingin pulang.
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda