Lewati ke konten utama
Home About Us Redaksi Kirim Berita Media Kit
Pedoman
Kebijakan Cookie Pedoman Media Siber Publikasi Media Online Jasa Backlink Jasa Guest Post Penulisan Artikel Pembuatan Website Pedoman AI
ID | EN

Masuk / Gabung

Jelajahi

Beranda Internasional Nasional Daerah Featured Opini Pendidikan
More
Profil Advertorial Bisnis Press Release Essay English Version Ekonomi
Informasi
About Us Redaksi Kirim Berita Media Kit
Pedoman
Kebijakan Cookie Pedoman Media Siber Pedoman AI
Masuk / Gabung
Ikuti kami
EN ARTIKEL
Beranda Internasional Nasional Daerah Featured Opini Pendidikan
More
Profil Advertorial Bisnis Press Release Essay English Version Ekonomi

Terbaru

  1. Mendukung Sustainable Development Goals, Dosen UM Ungkap Faktor Risiko Kehamilan yang Perlu Diwaspadai

  2. Edukasi Video HIMA-CARE Tingkatkan Perilaku Higiene Menstruasi Mahasiswi Baru di Kota Malang

  3. Qatar Hubungi Turki, Yordania, Mesir dan Lebanon, Perkuat Diplomasi untuk Redam Ketegangan Timur Tengah

  4. Dari Instruksi ke Implementasi: Menguji Respons Kepemimpinan Presiden Prabowo dalam Penanganan Karhutla 2026

  5. Dari Teori ke Praktik, Mahasiswa Hukum UNTAG Surabaya Dalami Dunia Legal Perusahaan Melalui Magang

  1. Beranda
  2. Profil
  3. Mengenal Nanang Emoh, Lulusan Seni Teater yang Bawa Humor Jawa ke Media Sosial

Mengenal Nanang Emoh, Lulusan Seni Teater yang Bawa Humor Jawa ke Media Sosial

Foto profil Farhan Khumaini
Penulis: Farhan Khumaini
31 Agustus 2026, 01.35 WITA Editor: Annisa
7 menit baca
Nanang Emoh
Nanang Emoh dalam salah satu konten komedinya yang memanfaatkan suasana pedesaan dan hamparan hijau sebagai bagian dari ciri khas visualnya. (Foto: Dok. Nanang Emoh)

JurnalPost.com — Nama Nanang Emoh mulai dikenal lewat konten-konten komedi yang punya warna berbeda. Alih-alih mengandalkan latar mewah atau suasana perkotaan, ia justru membawa penontonnya ke dunia yang lebih sederhana: jalan desa, persawahan, rumah-rumah kampung, hingga cerita rakyat.

Di balik nama Nanang Emoh, ia memiliki nama asli Nanang Saputra. Pria kelahiran Lampung Selatan, 17 Maret 2002 itu merupakan kreator konten sekaligus seniman yang memiliki latar belakang pendidikan seni pertunjukan.

IKLAN

Konten Nanang banyak berangkat dari hal-hal yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Percintaan, keluarga, hubungan antarmanusia, budaya Jawa, hingga cerita rakyat kemudian dipertemukan dengan imajinasi dan humor absurd.

Kolaborasi Kampus dan Masyarakat
Baca Juga

Kolaborasi Kampus dan Masyarakat: PBSJ Unesa Hadirkan Pelatihan Macapat bagi Paguyuban Budi Luhur

Hasilnya menjadi dunia komedi yang sederhana, tetapi mudah dikenali.

Nanang mengatakan, kedekatan dengan kehidupan sehari-hari memang menjadi salah satu bagian penting dalam proses kreatifnya.

“Saya lebih senang mengangkat sesuatu yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Hal sederhana sebenarnya bisa menjadi cerita yang menarik ketika kita melihatnya dari sudut yang berbeda,” ujar Nanang Emoh kepada JurnalPost dalam wawancara melalui WhatsApp.

Dari Kata “Emoh” Jadi Identitas

Nama “Emoh” sendiri bukan sekadar nama panggung.

Mengenal Ali Haida
Baca Juga

Mengenal Ali Haidar, Kreator Game Asal Kediri yang Konsisten Membangun Karier dari Live Streaming

Dalam bahasa Jawa, emoh berarti kurang lebih “tidak mau”. Kata yang sangat sederhana itu kemudian berkembang menjadi bagian dari persona yang dibangun Nanang di media sosial.

Ungkapan seperti “emoh aku emoh” bahkan dapat berubah menjadi punchline, respons karakter, hingga ciri yang mudah dikenali penontonnya.

Nanang mengaku kata tersebut kemudian terasa cocok dengan karakter dan gaya humor yang ia bangun.

kawasan penginapan bernuansa pegunungan
Nanang Emoh saat berada di kawasan penginapan bernuansa pegunungan. Kreator konten ini dikenal lewat karakter komedi yang memadukan kehidupan sehari-hari, budaya Jawa, dan pendekatan seni peran. (Foto: Dok. Nanang Emoh)

“Awalnya memang dari kata ‘emoh’ dalam bahasa Jawa yang artinya tidak mau. Tapi semakin ke sini, kata itu seperti menjadi bagian dari karakter saya. Orang akhirnya mengenal saya juga lewat nama Nanang Emoh,” katanya.

Kisah Rian Nugroho
Baca Juga

Bermodal Cermin hingga Terbang ke Thailand, Perjalanan Cikibul Bangun Karier sebagai Kreator Gaming TikTok

Menurutnya, sebuah karakter tidak selalu harus dibangun dari sesuatu yang rumit. Sesuatu yang sederhana justru bisa mempunyai kekuatan ketika digunakan secara konsisten.

Dari satu kata tersebut, Nanang perlahan membangun persona, karakter, dan dunia ceritanya sendiri.

Lulusan Seni Teater ISI Yogyakarta

Di balik pembawaannya yang jenaka, Nanang mempunyai latar belakang pendidikan seni yang cukup kuat.

Ia merupakan lulusan S1 Seni Teater Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta.

Pengalaman belajar seni teater tersebut kemudian ikut memengaruhi caranya membuat konten. Nanang terbiasa mempelajari pembangunan karakter, gestur tubuh, ekspresi wajah, dialog, hingga bagaimana sebuah situasi dramatik bekerja di depan penonton.

“Latar belakang teater tentu sangat membantu. Di teater saya belajar karakter, ekspresi, gestur, dialog, sampai bagaimana membangun sebuah situasi. Ketika membuat konten, ilmu itu tetap saya gunakan, hanya medianya yang berbeda,” tutur Nanang.

Jika teater konvensional mempunyai panggung fisik, Nanang kini membawa sejumlah prinsip seni pertunjukan tersebut ke media sosial.

Kamera menjadi panggungnya.

Sementara penonton yang sebelumnya berada di depan panggung kini berada di balik layar ponsel.

Formatnya juga berubah. Cerita harus dikemas lebih cepat dan singkat tanpa kehilangan karakter maupun unsur hiburannya.

Humor Sederhana yang Dibawa Jadi Absurd

Salah satu ciri yang cukup menonjol dari konten Nanang adalah bagaimana sebuah kejadian sederhana dapat berubah menjadi situasi yang sama sekali tidak terduga.

Ia tak selalu membutuhkan premis rumit untuk menghasilkan komedi.

Percakapan sehari-hari, hubungan keluarga, kisah cinta, kehidupan masyarakat desa, sampai cerita rakyat bisa masuk ke dalam dunianya.

Dari sana, realitas dan imajinasi kemudian dipertemukan.

“Saya suka mengambil hal yang sebenarnya biasa, kemudian dikembangkan menjadi situasi yang tidak biasa. Dari situ biasanya muncul bagian lucunya. Kadang justru sesuatu yang sederhana lebih mudah diterima penonton,” ungkap Nanang.

Pendekatan tersebut membuat kontennya terasa familiar sekaligus mempunyai unsur kejutan.

Penonton mengenali situasinya, tetapi belum tentu bisa menebak ke mana ceritanya akan dibawa.

Sawah dan Desa Bukan Sekadar Latar

Persawahan dan kehidupan pedesaan menjadi bagian lain yang sulit dipisahkan dari karakter visual Nanang Emoh.

Sawah, jalan kampung, rumah sederhana, pepohonan, dan lingkungan hijau berulang kali muncul dalam kontennya.

Bagi Nanang, lokasi-lokasi tersebut bukan sekadar tempat untuk merekam video.

Lingkungan itu justru menjadi bagian dari cerita.

IKLAN

“Saya tidak merasa harus menggunakan tempat yang mewah untuk membuat cerita. Lingkungan desa, sawah, jalan, atau hal-hal yang ada di sekitar kita justru punya karakter sendiri. Saya ingin kesederhanaan itu tetap terasa dalam konten,” katanya.

Pilihan tersebut juga menjadi pembeda ketika banyak konten digital lebih sering menampilkan kehidupan perkotaan dengan visual yang serba modern.

Nanang justru menjadikan lingkungan sederhana sebagai bagian dari estetika karyanya.

Ada Kakang dan Cantik

Selain membangun persona Nanang Emoh, ia juga menghadirkan sejumlah karakter dalam dunia ceritanya.

Di antaranya terdapat tokoh Kakang dan Cantik.

Karakter-karakter tersebut dapat muncul dalam berbagai situasi. Kadang dalam cerita percintaan, parodi, kehidupan sehari-hari, sampai kisah yang mengambil inspirasi dari cerita rakyat.

Di sinilah pengalaman Nanang dalam seni peran terasa cukup kuat.

Sebuah karakter tidak hanya dibuat untuk satu video, melainkan dapat terus dikembangkan dan dibawa memasuki cerita lainnya.

Penonton akhirnya bukan hanya mengenali Nanang Emoh sebagai kreator, tetapi juga mulai mengenal tokoh-tokoh yang hidup di dalam dunia ceritanya.

Cerita Rakyat Dibawa ke Generasi Digital

Cerita rakyat dan budaya juga sering menjadi sumber inspirasi Nanang.

Namun alih-alih menyampaikannya layaknya materi pelajaran, ia memilih pendekatan yang lebih santai.

Cerita yang telah dikenal masyarakat dapat diparodikan, dikembangkan, atau dipertemukan dengan situasi masa kini.

“Budaya dan cerita rakyat menurut saya bisa dibawakan dengan banyak cara. Tidak harus selalu serius. Dengan humor, ceritanya bisa terasa lebih ringan dan mungkin lebih mudah diterima anak muda,” ujar Nanang.

Bahasa Jawa kemudian ikut memperkuat dunia tersebut.

Bahasa tidak hanya berfungsi sebagai alat komunikasi, melainkan juga menjadi elemen pembentuk humor, karakter, dan suasana.

Kamera Jadi Panggung Baru

Bagi Nanang, membuat konten bukan semata-mata soal merekam sesuatu yang lucu lalu mengunggahnya ke media sosial.

Ada proses seni pertunjukan yang tetap berjalan di belakang kamera.

Mulai dari menentukan karakter, mengembangkan cerita, memilih dialog, mengolah ekspresi hingga menentukan bagaimana sebuah adegan harus dimainkan.

“Kalau di teater kita punya panggung dan penonton berada langsung di depan kita, sekarang kameranya yang menjadi panggung. Prinsip bercerita dan bermain karakter tetap ada, hanya cara menyampaikannya yang berubah,” jelasnya.

Media sosial pada akhirnya membuka ruang pertunjukan baru.

Sebuah karakter tidak lagi harus menunggu pertunjukan di gedung teater untuk bertemu penonton. Ia dapat hadir kapan saja melalui video pendek di layar ponsel.

Tetap Memilih Kesederhanaan

Di tengah perkembangan tren konten yang begitu cepat, Nanang memilih mempertahankan elemen yang sudah menjadi identitasnya.

Bahasa Jawa, kehidupan desa, persawahan, permainan karakter, ekspresi tubuh hingga humor sehari-hari tetap menjadi bagian penting dari karyanya.

Ia tidak merasa harus meninggalkan kesederhanaan tersebut agar terlihat lebih modern.

Sebaliknya, dari sanalah karakter Nanang Emoh justru tumbuh.

“Saya ingin tetap membuat karya dengan karakter saya sendiri. Selama masih ada cerita yang bisa dikembangkan dari kehidupan sekitar, budaya, dan imajinasi, saya rasa selalu ada sesuatu yang bisa diceritakan,” pungkas Nanang.

Pada akhirnya, Nanang Emoh menjadi pertemuan antara seni teater, komedi, budaya Jawa, dan kehidupan sehari-hari.

Dari sebuah kata sederhana, emoh, lahirlah sebuah persona.

Dari lingkungan sederhana, lahirlah dunia cerita.

Dan dari panggung teater, Nanang menemukan panggung baru yang kini berada di layar jutaan pengguna media sosial.

ENGLISH VERSION Artikel tersedia dalam Bahasa Inggris
Read in English →

Sumber artikel: https://jurnalpost.kolomopini.com/mengenal-nanang-emoh-kreator-konten-berlatar-seni-teater/97507/

Dicetak dari JurnalPost.com pada 03 November 2026, 20.11 WITA

  • #Budaya Jawa
  • #Cerita Rakyat
  • #ISI Yogyakarta
  • #Komedi Jawa
  • #Kreator Konten
  • #Nanang Emoh
  • #Seni Teater

Bagikan artikel

Bagikan Mengirim Tweet
JURNALPOST SOCIAL PUBLISHER

Posting ke Instagram

Menyiapkan 5 slide Reel 9:16…

Rangkaian slide vertikal sedang disusun dari artikel ini.

Konten belum dapat disiapkan.

Silakan coba kembali.

Pratinjau slide Instagram JurnalPost 1/5
REEL 9:16 · 5 SLIDE

Konten JurnalPost

Lima slide vertikal sudah disusun dalam area aman Reels. Tambahkan musik pilihan Anda setelah masuk ke Instagram.

Menyiapkan lima file gambar 9:16…

Di menu Instagram, pilih Reel, pertahankan urutan 1–5, lalu tambahkan musik yang tersedia di Instagram.

JURNALPOST SOCIAL PUBLISHER

Posting ke TikTok

Menyiapkan 5 slide TikTok 9:16…

Desain Social Publisher sedang disusun dari artikel ini.

Konten TikTok belum dapat disiapkan.

Silakan coba kembali.

Pratinjau slide TikTok JurnalPost 1/5
TIKTOK 9:16 · 5 SLIDE

Konten JurnalPost

Lima slide vertikal sudah disusun: sampul, inti berita, fakta utama, perkembangan, dan baca lengkap.

Menyiapkan lima file gambar 9:16…

Di menu berbagi, pilih TikTok, pertahankan urutan 1–5, lalu tambahkan musik atau suara di aplikasi. Jika TikTok tidak muncul, gunakan unduh manual.

Komentar 1

Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda

Komentar akan tampil setelah disetujui redaksi.

  1. R
    Rina Maharani 31 Agustus 2026 02.09 WITA
    Keren kak"s semangat dalam berkarya

Artikel Terkait

Kenalan dengan MING VENUS dan HENYM VENUS, Dua Kreator Musik Surabaya yang Punya Cerita di Balik Karyanya

Berawal dari 2 Ribu Followers, Jefferson Sukses Tembus 120 Ribu Pengikut TikTok dalam Setahun

Lagu “Bersatu” dari Baguskhare Berhasil Tembus Ribuan Pemutaran di Jerman

Zia Maulidin, Kreator Aceh di Balik @xxgirls02 yang Punya 6 Juta Followers

REKOMENDASI JURNALPOST

Pilihan Untukmu

Dari Daun Kelor Menjadi Snackbar Bergizi, FK UPN “Veteran” Jakarta Ajak Masyarakat Kelurahan Pangkalan Jati Baru Perkuat Upaya Pencegahan Stunting

Mendukung Sustainable Development Goals, Dosen UM Ungkap Faktor Risiko Kehamilan yang Perlu Diwaspadai

UPN Veteran Jawa Timur Dampingi Pemerintah Desa Segorotambak Sidoarjo Perkuat Tertib Administrasi dan Pelayanan Publik

Beli Mainan Anak di Bojonegoro Kini Bisa Bayar Pakai QRIS BRI

Pilihan Editor

  1. 1 UMKM Bojonegoro Manfaatkan BRImo dan QRIS BRI untuk Permudah Transaksi, Berhasil Kumpulkan Tabungan Puluhan Juta
  2. 2

    Penelitian di Cilacap Ungkap 93,94 Persen Pasien Gangguan Jiwa Patuh Minum Obat, Dukungan Keluarga Jadi Perhatian

  3. 3

    Guru yang Terus Mengajar, Siapa yang Menjaga Semangatnya? Menelaah Motivasi Kerja di Institusi Pendidikan

  4. 4

    Parkir Liar di Pinggir Jalan: Menjadi Kebiasaan atau Justru Sudah Menjadi Pola Hidup Masyarakat?

  5. 5

    Benturan Kertas dan Layar: Saat Protokol Notaris Terjebak di Pusaran Legal Deadlock Digital

IKLAN
JurnalPost

Media Publikasi Indonesia yang menyediakan informasi terkini. Situs ini didirikan pada tahun 2015 dan telah menjadi salah satu sumber berita yang populer di Indonesia.

Jelajahi

Advertorial Artikel Berita Bisnis Citizen Reporter Daerah Ekonomi English Version Essay Featured
Hukum Internasional Kolom Opini Nasional Olahraga Pendidikan Politik Profil Teknologi Wisata

Kanal

About Us Jurnalisme Warga Kebijakan Cookie Kebijakan Data Kirim Opini Kirim Tulisan Media Kit Pedoman Redaksi

Ikuti kami di

Facebook X/Twitter Instagram Threads TikTok Pinterest LinkedIn YouTube
© 2026 - PT Jurnal Post Indonesia. All Rights Reserved.