Rasau Jaya, JurnalPost.com — Penguatan kapasitas masyarakat dan kelembagaan desa menjadi salah satu bagian penting dalam pembangunan yang berkelanjutan. Upaya tersebut dilakukan Tim Ekspedisi Patriot Universitas Indonesia (TEP UI) melalui Pelatihan Tahap II di Kecamatan Rasau Jaya, Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat, Senin (22/9/2026).
Pelatihan kali ini berfokus pada penguatan tata kelola administrasi serta penyusunan laporan kegiatan dan keuangan. Pesertanya berasal dari berbagai unsur, mulai dari aparatur kecamatan, perangkat desa, hingga pengurus kelembagaan ekonomi masyarakat.
Sejumlah lembaga yang mengikuti kegiatan tersebut antara lain Badan Usaha Milik Desa (BUMDes), Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan), Koperasi Desa Merah Putih (KDMP), Kelompok Wanita Tani (KWT), serta pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM).
Kegiatan tersebut merupakan bagian dari rangkaian pendampingan yang dilakukan TEP UI di Kawasan Transmigrasi Rasau Jaya.
Sebelumnya, tim juga telah menggelar pelatihan mengenai pelayanan prima serta digitalisasi dan promosi potensi desa. Pemanfaatan teknologi mulai dikenalkan kepada masyarakat melalui praktik penggunaan Google Form untuk pendataan masyarakat, pemetaan potensi desa, penyampaian aspirasi, hingga mendukung promosi dan pemasaran produk lokal.
Fokus pada Administrasi dan Pelaporan
Pada Pelatihan Tahap II, peserta diarahkan untuk memahami pentingnya tata kelola administrasi dan pelaporan yang tertib agar kegiatan pemerintahan desa maupun kelembagaan ekonomi masyarakat dapat berjalan lebih transparan dan mudah dipertanggungjawabkan.
Materi tidak hanya diberikan dalam bentuk teori. Peserta juga mengikuti praktik langsung dalam menata berbagai dokumen administrasi secara digital.
Dokumen tersebut meliputi surat undangan, daftar hadir, dokumentasi kegiatan, nota dan kuitansi, hingga laporan kegiatan dan laporan keuangan.
Peserta turut diperkenalkan dengan sistem penyimpanan arsip yang lebih terstruktur, baik dalam bentuk dokumen fisik maupun digital. Penataan tersebut diharapkan dapat membantu aparatur maupun pengurus lembaga menemukan kembali dokumen dengan lebih cepat ketika diperlukan.
Dalam materi pengelolaan keuangan, peserta diberikan pemahaman mengenai pentingnya memisahkan keuangan pribadi dengan keuangan organisasi.
Setiap nota dan kuitansi juga disarankan memiliki nomor yang jelas, sementara seluruh transaksi penerimaan maupun pengeluaran perlu dicatat secara rutin.
Peserta kemudian mempraktikkan pengisian buku kas, menghitung saldo berjalan, serta memeriksa kelengkapan dokumen administrasi pada masing-masing lembaga.
Melalui pendekatan berbasis praktik tersebut, administrasi diharapkan tidak lagi dipahami hanya sebagai kewajiban pencatatan, tetapi menjadi bagian penting dalam membangun organisasi yang tertib, transparan, dan akuntabel.
Kepala Desa Rasau Jaya Dua Dorong Pendampingan Berkelanjutan
Kepala Desa Rasau Jaya Dua, Budiono, mengapresiasi penyelenggaraan pelatihan tersebut.
Ia berharap kegiatan tidak berhenti pada pemberian materi, tetapi dapat dilanjutkan dengan proses pendampingan langsung kepada pemerintah desa maupun kelembagaan masyarakat.
“Terima kasih atas pelatihan hari ini karena saya merasa senang sekali dengan ilmu dan sharing yang didapatkan karena begitu penting. Semoga pelatihan ini terus berkelanjutan agar kita dapat lebih baik dan maju desanya. Setelah ini mohon dibantu untuk pendampingannya,” ujar Budiono.
Setelah pelatihan, TEP UI dijadwalkan melanjutkan pendampingan ke kantor desa dan sekretariat berbagai kelembagaan ekonomi masyarakat.
Pendampingan akan difokuskan pada pembukuan kas harian, pengelolaan arsip digital, serta penyusunan laporan kegiatan dan laporan keuangan.
Program tersebut sekaligus menjadi kelanjutan dari proses digitalisasi yang mulai diterapkan sejak Agustus 2026.
Membangun Berdasarkan Kebutuhan Masyarakat
Ketua Tim Ekspedisi Patriot UI 2026 Kawasan Transmigrasi Rasau Jaya, Siti Fatimah, M.Pd., CertDA., mengatakan kehadiran tim di Rasau Jaya bukan sebatas menjalankan program.

Menurutnya, kegiatan tersebut menjadi kesempatan bagi tim untuk belajar secara langsung bersama masyarakat sekaligus memberikan kontribusi berdasarkan kondisi dan kebutuhan nyata di lapangan.
Semangat tersebut juga sejalan dengan pesan Menteri Transmigrasi Republik Indonesia, Iftitah Sulaiman, kepada Tim Ekspedisi Patriot.
“Kalau adik-adik tidak hadir di setiap sudut Indonesia, orang lain yang akan hadir. Bila kita mampu mengelola talenta bangsa dengan baik, saya yakin Indonesia akan menjadi negara maju yang dibangun oleh putra-putri terbaiknya sendiri,” pesan Menteri Iftitah.
Bagi TEP UI, pesan itu menjadi pengingat mengenai pentingnya kehadiran langsung di tengah masyarakat untuk memahami persoalan sekaligus mengenali potensi yang dimiliki setiap wilayah.
“Sejalan dengan pesan Bapak Menteri, kami Tim Ekspedisi Patriot berterima kasih karena diberi kesempatan oleh negara kita tercinta untuk melihat langsung kondisi di lapangan, belajar bersama masyarakat, dan mendapatkan kesempatan untuk berkontribusi secara langsung di tengah masyarakat,” kata Siti Fatimah.
Ia menjelaskan, proses pendampingan yang dilakukan tim selalu diawali dengan pemetaan persoalan dan potensi masyarakat.
Hasil pemetaan tersebut kemudian menjadi dasar dalam menentukan bentuk pelatihan dan pendampingan yang dibutuhkan.
“Kami ingin hadir dengan pemahaman yang utuh terhadap kondisi masyarakat, bukan sekadar menjalankan program. Bagi kami, membangun bangsa adalah sebuah ikhtiar bersama yang dimulai dari tempat kita berada, termasuk dari desa,” ujarnya.
“Karena itu, kami memulai dari pemetaan masalah dan potensi, kemudian dilanjutkan dengan penguatan pelayanan prima, digitalisasi dan promosi potensi desa, serta tata kelola administrasi dan pelaporan,” lanjutnya.
Dorong Kemandirian Kelembagaan Desa
Menurut Siti, penguatan kapasitas sumber daya manusia dan kelembagaan merupakan bagian penting dalam mendukung kemandirian masyarakat.
Administrasi yang tertib, laporan keuangan yang transparan, pelayanan yang baik, serta pemanfaatan teknologi secara tepat dinilai dapat menjadi fondasi dalam pengelolaan potensi ekonomi desa secara lebih profesional dan berkelanjutan.
“Harapannya, apa yang kami lakukan bersama masyarakat tidak berhenti sebagai kegiatan pelatihan, tetapi dapat menjadi proses belajar bersama yang memberikan manfaat nyata dan dapat terus dilanjutkan oleh masyarakat setelah Tim Ekspedisi Patriot selesai melaksanakan tugasnya,” kata Siti.
Ke depan, TEP UI akan terus membangun sinergi bersama pemerintah daerah, pemerintah desa, kelembagaan ekonomi masyarakat, serta berbagai pemangku kepentingan lainnya.
Pendampingan diarahkan untuk meningkatkan kapasitas masyarakat sekaligus mendorong pemanfaatan potensi ekonomi lokal di Kawasan Transmigrasi Rasau Jaya agar dapat dikelola secara mandiri, profesional, dan berkelanjutan.
Pelatihan Tahap II tersebut menjadi salah satu bagian dari kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah, dan masyarakat dalam memperkuat sumber daya manusia, kelembagaan, tata kelola, serta potensi ekonomi dari tingkat desa.
Apresiasi untuk Anggota Tim di Lapangan
Pada penghujung kegiatan, Siti Fatimah juga memberikan apresiasi kepada anggota tim yang selama empat bulan menjalankan tugas secara penuh waktu di lokasi penugasan.
Ia menyampaikan penghargaan kepada Ranum Wanudya Yunas, Bani Mukti, Sela Viviyani, Sri Indriani, dan Adia Reza Khaleda sebagai anggota TEP UI.
Apresiasi juga diberikan kepada Fahmi, anggota TEP UI tahun 2025 yang pada tahun ini kembali terlibat membantu sebagai petugas lapangan.
Menurut Siti, keberadaan anggota tim yang setiap hari berada di tengah masyarakat menjadi bagian penting dari pelaksanaan Ekspedisi Patriot.
Selain menjalankan pemetaan dan pendampingan, mereka turut membangun komunikasi dengan masyarakat serta menghadapi secara langsung berbagai dinamika di lapangan, termasuk kondisi kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan atau karhutla yang terjadi di wilayah sekitar.
“Saya ingin menyampaikan terima kasih kepada enam anggota tim yang selama empat bulan ini berada di lokus, turun langsung dan berinteraksi dengan masyarakat. Mereka adalah Ranum, Bani, Sela, Sri, Adia, serta Fahmi yang merupakan anggota TEP tahun 2025 dan tahun ini ikut membantu sebagai petugas lapangan sehingga semakin memperkuat tim kami,” ujar Siti.
Sebagai dosen sekaligus ketua tim, Siti menjelaskan bahwa dirinya melakukan kunjungan ke lokasi penugasan secara berkala. Sementara itu, anggota tim berada di lapangan secara penuh selama masa penugasan.
“Saya sebagai dosen dan ketua tim melakukan kunjungan ke lokus secara berkala, sekitar satu kali dalam sebulan dan biasanya selama satu minggu. Sementara teman-teman anggota tim hadir di sini selama empat bulan,” jelasnya.
“Mereka yang setiap hari berhadapan langsung dengan masyarakat, mendengar persoalan, melihat potensi, sekaligus menghadapi berbagai tantangan yang ada di lapangan,” tambahnya.
Siti juga mengajak seluruh pemangku kepentingan di Kecamatan Rasau Jaya untuk terus memberikan dukungan kepada anggota tim hingga seluruh proses pendampingan selesai.
“Saya mohon Bapak dan Ibu sekalian dapat membantu dan mendukung teman-teman kami selama berada di sini. Terima kasih atas kerja sama, bantuan, dan penerimaan yang sudah diberikan selama ini. Kita masih akan bersama-sama menjalankan proses pendampingan untuk kurang lebih dua bulan ke depan,” ungkapnya.
Menurut Siti, pembangunan tidak dapat dilakukan oleh satu pihak saja. Dibutuhkan kerja bersama, kehadiran, komunikasi, dan komitmen dari berbagai unsur.
Semangat tersebut menjadi bagian dari ikhtiar TEP UI untuk terus belajar bersama masyarakat sekaligus memberikan kontribusi nyata bagi pembangunan desa di Kawasan Transmigrasi Rasau Jaya.
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda