CIBUBUR, JurnalPost.com — Sebanyak 750 warga SMP Labschool Cibubur mengikuti sosialisasi penanggulangan bencana dan latihan kesiapsiagaan gempa bumi pada Jumat (9/10/2026). Kegiatan yang bekerja sama dengan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) ini bertujuan meningkatkan pemahaman serta kemampuan warga sekolah dalam menghadapi situasi darurat.
Ratusan peserta tersebut terdiri atas siswa, guru, tenaga kependidikan, dan perwakilan orang tua yang tergabung dalam Pengurus Persatuan Orang Tua Murid dan Guru (POMG) SMP Labschool Cibubur.
Melalui kegiatan ini, sekolah berupaya membangun budaya sadar bencana agar seluruh warga sekolah tidak hanya memahami risiko, tetapi juga mengetahui langkah yang perlu dilakukan ketika terjadi gempa bumi.
Sosialisasi menghadirkan Tasril Mulyadi, fasilitator BNPB, yang memberikan pembekalan mengenai kesiapsiagaan menghadapi gempa bumi, mulai dari upaya pengurangan risiko, perlindungan diri, hingga prosedur evakuasi menuju titik kumpul yang aman.
Kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya sekolah memperkuat sistem keselamatan sekaligus membiasakan siswa untuk tetap tenang, disiplin, dan mampu bekerja sama ketika menghadapi keadaan darurat.
Siswa Dilatih Menghadapi Situasi Darurat
Indonesia memiliki tingkat kerawanan gempa bumi yang tinggi karena berada di kawasan pertemuan sejumlah lempeng tektonik aktif. Kondisi geografis tersebut menjadikan pendidikan kebencanaan penting untuk diperkenalkan sejak usia sekolah.
Dalam sosialisasi dan latihan kesiapsiagaan ini, peserta mendapatkan pemahaman mengenai potensi bahaya di lingkungan sekolah serta tindakan perlindungan diri yang perlu dilakukan sebelum, saat, dan setelah gempa bumi.
Materi yang diberikan juga mencakup pengenalan jalur evakuasi, prosedur penyelamatan diri, serta pentingnya mengikuti arahan petugas dalam situasi darurat.
Melalui latihan langsung, siswa diharapkan terbiasa merespons kondisi darurat secara terarah tanpa mengabaikan keselamatan diri maupun orang lain.

Kegiatan tersebut sekaligus menjadi sarana pembelajaran mengenai kedisiplinan dan tanggung jawab. Sebab, proses evakuasi tidak hanya membutuhkan kecepatan, tetapi juga koordinasi yang baik agar tidak menimbulkan risiko tambahan.
Kehadiran BNPB melalui Direktorat Kesiapsiagaan Bencana turut memperkuat upaya sekolah dalam mengenalkan pendidikan mitigasi bencana sebagai bagian dari aktivitas pembelajaran.
Kepala Sekolah: Kesiapsiagaan Harus Menjadi Budaya
Kepala SMP Labschool Cibubur, Mokahamad Taufiq, M.Pd., mengatakan keselamatan siswa merupakan salah satu tanggung jawab utama sekolah yang harus mendapat perhatian selain pencapaian akademik.
Menurutnya, pendidikan yang berkualitas perlu didukung lingkungan belajar yang aman serta warga sekolah yang memiliki kemampuan menghadapi berbagai potensi keadaan darurat.
“Sekolah tidak cukup hanya mempersiapkan peserta didik agar unggul secara akademik. Sekolah juga memiliki tanggung jawab untuk membekali mereka dengan pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang dapat melindungi dirinya serta orang lain ketika menghadapi situasi darurat. Melalui kerja sama dengan BNPB, kami ingin membangun kesadaran bahwa kesiapsiagaan bencana bukan sekadar kegiatan seremonial, melainkan harus menjadi budaya yang melekat dalam kehidupan sehari-hari seluruh warga sekolah,” ujar Taufiq.
Ia menjelaskan bahwa pembentukan budaya sadar bencana juga berkaitan dengan pendidikan karakter, khususnya dalam membangun kedisiplinan, kepedulian, tanggung jawab, dan kemampuan mengambil keputusan.
Karena itu, latihan kesiapsiagaan diharapkan tidak berhenti pada kegiatan sosialisasi, tetapi dilanjutkan dengan pembiasaan serta evaluasi prosedur keselamatan secara berkala.
“Kami berharap setelah mengikuti kegiatan ini, seluruh warga SMP Labschool Cibubur tidak hanya mengetahui apa yang harus dilakukan ketika terjadi gempa bumi, tetapi juga mampu bertindak secara tenang, terarah, dan bertanggung jawab. Keselamatan merupakan fondasi penting bagi terselenggaranya pendidikan yang berkualitas. Sekolah yang unggul harus sekaligus menjadi sekolah yang aman dan tangguh terhadap bencana,” katanya.
POMG Dorong Pendidikan Kebencanaan Dilanjutkan di Rumah
Dukungan terhadap program tersebut juga disampaikan Ketua POMG SMP Labschool Cibubur, Andina Yunita Dewi, S.T.
Menurut Andina, pendidikan kebencanaan perlu melibatkan orang tua karena pemahaman tentang keselamatan tidak hanya dibutuhkan anak ketika berada di lingkungan sekolah, tetapi juga dalam kehidupan sehari-hari.

“Sebagai orang tua, tentu harapan terbesar kami adalah anak-anak dapat belajar dalam lingkungan yang aman dan terlindungi. Kami sangat mengapresiasi inisiatif SMP Labschool Cibubur yang tidak hanya berfokus pada peningkatan kualitas akademik, tetapi juga memberikan perhatian serius terhadap aspek keselamatan dan kesiapsiagaan bencana,” ujarnya.
Andina berharap materi yang diterima siswa selama kegiatan dapat diperkuat melalui komunikasi dan pembiasaan bersama keluarga.
Dengan demikian, anak-anak diharapkan semakin memahami langkah yang perlu dilakukan ketika menghadapi situasi darurat, baik di sekolah maupun di rumah.
“Pendidikan kesiapsiagaan bencana seharusnya menjadi bagian dari budaya keluarga. Apa yang dipelajari anak-anak di sekolah perlu diperkuat di rumah agar mereka tumbuh menjadi pribadi yang tanggap, tidak mudah panik, serta memiliki kepedulian terhadap keselamatan sesama. POMG mendukung kolaborasi positif seperti ini karena keselamatan anak-anak merupakan tanggung jawab bersama antara sekolah dan orang tua,” jelasnya.
Ketua OSIS: Tetap Tenang dan Peduli terhadap Sesama
Bagi peserta didik, kegiatan ini memberikan pengalaman langsung untuk memahami pentingnya kesiapan menghadapi bencana.

Ketua OSIS SMP Labschool Cibubur, Hanna Ameera, mengatakan latihan tersebut membuat siswa semakin menyadari bahwa pengetahuan tentang gempa bumi harus diikuti kemampuan untuk mengambil tindakan yang tepat.
“Sebagai siswa, kami sering mendengar tentang gempa bumi melalui berita atau pelajaran di kelas. Namun, melalui kegiatan ini kami diajak memahami bahwa pengetahuan saja tidak cukup. Kami juga harus tahu bagaimana melindungi diri, mengikuti arahan, dan membantu menjaga ketertiban ketika situasi darurat terjadi,” ungkap Hanna.
Menurutnya, latihan kesiapsiagaan juga mengajarkan pentingnya solidaritas. Dalam keadaan darurat, setiap orang perlu menjaga ketenangan dan memperhatikan keselamatan bersama.
“Kami belajar bahwa kesiapsiagaan bukan tentang siapa yang paling cepat menyelamatkan diri, melainkan bagaimana setiap orang bisa tetap tenang, disiplin, dan peduli terhadap keselamatan bersama. Sebagai pengurus OSIS, kami ingin mengajak teman-teman untuk menjadikan sikap tanggap bencana sebagai bagian dari kebiasaan positif di sekolah,” tambahnya.
Menuju Satuan Pendidikan Aman Bencana
Kerja sama SMP Labschool Cibubur dengan BNPB juga menjadi bagian dari upaya sekolah memperkuat kesiapsiagaan menuju penerapan program Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB).
Program tersebut menempatkan keselamatan warga sekolah, pengurangan risiko bencana, kesiapan menghadapi keadaan darurat, serta keberlangsungan layanan pendidikan sebagai aspek penting dalam pengelolaan satuan pendidikan.
SMP Labschool Cibubur berencana terus memperkuat edukasi kebencanaan, mengevaluasi kesiapan sarana dan jalur evakuasi, serta mendorong keterlibatan seluruh warga sekolah dalam kegiatan keselamatan.
Latihan secara berkala dinilai penting agar pengetahuan dan keterampilan yang telah diperoleh dapat terus diterapkan ketika dibutuhkan.
Melalui kolaborasi dengan BNPB, sekolah berharap siswa, guru, tenaga kependidikan, dan orang tua memiliki pemahaman yang sama mengenai pentingnya kesiapsiagaan bencana.
Dengan demikian, upaya menciptakan sekolah yang aman tidak hanya diwujudkan melalui penyediaan fasilitas, tetapi juga melalui kesiapan seluruh warga sekolah untuk bertindak cepat, tepat, dan saling melindungi ketika menghadapi situasi darurat.
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda